Wednesday, November 2, 2016

Mixed Review: My Skincare Revolution

"Mukamu kok putihan?" begitu komentar takjub seseorang suatu pagi.
Apa? Putihan?
"Ehh, bukan putih sih," komentar di atas buru-buru diralat (semacam gak rela), "Tapi bersihan, lebih cerah, kelihatan cling."

Awwww, akhirnya.....
Padahal saya sedang tidak pakai apa-apa, wong masih pagi. It was completely bare face. Orang yang komen pun adalah orang yang paling susah dibikin percaya bahwa istrinya ini bisa dibikin bening wahahaa. So cihuyyy, akhirnya muncul juga pertanda bahwa penasaran saya mengenai the-right-skincare-for-my-skin mulai terjawab. Mengingat saya mulai rajin berskincare ria baru sekitar 6 mingguan, hasilnya lumayan jauh lebih cepat dari perkiraan. Saya sebelumnya memperkirakan hasilnya baru bisa dilihat setelah tiga bulan. Dan jujur, saya kira saya bakalan tidak mendapat hasil apa-apa (seperti yang sudah-sudah) setelah tiga bulan nanti dan bersiap-siap untuk mutung lagi hahaha.

Girl Pic Source

Memang sih, kadang kalau gak sengaja lewat cermin, saya suka merasa muka agak cerahan dan glowing dibanding biasanya. Beberapa noda hitam mulai tersamarkan, meski di bawah pencahayaan tertentu masih suka kelihatan. Dan perbedaan yang paaaling nyata saya rasakan adalah tekstur kulit jika diraba. Rasanya halus, bersih, dan selalu lembab. Pakai produk apapun jadi hemat, karena cuma seuprit aja udah bisa rata semuka. Saya jadi demen banget pegang-pegang muka.

Terus terang, saya belum lama rajin merawat muka. Literally rajin ya, bener-bener berusaha melakukannya pagi dan malam, bukan sekedar angin-anginan seperti sebelumnya. Saya mendadak jadi rajin berskincare ria sebetulnya gara-gara lihat tumpukan ini. Motivasi mata sepet akibat ngeliat onggokan skincare ternyata lebih kuat daripada cita-cita pengen kinclong wahahaha..... Saya pasang target supaya biar cepat habis (gak dilego karena males nunggu pembeli), eh malah dapet manfaat lebih yang gak disangka-sangka.

Perubahan gaya perawatan muka saya ini relatif revolusioner dengan hasil yang terlihat cukup signifikan. Dulunya gak tau apa-apa, suka pakai produk tanpa paham fungsi dan caranya sehingga berakibat skeptis dan jadi males-malesan, lalu mendadak menemukan produk yang mengubah segalanya. Sedikit demi sedikit saya pun mulai tercerahkan dan jadi tahu jodoh yang terbaik untuk kulit saya. Pengalaman ini membuat saya bersemangat menyusun tulisan mengenai revolusi skincare saya. Setelah lama dicicil di draft, akhirnya bisa publish juga, fiuhh. What a long post! Harapan saya, siapa tahu ada cuilan informasi yang bisa bermanfaat bagi yang kebetulan membaca postingan ini :)

Facial Wash Revolution
Saya sudah membuktikan betapa badaknya kulit muka saya. Selama bertahun-tahun dihajar sabun mandi batangan dan sabun mandi cair konvensional, dia baik-baik saja tuh. Yah setidaknya, secara kasat mata, kulit saya relatif bersih dan tidak banyak problem. Jerawat muncul satu-dua sesekali menjelang masa menstruasi sih saya anggap termasuk relatif wajar.
Saya masih berpikir saya berada di jalan yang benar sampai suatu hari saya membeli satu set perawatan dasar Hada Labo Shirojyun yang versi Rohto Indonesia. Isinya face wash, lotion, dan milk. Tergiur juga sama review banyak orang yang katanya bisa bikin kulit moist, menul-menul kaya mochi. Sayangnya lotionnya kepegang anak saya, dibuat mainan sampai habis padahal masih penuh. Apes bener. Karena sebel, milk-nya saya hibahkan sekalian ke orang lain, tinggal face washnya doang.

Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening Face Wash
It's my 3rd tube
Singkat cerita, saya membaca benar-benar petunjuk di tube face washnya dan mengikutinya dengan patuh dan khidmat (karena merasa ini dari Jepang, produknya pasti keren, mestinya manualnya juga spesial haha) *masih mental bangsa negara terjajah :p* Maka, untuk pertama kalinya, saya cuci muka dengan cara yang berbeda. Bukannya menemplokkan sabun ke muka lalu diusap-usap sampai berbusa, tapi saya busakan dulu di tangan baru digosokkan ke muka. Dan untuk pertama kalinya juga, saya merasakan kulit muka yang segar dan bersih tapi tidak keset seperti biasanya. Lalu hal lain yang saya suka adalah iriittttttttttt buanget. Sekali cuci muka, cuma butuh sebiji jagung. Itu isi tube rasanya gak abis-abis sampe setaun. Saya pun memutuskan akan memakai Hada Labo Shirojyun Face Wash sebagai sabun cuci muka saya seumur hidup! *lebay hahah, but true*
Yaa ternyata gak seumur hidup juga sih. Toh saya masih membuka kesempatan bagi pembersih lain yakni Wardah Head to Toe Cleanser. Yang ini saya dapat gratisan. Ibu saya mau naik haji dan mendapat bingkisan dari seorang kenalan berupa satu set perawatan Wardah. Karena beliau adalah pengguna loyal Ristra dan anti produk lain, benda itu dibiarkan nganggur tak bertuan.

Wardah Head to Toe Cleanser. 

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah bahwa Wardah Head to Toe Cleanser ini menyatakan non perfume dan non alcohol di tubenya. Sesuai namanya, sebetulnya gak untuk wajah aja sih. Tapi isi 40ml buat sebadan rasanya kok sayang juga. Iseng saya pakai buat variasi sabun cuci muka sehari-hari, dengan cara yang sama dengan ketika pakai Hada Labo. Eh ternyata sama enaknya, sama juga ngiritnya. Hmmm kalau ada alternatif produk lokal yang memberikan efek yang sama, saya rela aja pindah ke lain hati.

Wardah Head to Toe Cleanser. 
Ingredients list
Revolusi skincare pertama saya adalah mengganti sabun cuci muka yang asal-pakai-pokoknya-sabun dengan yang melembabkan dan kandungannya tidak keras. Cara memakainya pun diubah, yakni dengan membusakan sabun di tangan dahulu baru diusapkan di muka.

Toner Revolution
Seumur-umur, saya taunya toner itu ya astringent pasangannya susu pembersih, dipakai pada prosesi membersihkan wajah era angkatan ibu saya. Saya masih ingat dahulu ketika saya masih sering jadi pager ayu di acara mantu para tetangga. Tiap habis pakai make up tebal berjam-jam, saya diarahkan membersihkan wajah dengan dua langkah: pakai susu pembersih dan dilanjutkan dengan toner. Setelah pakai toner, kulit memang jadi bersih dan berasa bebas (semacam: enyah kau, make up!) tapi ada sensasi clekit-clekit yang mengganggu. Setelah cuci muka pakai sabun (jaman masih pakai sabun batangan ya), baru rasanya benar-benar bersih. Dulu, saya pikir toner itu ya begitu itu mestinya.
Bahkan sampai suatu ketika saya mengenal SK II Facial Treatment Clear Lotion (disingkat FTCL) dan jatuh cinta sekalipun, saya masih belum ngeh bahwa sebetulnya itu termasuk kategori toner. Baru deh pas tanpa sengaja nemu artikel ini, mulai rada melek. Pada dasarnya, fungsi toner adalah untuk mengembalikan pH kulit setelah proses mencuci muka, menghidrasi dan mempersiapkan kulit untuk langkah perawatan berikutnya. Dalam variasinya, toner diperkaya bahan-bahan lain yang disesuaikan dengan tujuannya seperti misalnya anti-aging, oil control, eksfoliasi, dan soothing effect.

SK II Facial Treatmen Clear Lotion
Semenjak pertama memakai pitera set yang trial size, saya langsung suka sama FTCL. Bayangin, pada pemakaian pertama, kapas itu langsung item-item coklat bercampur potongan-potongan serat warna-warni setelah diusap di wajah. Saya langsung kaget, "Wohhh, sekotor ini ya mukaku?" Efek pakai FTCL secara rutin, kulit wajah jadi menyenangkan dipegang. Berasa licin, lembut, dan bersih. Kalau masih sisa di kapas, saya suka usapkan ke leher. Kalau leher, pasti kapasnya jadi cokelat kotor, meskipun mandi tiap hari dan diusap FTCL pagi dan malam, hahaha.... Tapi efeknya, sekarang saya kalau pegang-pegang leher, rasanya halus. Tampaknya bakalan setia nih sama produk satu ini.
SK II Facial Treatment Clear Lotion adalah revolusi skincare saya yang ke dua. Meski harganya cukup mencekik, tapi sebetulnya pemakaiannya sangat hemat. Pengalaman saya, botol isi 175ml bisa sampai setahun lebih.

AHA Exfoliation Revolution
Eksfoliasi adalah suatu proses pengangkatan sel-sel kulit mati dari wajah sehingga dapat menyediakan ruang yang leluasa bagi pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Sebelumnya saya hanya kenal scrub dan saya kebetulan kurang suka. Tekstur scrub yang berpasir dan harus digosok memutar membuat saya sering tidak yakin sudah merata atau belum ke seluruh bagian wajah. Akibatnya, nambah ekstra waktu di kamar mandi. Mana lah saya bisa setelaten itu. Jadi, saya gak tertarik sama eksfoliasi, tapi itu duluuu.....
Saya baru mulai tercerahkan setelah agak banyak membaca akibat penasaran tentang acne treatment dengan AHA dan BHA. Dan setelah terdampar di tulisan-tulisan Paula Begoun tentang skincare routine, saya mulai mempertimbangkan memasukkan eksfoliasi ke dalam skin care steps saya. Bagi saya, eksfoliasi secara kimia terdengar jauh lebih logis, praktis, dan time-friendly ketimbang secara fisik seperti scrub.
My very first AHA exfoliation adalah sample Paula's Choice RESIST Weekly Resurfacing Treatment with 10% AHA. Efeknya terasa seketika, kulit wajah terasa halus jika diraba. Dan saya gak mengalami efek samping apa-apa. Mungkin ya saking badaknya ini kulit.

Belanjaan sampel Paula's Choice
Nah masalahnya, meski cocok, harga full sizenya bikin mendadak pelit. Setelah habis, saya jadi galau apakah memang layak untuk investasi di sini. Sementara sambil menimbang-nimbang, saya coba searching produk serupa yang lebih ramah di kantong. Syukur-syukur kalau bisa dapat produk lokal. Pencarian saya pun berujung pada Dr. Refina Active Exfoliating Peel Derm series, produksi dari PT.Immortal Cosmedika Indonesia. Surprisingly, ternyata saya mendapatkan efek yang sama seperti dengan Paula's Choice punya.

 
Dr. Refina Active Exfoliating Peel Derm 1 dan 3
Kanan: Ingredients list

Duh, rasanya seneng bangeet, dapet pengganti yang lebih ramah di kantong, dicarinya gampang, gak usah PO-PO segala. Dan yang paling penting, ini adalah produksi dalam negeri. Yaaayy...... Kemasannya pun cakep, gak kalah keren sama produk-produk luar. I'm so happy pokoknya.
Revolusi skincare saya yang ke tiga adalah eksfoliasi kimia dengan AHA. Proses eksfoliasi ini saya lakukan dua kali dalam seminggu. Cukup dua kali karena saya sudah menggunakan toner ber-AHA dalam perawatan sehari-hari.

Sun Care Revolution
Pertama kali nyobain Pitera Trial Set, saya mencibir. Mana yang katanya bikin cerah dan glowing? Malah kayanya menggelap gini. Untung botolnya kecil-kecil. Begitu habis isinya, ya saya lupain aja. Tapi masalahnya, racunnya ada di mana-mana. Kadang gak tahan juga ngepoin obrolan orang tentang brand kotak merah ini. Sampai suatu ketika, ada yang mengeluhkan hal yang sama seperti saya di forum. Lalu dijawab oleh member lain kurang lebih begini, "Selama ini pakai sunblock gak? Karena FTCL kan mengandung AHA, jadi kulitnya lebih sensitif terhadap sinar UV."

Hahaha, saya pas iseng-iseng nyobain mini trial set itu emang pas masih ada di jaman buta ingredients. Udah mulai sadar jagain kulit muka dikit-dikit dan suka baca-baca tentang skincare sih, tapi baru pada tahap 'membaca review'. Jadi misalkan ada beberapa blogger bilang produk X oke, sementara hanya satu atau dua blogger lain bilang tidak, nah itu cukup meyakinkan saya untuk membeli produk tersebut tanpa mencari informasi lebih jauh tentang kandungannya. Plus saya dulunya males-malesan pakai tabir surya. Beberapa kali nyoba sunblock maupun moisturizer ber-SPF, saya gak suka karena hasilnya bikin muka keliatan oily sampe pernah dikatain kucel kaya belum mandi. Kalau ditimpuk bedak dengan tujuan supaya matte, malah bikin muka jadi keputihan. Serba salah.

Duo tabir surya
Dipakai bergantian
Namun semuanya berubah sejak negara api menyerang. Saya berkenalan dengan sunblock merk Ristra, SunCare dengan SPF 17. Hasilnya di wajah saya cukup matte dan malah bikin kelihatan cerah. Saya jadi males pakai apa-apa kalau bepergian. Cukup sunblok Ristra dan sedikit saputan warna di bibir, and I'm ready to go haha.... *asli pemalas akut*
Rajin memakai tabir surya adalah revolusi skincare saya berikutnya. SPF cuma 17-26 seperti di foto atas itu apa cukup? Bergantung aktivitas yaa. Saya jarang terekspos sinar matahari berlama-lama seharian. Kalau di rumah, saya gak pernah mau repot-repot oles sunblock, meski banyak jendela gede yang bikin terang-benderang. Untungnya sampai saat ini, saya baik-baik saja sih. Kalaupun gak sempat untuk oles-oles 15 menit sebelum keluar rumah, saya pilih nyamber masker buat nutupin muka xixixi.... Eits bukan takut itemnya ya, tapi lebih kuatir efek agingnya ituuu. Secara sudah tuir dan sekarang ini panas matahari rasanya garang banget.

Acne Care Revolution
Kalau ada produk yang bisa disamakan dengan tongkat sihir dalam rangkaian skincare saya, maka itu adalah Medi-Klin TR. Salep obat jerawat (atau lebih tepatnya sih gel ya) yang tubenya berwarna ungu ini mengandung Clindamycin Phospate 1,2% dan Tretinoin 0,025%. Saya direkomendasikan oleh DSA anak saya. Loh kok dokter anak? Haha, there's another story sih kalau ini.

Medi-Klin TR
Singkat kata, ini gel ampuh bukan main. Saya udah coba produk apapun yang saya temukan di internet. Hasilnya nihil semua. Tapi setelah saya oles Medi-Klin TR, jerawat langsung berkurang setelah dua-tiga hari. Berkurang maksudnya sudah tidak merah dan tidak lagi meradang, berada dalam proses menuju sembuh. Dan ajaibnya, siklus jerawat saya pun berhenti. Sembuh ya sembuh aja. Gak pakai pindah-pindah tempat segala seperti sebelumnya. Thanks to kandungan antibiotik Clindamycin.
Revolusi skincare saya yang terakhir, sekaligus senjata pamungkas saya adalah Medi-Klin TR. Muncul jerawat? Gak bete lagiiii.....

Perawatan Tambahan
Lima revolusi skincare di atas adalah perawatan dasar saya yang tak tergantikan (sampai sejauh ini). Tapi mereka gak sendirian, karena saya sebetulnya menyimpan beberapa PR, salah satunya adalah menghilangkan noda hitam bekas jerawat yang telanjur terbentuk menahun. Noda-noda ini gak banyak, tapi posisinya lumayan frontal dan sedikit membentuk rolling scar. Untuk itu, saya tengah mengandalkan duet maut Vitacid dengan konsentrasi Retinoic Acid 0,050% dan Melanox dengan Hydroquinone 2%.

Vitacid dengan Tretinoin 0,050%
dan Melanox dengan Hydroquinone 2%.
Obat keras yah, habis nodanya buandel banget sih. Udah tahunan umurnya. Combo ini saya pakai sebagai spot treatment. Pilihan saya pada dua produk ini saya ambil masak-masak setelah membaca banyak review dan literatur. Khusus untuk duet maut ini, saya membutuhkan standar waktu sekitar 10-12 minggu. Sementara batas penggunaan hydroquinone harian adalah tiga bulan. Jika memang efektif, seharusnya hasilnya sudah bisa terlihat saat itu. Jika tidak sukses, brarti noda hitam saya letaknya di lapisan kulit yang cukup dalam, membutuhkan tindakan yang lebih dari sekedar skincare, which means saya nyerah saja deh. Gak sebegitu ngebetnya pengen flawless. Hahahaha....
Selain duet maut tadi, ada beberapa produk perawatan tambahan lainnya:
1. Serum Dr. Refina DermoBlanc Vigorous Active Luminous Skin
Serum ini mengandung Arbutin, AHA (Citric Acid), dan vitamin C. Semuanya adalah ingredients yang sangat banyak dikenal bermanfaat untuk membantu mencerahkan kulit.

2. Serum Dr. Refina DermoBlanc Vigorous Active Vitamiderm
Serum ini bertujuan untuk membantu menutrisi kulit. Pada ingredients list, terdapat  Niacinamide  dan vitamin E di posisi atas. Niacinamide adalah komposisi utama yang banyak ditemukan pada produk-produk dengan label pencerah yang bisa ditemukan di supermarket. Tapi fungsi utamanya gak sekedar mencerahkan sih. Bisa disimak di sini.

 

3. My very own homemade vitamin C serum (vitamin C 20% + vitamin E 1%)
Kadang saya merasa, setelah memakai serum vitamin C ini, muka jadi agak cerahan. Mungkin ada pengaruh dari essence yang saya pakai sebelumnya. Selain itu, efeknya glowing banget. Buat yang kulitnya berminyak, bisa bikin muka semakin keliatan oily dan pori-pori keliatan gede. Beberapa artikel memang menyebutkan bahwa serum vitamin C kurang cocok bagi kulit berminyak.

4. Innisfree Soybean Energy Essence [Light]
Ini saya pakai sebelum serum, untuk membantu penyerapan produk perawatan dengan lebih baik. Hasil yang saya rasakan, kulit jadi terasa lembab terus kaya kulit bayi. Efek lainnya, setelah memakai essence ini, langsung muncul kesan cerah dan glowing sehat. Kalau dipakai pada malam hari, keesokannya pas bangun tidur, muka jadi terkesan cling.


5. TBS Drops Of Youth Concentrate
Dalam urutan pemakaian skincare, produk ini berfungsi kurang lebih sama seperti essence, yakni sebagai pre serum. Saya coba pakai bergantian dengan essence dari Innisfree di atas untuk mengenali perbedaannya. Kesimpulannya, TBS DOY ini tidak glowing tapi cenderung healthy dewy. Mungkin karena kandungan Alcohol Denat yang merupakan salah satu key ingredientsnya. Tapi ini gak mengeringkan kulit lho.

The Body Shop Drops Of Youth Concentrate
Selain bergantian dengan essence, saya perhatikan juga reaksinya dengan serum yang dipakai sesudahnya. Perasaan saya masih mixed, belum melihat efek yang konsisten. Namun beberapa kali terakhir ini saya sempat memperhatikan, DOY membuat penyerapan serum vitamin C saya lebih cepat dibandingkan ketika pakai soybean essence dari Innisfree.

"Itu muka cuma satu, tapi yang ditemplokin banyak bener. Gak apa-apa tuh kulitnya pake skincare tumpuk-tumpuk?"
Yang pake tumpuk-tumpuk juga siapa. Pakenya selang-seling kok. Hari ini serum A, besok serum B, besoknya lagi lupa, trus besok besoknya lagi gak sempet.... Hahaha. Masalah skincare, buat saya, less is more. Mendingan sedikit tapi langsung menuju sasaran. Yang pasti, saya gak berminat nyoba 10-steps Korean skincare routine, hehe...


Tapi saya jadi belajar sesuatu. Mau pakai perawatan apapun, yang penting kulit harus dipenuhi dulu kebutuhan pokoknya, yakni: dibersihkan, dilindungi, dan dijauhkan dari produk aneh-aneh. Kenali cara kerja kulit kita. Perkenalkan kulit dengan produk baru satu demi satu dan kenali reaksinya. Hasil dari ketelatenan perawatan kulit biasanya dapat diperoleh sekitar 10-12 minggu. Jangan tergiur krim-krim yang klaim hasilnya cepet. Bahkan Hydroquinone yang super ampuh saja membutuhkan waktu 12 minggu.

Seperti kata banyak orang, skincare itu cocok-cocokan ya. Setiap kulit punya jodohnya sendiri-sendiri. Kulit saya pada dasarnya normal kombinasi. Sebagian besar area wajah cenderung normal, sementara hidung agak berminyak dan banyak komedo hitam (masih PR nih cari solusinya). Aktivitas saya saat ini banyak di dalam rumah dan sangat jarang terpapar AC, jadi saya amat sangat jarang pakai moisturizer. So, selamat bereksperimen. Skincare is fun ketika kita tahu apa yang kita lakukan ^_^


Very long post. 
Semoga ada manfaatnya ^_^

4 comments:

  1. Hai mbak, keren deh tulisan2xnya disertai referensi jd bs langsung merujuk ke sumber utama
    saya lagi googling review exfoliate toning lokal macam dr refina, alfacid, immortal dkk, ga mampu beli punya tante paula soalnya haha
    Btw beli dr refinanya dimana mb? Mau beli sembarangan takut dapet yg oplosan eh oplosan,palsu maksud saya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo jugaa :)
      Seneng deh kalau bs bermanfaat. Krn sy bukan expert, gak berani kalo gak nyertain referensi , hehe..
      Ada satu toko namanya Toko Cantik Aisa di Tokopedia. Saya bbrp kali belanja di sana. Cukup lengkap, harga bersaing, keterangan produknya detail, dan bisa konsultasi juga. Kl tinggal di Semarang, bs langsung berkunjung ke kliniknya...
      *harusnya dapet komisi nih jd staf marketing dadakan* :D

      Delete
  2. Halo mba thanks for writing this post. Its so usefull :) memang pas awal browsing niatnya cari-cari produk eksfoliasi terbaik khusus lokal dan ketemu sama blog mba yang cukup membantu saya dalam menentukan produk yang akan saya pilih. Btw, skincare regime nya masih sama sampai sekarang mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo, Mba Yenni, maaf baru lihat kl ada comment baru. Entah kenapa notifnya gak muncul di email ^^ Sekarang skincare regimenya berantakan lagi nih. Essence soybean energy essence light yang jadi andalan ternyata udah diskontinu dan belum nemu penggantinya yang cocok :'( Untuk sementara yang bertahan cuma Clear Lotion & TBS Vit C Glow Boosting aja. Efeknya memang gak seoke waktu rajin kaya di atas sih... Jadi, udah berhasil menemukan jodoh eksfoliator lokal atau belum nih, mba? :)

      Delete

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...