Showing posts with label genit. Show all posts
Showing posts with label genit. Show all posts

Wednesday, March 27, 2024

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX


Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung tepenuhi gegara bingung. Iya bingung mau nulis apa lagi tentang produk ini. Pertama udah diskontinu yang mana jadi ga ada gunanya dibaca kan ya. Yang ke dua, gak ada kesan istimewa apa-apa lagi. Gak ada keluhan apa-apa, tapi juga gak ada sesuatu yang bikin hype.


Pengalaman Pemakaian

Oke saya cerita pengalaman pakainya aja deh. Kebetulan saya bereksperimen coba-coba berbagai cara yang terpikirkan demi menemukan best experience with this product. 

1. Sesuai petunjuk

Saya gunakan single use, sebagai first treatment langsung pasca cuci muka, tanpa didahului toner dan dengan memakai kapas. Rasanya seger dan adem. Mungkin juga efek dari kandungan alkoholnya yang menguap membawa sebagian kalor dari kulit. Kadang bisa menarik kotoran juga dari kulit. Kapasnya jadi kecoklatan. Wajah juga jadi relatif terlihat agak bersihan. Tapi gak ada efek glow yang biasa saya peroleh dari pakai SK II Clear Lotion.

2. Sebagai essence

Saya taruh Laneige pada 2nd step setelah toner SK II. Kadang tap-tap pakai kapas, kadang langsung templok aja. It mattifies the skin and keeps the glow from SK II. Oke sih, cuman kalau dirasa-rasain ga ada efek hydratingnya, jadi setelah itu saya merasa butuh step pelembab.

3. Ganti-ganti kapas

Jujur aja, saya bingung gimana cara pakai kapas bawaan Laneige ini. Katanya yang bertekstur digunakan untuk eksfoliasi pada pagi hari dan bagian yang halus untuk absorbsi maksimal produk pada kulit ketika malam hari. Nah di sinilah yang saya kurang paham. Kapasnya sendiri terdiri atas tiga lapis yang saling menempel/terhubung. Lapisan pertama teksturnya garis-garis banget, lalu nempel di baliknya lapisan kapas dengan tekstur garis-garis halus, dan yang terakhir tanpa tekstur tapi tipis banget dan gak lembut seperti dua lapis lainnya. Itu apa semua? πŸ˜… Di boksnya juga ga ada keterangan apa-apa tentang tampilan yang unik ini. Ngubek-ubek Youtube maupun Google, ga nemu ada yang bahas kapas Laneige yang ajaib ini.

Kalaupun yang dimaksudkan untuk dipakai adalah lapisan 1 (bertekstur) dan 2 (less tekstur), mereka berdua nempel dan susah dipisahkan untuk dimanfaatkan sendiri-sendiri. Tapi kalau dipakai barengan sebagai kapas bertekstur di pagi hari, ya abis dong produknya nyerap ke kapas semua πŸ˜… Akhirnya saya improvisasi pemakaian secara free style aja, alias suka-suka. Kadang malah pakai kapas lain.



Tampilan kapas

Ada tiga lapis kapas

Lapisan 1 dan 2 susah dipisahkan dengan elegan.
Hasilnya compang-camping seperti ini πŸ₯²

Video jelasnya
Kapas lapisan ke-3 berbeda kan 
dari dua lainnya.



Final Verdict?

It's a good product but not quite impressive. 

Repurchase? Ga mungkin, karena udah diskontinu. 

Apakah minat nyobain penggantinya yang Radian C Advanced Effector? Kayanya enggak, secara baru-baru ini menemukan bahwa Niacinamide sepertinya is not for me. 



Sunday, July 30, 2023

Review: Matrix Wonderlight WL-G - Rambut Coklat Natural Tanpa Bleaching

Saya lagi beberes gudang waktu nemu tote bag berisi perlengkapan hair coloring lawas saya. Di antara beberapa kotak cat rambut Miranda yang sudah expired, terselip satu boks cat highlift Matrix Wonderlight warna WL-G. Rupanya itu sisa dari review eksperimen bikin highlight tanpa bleaching di tulisan ini. Dipikir-pikir mau dibuang kok sayang, karena expired datenya masih lama. Tapi dilego juga siapa yang mau, wong sudah dibuka dan berkurang sekitar sepertiga. Mana gak ada campuran developernya pula. Akhirnya, ya udah deh dipakai sendiri aja. Dan karena saya sedang mode 'males rempong', 'butuh solusi cepat', dan 'yang penting abis', diputuskan untuk minta tolong salon aja. Kebetulan di dekat saya ada salon yang bersedia terima pelanggan yang bawa bahan pewarna sendiri. Mereka tinggal ngecat-in doang. Lumayan, dengan nambah cairan developer 30vol dari salon, ongkos ngecat plus keramas dan blow dry total 75ribu.

Maaf fotonya nyomot dari google.
Sebelum dipakai gak sempet motret karena
belum kepikiran untuk dijadikan bahan tulisan


Swatch shade WL-G (Gold)


Sebelum dicat, rambut saya hitam virgin jadi ga ada foto beforenya ya. Rambut hitam tuh yaa gitu-gitu aja kan. Kita semua punya sendiri 😁 Rambut saya aslinya sekitar level 3, helaiannya tipis halus dan tidak hitam pekat. Dari proses pewarnaan di atas, warnanya naik sekitar 2-3 level jadi sekitar level 5-6 kalau dilihat dari underlying pigment yang muncul. Overall warnanya semacam coklat medium kemerahan dengan highlight keemasan kalau terkena sinar matahari dan terlihat cukup natural kalau indoor. Meski shade G mengacu pada warna gold atau kuning, rambut saya gak jadi yang gimana-gimana. Yaa karena rambut di tingkatan ini aslinya memang masih kaya akan pigmen kemerahan dan keemasan sih. A bit more gold doesn't make a change. 

πŸ‘‰πŸ‘‰ Sedikit penjelasan tentang level rambut di sini. 

Not my hair, cuma untuk gambaran aja



Level gelap terang rambut


I'm happy with the result. Saya puas karena mbak coloristnya pinter, hasil warnanya merata dan bagus. Jujur ya, sebetulnya mewarnai rambut tuh enakan di salon. Tinggal duduk dan trima jadi. Pulang-pulang rambutnya udah bersih dan harum. Coba kalo ngerjain sendiri, repot, belepotan, kadang hasilnya gak rata. Apalagi bleaching. Beuh... Beneran harus dibantuin kalo mau bebas ribet. Kamu bisa coba cari salon-salon kecil yang mau bantu ngecat rambut pelanggan yang bawa produk sendiri. Yang punya banyak langganan nenek-nenek sepuh ngecat uban will be better. Lumayan cut the cost loh. Tapi ini saya sarankan untuk jenis pewarnaan one global color aja, bukan model-model yang butuh teknik spesial seperti highlight atau ombre. It takes skills and sense, ga yakin semua salon kemahirannya merata dalam hal ini.


Hasil akhir


Kesimpulannya, saya cukup senang dengan hasilnya karena dari awal emang gak ada ekspektasi mau warna apa. Cuma mau ngabisin stok cat aja daripada mubazir. Bagi teman-teman yang ingin rambut coklat, bisa coba pakai ini. Dari segi harga memang jauh lebih menguras kantong ketimbang cat rambut lokal yang dijual di supermarket, tapi ini sebetulnya masih relatif ekonomis karena tubenya besar. Selain itu, ada kualitas yang bakal berpengaruh kalau kita ingin warna rambut bisa naik jadi terang sampai beberapa level tanpa membuatnya tampak rusak. Kalau menginginkan warna yang lebih warm atau lebih cool, tinggal pilih shade. Cek chart warnanya, kalau swatchnya gelap (abu-abu, biru, hijau) maka kemungkinan dapet warna cool brown atau warna-warna coklat yang lebih natural cukup besar. Kalau mau warna coklat yang warm bisa pilih warna-warna seputar copper dan gold. Untuk mendapat level gelap terang yang diinginkan, tinggal bermain di campuran developernya. Menurut panduannya, Wonderlight ini bisa mengangkat rambut 3-4 level, bergantung karakter rambutnya. Tapi yang jelas jangan pakai 12% atau 40vol please....


Friday, April 30, 2021

Swatch & Review: Innisfree Real Color Nail Polish No.47 & 48 (Update no.14 & 46)

 



Review ini ditulis sebagai akibat keracunan iklan Lzd yang mondar-mandir di medsos gak brenti-brenti πŸ˜… Beneran kita pengguna Android smartphone ini sebetulnya nyaris gak punya privasi sama sekali. Gegara ngintipin lapak resminya Innisfree di Lzd melulu dan sempet masukin cat kuku Real Color ke keranjang belanja, tiap hari dihantui benda yang sama di iklan medsos. Belum lagi notif dari app Lzd itu sendiri yang nongol terus tiap hari, ngingetin kalau barang di keranjang belanjaan belum dibayar πŸ™„

Aslinya saya udah bikin deklarasi pensiun beli cat kuku (at least mau ngabisin yang lama dulu) dan sempat berhasil bertahan setahun lebih tanpa nambah koleksi baru. Tapi dasar saya lemah iman, akhirnya tergoda juga. Maka inilah dia, Innisfree Real Color no. 47 dan 48, dibeli murni secara impulsif tanpa ngecek review sama sekali. Entah kenapa saya punya feeling bagus dengan cat ini, mungkin karena pernah punya produk HG dari brand Innisfree. Semoga aja feelingnya bener.





No. 47 warna olive green dan no.48 warna dark rose



Kesan pertama, warna yang datang persis sesuai yang dibayangkan. Botolnya simpel, gak ada kesan chic, girly, playful, dan yang lucu-lucu lainnya. Just be real, like its name, Real Color. Oke yang terakhir ini cuma bikin-bikinan saya aja sih, biar cocok haha.. 

Pass beberapa hari setelah paket datang, ee saya dapat tamu haid. Nah inilah waktunya mewarnai kuku. Langsung aja test drive si cat baru. Tanpa menaruh ekspektasi apa-apa, suprisingly saya langsung suka: full opacity dalam satu kali polesan, mudah diratakan, gak streaky, kuas luwes dan fleksibel, hasilnya rapi dan menyenangkan hati. Konsistensi sedikit lebih creamy dari preferensi saya tapi gak mempengaruhi kemudahan dalam memoles. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini aromanya gak menyengat, bahkan sebetulnya nyaris gak ada baunya, kecuali didekatkan ke hidung. Ini saya sadari sewaktu asyik poles-poles kuku, kok gak tercium bau apa-apa ya. Padahal semua cat kuku yang pernah saya coba biasanya baru dibuka tutup botolnya aja langsung kerasa aroma khas yang menusuk hidung. 

It dries fast! Alias cepat keringnya di kuku, terutama mengingat konsistensinya yang agak creamy. Saya bisa menyelesaikan dua layer polesan hanya dalam waktu setengah jam dan jari-jari ini bisa langsung diajak beraktifitas normal sekitar 15 menit setelah kelar layer terakhir. Waktu itu saya harus segera pergi ngantar bocah sehingga mesti ganti baju, ambil tas, kunci kendaraan, dll sehingga beberapa kali kukunya tergesek-gesek. Saya udah mikir, aduh hancur deh hasil kerja keras. Ternyata enggak. Catnya benar-benar sudah fix kokoh menempel di kuku. Hasil pewarnaannya sesuai dengan klaim yakni glossy finish. Kilauannya awet tahan lama. Meski sudah dibawa tidur, tergesek-gesek sprei dan bantal, glossynya gak berkurang dan gak ada cap bekas garis-garis. Beberapa kali pengalaman dengan cat kuku lain, sepertinya sudah kering sedari tadi tapi setelah dipakai tidur ada ngecap samar garis-garis dan yang tadinya glossy berubah jadi agak dove.

Cat kuku Innisfree ini mudah dirapikan. Sebagai non profesional, tangan saya kan suka goyah kalau lagi ngecat kuku, seringkali hasil warnanya jadi suka kelewat dari batas kuku sehingga harus siap sedia cotton bud dan aceton. Tapi dengan Innisfree Real Color, tinggal nunggu kering lalu cat yang belepotan cukup dikeletek pakai kuku dengan sedikit usaha, langsung bersih. 

Sepertinya feeling saya tepat beli ini ♥️ 



Swatch No.48

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna ini dipilih karena terlihat mirip seperti perpaduan dua warna favorit saya dari kuteks Revlon Nail Enamel, yakni Teak Rose dan Granite, yang sayangnya performanya mengecewakan (review di sini). Dan ternyata beneran saya suka. Warnanya warm dark rose setelah dua kali poles. Di kondisi minim pencahayaan, warnanya terlihat agak brownish.


Swatch No.47

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna dark olive green seperti ini ternyata cocok di saya, bikin kulit terlihat cerah dan bersih. Ini berbeda dengan Revlon Colorstay Indigo Blue yang dulu saya pernah punya. Warnanya aslinya bagus, tapi pas diaplikasikan ke kuku, jadi keliatan norak. Not flattering at all. Mungkin undertone kulit saya warm olive sementara biru adalah warna yang cenderung cool.


Update!!

Jadi, gara-gara positive experience sama dua cat kuku Innisfree di atas, saya jadi beli lagi dong. Lupa sudah dengan niatan puasa beli kuteks, ngahahahahaa πŸ˜…


Swatch No.46

Warna golden olive. Sukakk banget. Ketika dipakai jatuhnya jadi seperti warna nude, sangat kalem dan ngeblend dengan tone warna kulit. Oke, fix berarti undertone kulit saya memang olive nih. Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan ditimpuk Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai top coat for additional shine.



Swatch No.14

Ini warna kuningnya semacam kuning mustard. Dia bukan neon, juga bukan pastel. Masuk banget buat yang punya undertone olive. Gak bikin efek glow in the dark juga, di mana warna kukunya cerah bersinar tapi kulit tangan terlihat menggelapπŸ˜ƒ Khusus untuk warna ini, saya baru bisa memperoleh hasil yang full opacity setelah memoles tiga layer. Tapi konon cat kuku untuk warna-warna terang semacam kuning dan putih biasanya memang cenderung sheer dan streaky sih. Foto di atas adalah hasil tiga kali poles dengan Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai base coat dan top coat. 


Final Verdict

In love!! ❤️❤️

Sepertinya saya menemukan cinta baru, setelah susah move on dari The Skinfood Nail Vita yang kualitasnya di akhir-akhir mulai mengecewakan dan sepertinya makin susah dicari.  Konsistensinya pas, kuasnya juga enak dipakai, pengaplikasian relatif mudah, dan drying speednya memuaskan. Meski saya bilang keringnya cepat, tapi gak lantas jadi gampang seret sewaktu dioles ke kuku, sehingga gak perlu buru-buru juga waktu meratakannya. Take your time. Selain itu, saya senang karena Innisfree menyediakan pilihan warna-warna yang earthy tone seperti di atas, yang meski cukup bold dan colorful tapi ketika dipakai kesannya tetep kalem. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini saya beli di harga Rp 49.000 per botol dengan volume 6ml. Dari segi harga memang kurang bisa dibilang murah meriah. Ada banyak merk cat kuku terkenal lain yang harganya di bawah itu, tapi jarang yang menyediakan warna yang bikin saya tertarik. Rata-rata warnanya nude dan kalem-kalem. Lhaa periode saya pakai cat kuku kan cuma bisa sebulan sekali, mosok pake warna nude. Ga seru lah πŸ˜ƒ



Monday, December 28, 2020

Review: Matrix Wonder Light Clear - Highlight Rambut Tanpa Bleaching

 Hai hai.....

Belakangan ini benar-benar fiuuhhhh. Postingan ini dibuat pada bulan Desember 2020 yang mana artinya pandemi Covid-19 sudah hampir satu tahun mewarnai peradaban manusia bumi. Banyak hal yang berubah dalam keseharian kita bukan?

Nah ceritanya saya masih menyimpan penasaran dengan highlight setelah sekitar satu setengah tahunan lalu mencoba babylight bleaching menggunakan Joico Creme Lightener. Sekedar informasi  babylight adalah istilah untuk highlight yang sangat halus. Hasilnya cukup memuaskan bagi saya karena rambut yang di-highlight jadi terlihat sangat natural. Warnanya ngeblend banget sama rambut aslinya. Cuma satu kekurangannya, warna hasil bleachingnya kurang rata karena mengaplikasikan foil sendirian itu susah setengah mati πŸ˜… sampe pengen nangis hahahaha.... Ngerjainnya lamban banget sehingga adonan bleaching di mangkok terekspos di udara kelamaan. Akibatnya, rambut yg kena bleaching belakangan kurang maksimal prosesnya dibanding yang awal-awal.

Babylight pakai bleaching Joico Creme Lightener setahunan lalu

Proses bikin babylight, harus tipis-tipisss


Belajar dari pengalaman pertama, saya nyerah aja deh, meski puas tapi rasanya gak sanggup DIY highlighting pakai bleaching lagi. Oleh karena itu di kesempatan kali ini, sebagai alternatifnya saya pilih cat permanen yang gak sensitif terhadap waktu. Berbeda dengan zat bleaching yang berproses terus-menerus, cat permanen punya batas waktu. Setelah sekian menit yang ditentukan, dia akan sampai pada kinerja yang maksimal kemudian berhenti. Lalu karena saya hanya ingin rambut jadi lebih terang tanpa diwarnai, pilihan jatuh pada cat permanen jenis highlift warna Clear. FYI, highlift adalah jenis cat rambut permanen yang punya kemampuan mengangkat warna rambut agak tinggi, bisa 2 hingga 4 level. Untuk project kali ini, demi alasan ekonomis, saya memutuskan pakai merk Matrix varian Wonder Light. Lumayan dengan harga 70an ribu bisa dapet tube gede isi 90ml. Value for money banget kan. Jadi ga usah ngecat sambil ngirit-ngirit karena kuatir kehabisan bahan hahaha...

Pewarnaan kali ini dilakukan dalam dua sesi dan gak sepenuhnya DIY karena saya minta bantuan dari teman yang berpengalaman ngecat rambut untuk pengerjaan sekepala. Sesi pertama adalah menyiapkan 'kanvas' untuk sesi ke dua nanti. Bagian-bagian rambut paling luar yang bakal keliatan dibuat highlight dulu, lebih terang sekitar 2 level saja cukup. Ini saya kerjakan sendiri dan menghabiskan sekitar 15 lembar foil, pakai Matrix WL Clear dengan campuran developer 20vol, ratio 1:2. Setelah itu, rambut didiamkan selama 45 menit agar zat highlift bekerja maksimal. Hasilnya rambut jadi naik di level merah-oranye keemasan, seperti gambar di bawah. Lumayan terang ternyata meski developernya cuma 6%. Yah memang warnanya kurang ngeblend sih, jadi agak chunky highlight πŸ˜… Saya ambil helaian rambutnya agak banyakan, soalnya kapok bikin babylight, susahhh 😬

Matrix Wonder Light + developer 30vol
(Yang developer 20vol gak kefoto)

Klaim: bisa mengangkat warna rambut hingga 4 level

Chart warna Matrix Wonder Light, nyomot dari lapak orang
Saya pakai yang Clear (lingkaran atas)

Hasil sesi 1: highlight, terangnya belum terlalu kelihatan
Aslinya sih ada emas-emasnya dikit tapi setingan kameranya otomatis bikin gambar hasil jepretan jadi lebih cool ketimbang aslinya

Setelah puas dengan hasil highlight di atas, lanjut panggil bala bantuan untuk sesi ke dua. Masih pakai WL Clear juga tapi kali ini dengan campuran developer 30vol dan full head a.k.a sekepala. Nah ada hal menarik yang saya amati di proses ini. Teman saya mengaplikasikan cat rambut secara normal untuk bagian rambut yang dimulai dari 2cm setelah akar sampai bawah. Kira-kira setelah menunggu 20-30 menitan, dia mulai mengaplikasikan di bagian yang dekat akar rambut dengan cara berbeda. Jadi gak sekedar ditemplok rata tapi juga disisir-sisir supaya warnanya ngeblend dan gak terjadi hot root (bagian pangkal lebih terang ketimbang ujung). Pengerjaan bagian pangkal ini memakan waktu sekitar 10 menit sehingga ketika selesai, rambut bagian bawah sudah melalui proses selama 40 menit. Karena saya gak mau akarnya terlalu terang, 15 menit kemudian rambut dibilas. Hasilnya bisa dilihat seperti berikut.

Hasil sesi 2: indoor lighting
Warm (ki) VS natural (ka) 


Hasil sesi 2
Kiri: outdoor lighting
Kanan: under sun light

Hair levels: tingkatan gelap-terang rambut

Saya cukup puas dengan hasilnya. Di dalam ruangan dengan pencahayaan normal/natural, warnanya coklat medium, dan di bawah sinar matahari jadi merah keemasan. Sementara yang sebelumnya sudah dihighlight terlihat brassy orange, kurleb level 5-6. Meski brassy tapi masih sesuai harapan, karena WL Clear kan memang seharusnya gak ada warnanya, kerjanya hanya lifting (mengangkat warna) tanpa proses toning (memberi warna). Kalau ada yang kepingin nerangin warna rambut tapi gak mau bleaching, ini bisa jadi salah satu alternatif pilihan. Kondisi rambut sesudahnya pun gak berasa rusak atau gimana-gimana. Buat Teman-teman yang kepingin rambut coklat dalam satu kali ngecat, bisa coba varian warna lainnya yang berfungsi toning juga, tinggal disesuaikan aja dengan hasil akhir yang dimaui. Btw ini saya ga dapet endorse lho *uhuk* Pakai highlift merk lain pun tak apa hahaha.

Setelah ini, saya kayanya bakal harus ngecat lagi dengan warna ashy untuk mengatasi brassy di atas. Meski ketika indoor cokelatnya terlihat oke, tapi  setelah keluar ruangan, warna emas-emasnya itu jadi muncul, bikin malu aja πŸ˜… Masih menimbang-nimbang sih, mau pakai cat apa. Yang jelas apapun itu yang penting semoga bisa terlaksana trus bikin reviewnya di marih πŸ˜‰





Wednesday, March 11, 2020

Review: Revlon Nail Enamel Shade 128 Slate, 041 Granite, & 161 Teak Rose



Kuteks favorit saya sebetulnya adalah Nail Vita dari Skinfood. Kualitasnya oke dan harganya cukup affordable. Pengaplikasiannya yang smooth, effortless, mistake-proof dengan hasil yang langsung opaque in only one thin coat membuat seorang amatir sekalipun bisa menghasilkan karya rapi bak seorang pro. Saya masih menyimpan satu warna as my-go-to nail polish, dibeli dari Korea via Ebay sekitar 5 tahun lalu dan kondisinya masih bagus hingga tulisan ini diposting.

Tapi namanya cewek ya, suka penasaran juga sama brand lain. Suatu ketika dapet kesempatan nyobain kuteks Revlon varian Colorstay Longwear Nail Enamel shade Indigo Night, ternyata enak banget. Teksturnya mudah diblend dan sangat pigmented. Warnanya langsung jadi pada polesan pertama. Kuasnya juga nyaman sehingga hasil polesnya jadi rapi. Sayangnya line ini varian warnanya terlalu bold buat selera saya, berasa kaya tante-tante (padahal emang udah tante-tante *dilempar*), plus udah discontinued *sigh*. Tapi karena masih penasaran sama brand Revlon saya memutuskan untuk mencoba line nail enamelnya yang reguler.

Ini fotonya a bit too warm dibanding aslinya.



Ini kayanya warna sejuta umat. Nyari-nyari review di internet, umumnya swatch yang ada ya seputar shade ini aja. Untuk shade Teak Rose, warnanya pink manis tapi gak gonjreng. Muted pink mungkin cocok untuk menggambarkannya dalam kata-kata. Sementara shade Granite dan Slate basic warnanya coklat, semacam dark nude. Slate cenderung yellowish mirip warna permen karamel. Granite warnanya pinkish brown, atau brownish pink yaa? Bingung juga. Lumayan susah mengcapture warna riil dari Granite ini.  Sekilas mirip susu mocca kalau di tempat gelap. Tapi di bawah pencahayaan yang banyak, tone pinknya keluar banget. Warnanya jadi semacam dark mauve. Saya sebetulnya paling suka Teak Rose karena warnanya syantiiik. Tapi yang terlihat flattering buat kulit saya malah Slate. Warnanya cukup kalem dan natural, bisa jadi andalan kalau pas butuh tampil gak mencolok semacam undangan acara di sekolah anak.

Revlon Nail Enamel teksturnya agak creamy dan saya biasanya lemah pakai kuteks jenis ini. Meski cukup pigmented, susah diratain karena kuasnya pun kurang luwes, susah megar. Pakainya harus hati-hati sekali. Apalagi saya tipe yang tangannya gampang goyang, rawan mbleber sana sini. Awal-awal nyobain, saya gak suka karena hasilnya kurang rapi. Akibat warna yang susah rata, harus dipoles sampai tiga layer. Jadi tebal, jelek dan pinggirannya kurang rapi.

Sempat nyerah, kuteks dianggurin 1-2 minggu dan saya pun menyusun tulisan negative review tentang Revlon Nail Enamel hahaha. Tapi suatu hari entah kenapa penasaran kepingin nyoba lagi. Ehh saya malah nemu trik aplikasi yang lumayan fail proof. Jadi caranya, ambil produk agak banyak dalam satu kali celup, kumpulkan secara merata di pangkal kuku, lalu tarik pelan-pelan dalam tiga sapuan ringan (jangan ditekan) membentuk garis lurus ke arah ujung kuku dengan urutan: tepi, tepi, tengah. Agak tricky juga ngira-ngira ambilnya, kebanyakan dikit bisa jadi mbleber, sementara kalau kurang warnanya jadi gak rata. Tapi kalau berhasil, sekali poles aja langsung jadi. Dan untuk ukuran kuteks creamy, keringnya si Revlon ini di kuku relatif sangat cepat. Sekali kering, dia langsung padat dan glossy, tanpa top coat sekalipun. Dipakai buat tidur, ketindih kegores-gores sprei dan sarung bantal gak ngecap. Hasilnya, saya pun sukses bikin full swatch ketiga shade tersebut seperti di bawah ini.

Swatch Revlon Enamel Teak Rose

Swatch Revlon Nail Enamel Slate

Swatch Revlon Nail Enamel Granite

Sayangnya, ada satu hal yang kurang oke dari pengalaman pakai Revlon Nail Enamel. It has bubble issue, suka muncul gelembung kecil-kecil yang mana munculnya tak terduga. Jadi setelah selesai  poles-poles dan udah rata, nanti tiba-tiba muncul titik-titik gelembung udara. Gelembung-gelembung ini munculnya tak terduga, kadang langsung muncul, kadang muncul tapi samar sekali, kadang mulus-mulus aja. Tapi yang paling parah adalah sewaktu saya pakai shade Granite untuk keperluan swatch di blog ini, gelembungnya muncul belakangan dan banyak pula. Kebetulan saya kelupaan pakai base coat saking semangatnya, bisa jadi itulah penyebabnya karena sewaktu pakai base coat gak separah ini. Foto swatch di atas dan di bawah diambil dalam kurun waktu yang berbeda. Foto di atas adalah sesaat setelah kering, sementara yang di bawah adalah sekitar dua jam setelahnya. Foto di atas kukunya keliatan mulus ya, tapi yang di bawah jadi bruntusan kaya muka jerawatan.   


Keliatan gak 'jerawatnya'?

Saya coba googling sana sini, rupanya salah satu penyebab munculnya gelembung itu karena pengocokan botol kuteks yang berlebih sebelum pemakaian. Akibatnya udara akan terperangkap di dalam cairan kuteks, membentuk gelembung, dan perlahan-lahan naik ke permukaan, meski sudah dipoles di kuku sekalipun. Hmmm iya sih, saya memang kebiasaan ngeblend cairan kuteks dengan cara mengocok penuh semangat. Tapi tapi tapi... pakai kuteks lain kok enggak πŸ˜• Yah bisa jadi karena cuma kuteks Revlon ini yang saya polesnya tebal-tebal, sementara kuteks lain cenderung poles tipis-tipis aja. Habis gimana lagi, saya gak bisa menghasilkan warna kuku yang rapi dengan cara lain.

Final verdict
Pros:
- harga cukup affordable
- pilihan warna sangat banyak
- relatif cepat kering dan padat (gak gampang kegores)

Cons:
- pengaplikasian agak tricky
- suka muncul gelembung udara yang tak terduga

Will I repurchase?
Not quite sure. Mungkin yang berikutnya nyoba peruntungan dengan kuteks Revlon yang varian Colorstay Longwear Gel Envy aja.


Friday, October 5, 2018

Review Masker Perawatan Rambut Rusak: Joico K-Pak Intense Hydrator

Saya pernah bercerita sedikit di sebuah tulisan beberapa waktu yang lalu tentang upaya mencari produk perawatan yang bisa mengembalikan kondisi rambut saya setelah disiksa sedemikian rupa oleh beberapa kali pewarnaan permanen, 2x highlift dan 2x bleaching. Jujur, setelah pengalaman hari itu, ternyata saya udah gak minat nyobain lagi. Kelamaan, buang-buang waktu. Jadi saya putuskan untuk mempertahankan sebagian dan sisanya cepet-cepet disingkirkan, entah dijual, entah dihabiskan. Salah satu yang saya pertahankan adalah Joico K-Pak Intense Hydrator.

 

Joico adalah merk produk perawatan rambut dari USA. Sementara K-Pak line adalah varian produk Joico yang dikhususkan sebagai perawatan protein bagi rambut kering atau rusak entah karena bleaching, pewarnaan, catok, perming,..... you name it. Varian K-Pak diklaim mengandung komponen protein yang dapat diserap dengan mudah oleh batang rambut. Meski banyak dapat acungan jempol di luar sana, produk ini sepertinya kurang lazim di Indonesia sehingga tidak mudah diperoleh. Beruntung saya menemukan suplier produk salon yang menjualnya di marketplace lokal. Cuman ya harganya sih gak main-main. Setube isi 250ml sekitar 250ribu. Tapi ini irit banget.

Seperti terlihat pada gambar, tubenya besar. Tutupnya berupa fliptop. Isinya berwarna putih dengan tekstur semacam conditioner. Wanginya lembut, enak.

Ingredients: Water/Aqua/Eau, Cetearyl Alcohol, Glycerin, Behentrimonium Chloride, Cetyl Esters, Lanolin, Pentapeptide-29 Cysteinamide, Pentapeptide-30 Cysteinamide, Tetrapeptide-28 Argininamide, Tetrapeptide-29 Argininamide, Hydrolyzed Keratin, Cocodimonium Hydroxypropyl Hydrolyzed Keratin, Hydrolyzed Keratin PG-Propyl Methylsilanediol, Hydrogenated Olive Oil, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Olea Europaea (Olive) Oil Unsaponifiables, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Aleurites Moluccana Seed Oil, Hydrolyzed Wheat Protein, Psidium Guajava Fruit Extract, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Oenothera Biennis (Evening Primrose) Oil, Tocopheryl Acetate, Hyaluronic Acid, Glycolipids, Amodimethicone, Isopropyl Alcohol, Panthenyl Hydroxypropyl Steardimonium Chloride, Ceteareth-20, Citric Acid, Tetrasodium EDTA, Trideceth-12, Cetrimonium Chloride, Benzophenone-4, Hydrolyzed Wheat Starch, Thioctic Acid, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Allantoin, Sodium Ascorbyl Phosphate, Sodium Hydroxide, DMDM Hydantoin, Methylparaben, Hexyl Cinnamal, Limonene, Benzyl Salicylate, Fragrance/Parfum.


Ini buat apa?
Ini digunakan pada rambut lembab (towel dried, bukan basah kotos-kotos) sehabis keramas seperti menggunakan conditioner atau masker rambut biasa. Aplikasikan secukupnya pada batang rambut, bukan kulit kepala, ratakan dengan cara disisir pakai jari. Ambil produknya gak perlu banyak-banyak karena memang sedikit aja sudah cukup. Tunggu sekitar 3-5 menit lalu bilas. Saya biasanya gak sesabar itu jadi baru satu menit sudah dibilas hehe... Tapi hasilnya tetap nendang kok.

Selain menjadi conditioner biasa, Intense Hydrator ini ternyata juga bisa jadi leave-in conditioner. Jadi kalau saya lagi buru-buru, saya aplikasikan ke rambut tanpa dibilas. Rambut jadi berasa halus banget, mudah diatur, dan ajaibnya gak lepek, balik ke tekstur normalnya. Tapi jangan terlalu sering menggunakan cara ini. Mungkin yah cukup satu kali dalam seminggu. Pengalaman saya, jarak pemakaian sebagai leave-in yang terlalu dekat membuat rambut jadi agak frizzy.

Final verdict?
Juara lah. Saya gak ada rencana ganti produk lain, di samping karena tubenya yang gede bener, setahun juga mungkin gak abis.

Sunday, May 27, 2018

Hair Experiment & Review: Cat Rambut Miranda MC2, MC13, &MC16 (Before & After Picture)


Note: Review khusus buat reader cewek 😊
Reader cowok bisa main ke updated review di bawah siniπŸ‘‡
**(UPDATE - review lanjutan + Before-After) πŸ‘ˆ klik di sini


Hampir setahunan ini saya ketagihan main bleaching. Awalnya cuma ujung-ujung aja (ombre) lalu sedikit demi sedikit berani agak pede dengan mulai nyoba balayage dan bikin babylights (semacam highlights tapi lebih samar dan natural). Ehh ternyata bleaching itu jadi nagih buat saya. Soalnya bikin takjub, tadinya warnanya gini, eh bisa jadi gitu. Kaya nonton sulap. Jadilah kalo lagi suntuk, saya suka iseng nambahin helai rambut buat dibleaching wakakakaka...... Alhasil, rambut di kepala yang tadinya babylights sekarang mulai jadi highlights, mana chunky lagi a.k.a banyak-banyak.

Trus sekarang jadi bingung, ni rambut warnanya brassy belang-belang enaknya diapain. Ada yang berhasil sampe level 9-10 (kuning-kuning pucat), ada yang masih stuck di oranye keemasan dan oranye kemerahan. Kalau pakai color wheel theory, saya butuh banyak warna buat melawan brassiness hasil keisengan ini wahaha....

Tahapan bleaching rambut

Color wheel theory (sumber)


Saya jadi ingat, pernah nemu video bule (di sini) tentang cara praktis membasmi warna brassy di rambut dark blonde pakai cat semi permanen warna silvery grey. Kalau menurut gambar color wheel di atas, sebetulnya warna abu-abu gak masuk hitungan untuk color correction. Tapi si cewek bule tadi sukses tuh, hasilnya oke. Saya jadi penasaran juga toh.

Nah selanjutnya saya pun hunting cat rambut warna abu-abu. Yang jadi masalah, pewarna rambut semi permanen sepertinya kurang populer. Merk yang bisa dibeli secara bebas sangat terbatas pilihannya. Mau ikut PO jastip atau cari di Ebay agak males, soalnya cuma mau coba-coba ini, mending murah-murah aja dulu lah. Satu merk yang cukup menarik perhatian saya adalah Miranda. Varian warnanya yang terbaru sepertinya cukup ngehits juga, MC-16 dengan label Ash Blonde. Kalo gambar rambut cewek di boksnya sih bukan blonde tapi abu-abu. Entah gimana nanti hasilnya. Kalaupun gagal, harga sembilan ribuan sih mestinya gak bikin nyesek-nyesek amat.

Selain Miranda shade MC-16 Ash Blonde, saya juga jaga-jaga beli MC-2 Blue untuk melawan oranye dan MC-13 Rose Purple untuk melawan kuning. Rencananya mau dicampur semua dengan perbandingan 1 tube MC-16 dan masing-masing sekitar 1/3 atau 1/2 tube untuk MC-13 dan MC-2.

Bahan-bahan yang digunakan

Kelengkapan isi boks

Petunjuk bahasa Indonesia
di samping boks

Petunjuk Bahasa Inggris
di sisi satunya

Peralatan mewarnai rambut
Jangan lupa tisu dan cermin

Hari Pertama - Miranda MC-2 dan MC-13
Saya awalnya mencampurkan warna biru dan rose purple terlebih dahulu. Perbandingannya 1/3 tube (10gr) biru dan 1/2 tube (15gr) rose purple. Di atas, saya sempat menyebutkan ada rencana mencampur ketiga warna Miranda yang saya beli. Tapi setelah meracik warna biru dan rose purple, saya ganti rencana. Mendadak inget, saya pernah nemu beberapa review bahwa mencampur biru dan rose purple bisa menghasilkan warna abu-abu juga. Okelah coba ini aja dulu. Langsung saya tuang aja developer 10vol Makarizo dengan takaran 25gr (ratio 1:1 dengan krim pewarnanya).

Timbangan dapur digital
Murah kok, cuma 30an ribu

Saya baru kali ini kenalan langsung sama pewarna rambut Miranda. My first impression adalah aroma amonianya alamaakkkk..... Sumpah gak tahan, pengen muntah. Saya sampai ngacir pindah tempat ke area rumah yang lebih terbuka. Waktu lihat adonan pewarnanya, saya sempet bimbang. Duh apa tega ya rambut ini ditemploki benda yang baunya menjijikkan gini.

Akhirnya tetep ditega-tegain aja sambil meringis-ringis nahan bau. Dan ternyata warna hasilnya adalah gelap segelap-gelapnya.... Rambut saya jadi jet black a.k.a level 1 wakakakakaka.... Mungkin harusnya saya ikut-ikutan nyampur pakai conditioner kaya orang-orang biar warnanya gak terlalu kuat. Yahh namanya juga baru pertama nyoba. Well oke, katanya Miranda ini gampang luntur. Kayanya saya jadi harus sering keramas nih.

Hari Ke Dua - MC-16 Ash Blonde
Sebelumnya, ketika mengecat pakai MC-13 dan MC-2, saya membagi rambut saya menjadi 3 layer horisontal, dari luar ke dalam. Karena rambut saya panjang dan helaiannya banyak, adonannya gak cukup untuk semuanya, jadi saya batasi hanya kena layer pertama (terluar) sampai layer ke dua saja. Nah layer ke tiga yang tak tersentuh adalah yang paling dalam. Layer ini adalah area rambut yang paling banyak kena eksperimen bleaching, jadi paling terang. Potensial diwarnai apapun sehingga cocok untuk eksperimen ash blonde.

Nahh Miranda MC-16 ini ternyata agak beda. Sepertinya isinya sudah mengalami revisi. Sebelum menuangkan krim developer, saya sempat menyiapkan mental, bersiap untuk menghadapi lagi aroma yang memabukkan. Eh ternyata tidak, sodara-sodara, memang baunya masih ada tapi gak terlalu kuat. Sewaktu eksekusi dua warna yang sebelumnya, saya rasanya kaya duduk di dalam got mampet yang mana air gotnya buat keramas huhu.... Yang ini enggak. Sebagai orang yang sudah biasa mewarnai maupun bleaching rambut sendiri, saya menganggap Miranda shade MC-16 memiliki aroma amonia yang masih bisa ditolerir.

Ada satu lagi yang saya perhatikan. Pewarna rambut Miranda ini pedes di mata. Ehhh saya bukannya ngolesin ke mata lho. Tapi kalau pas ngerjain rambut sekitar wajah (fringe area), mata berasa semriwing. Beneran kuat banget amonianya. Jadi rambut di fringe area musti ditarik jauh-jauh dari wajah sewaktu mengaplikasikan pewarnanya.

Hasilnya
Sewaktu proses pewarnaan, entah kenapa sepertinya
ada segumpal rambut yang ketinggalan.
Baru liat pas udah dibilas.
Tapi jadinya malah jadi gampang buat bikin penampakan before-afternya.

Di atas, saya sempat komentar kan bahwa gambar rambut cewek di kotaknya bukan ash blonde melainkan abu-abu. Ternyata memang hasil warnanya abu-abu gelap, plus ada samar-samar kehijauan. Hijaunya seperti apa yaa, mungkin bisa dibayangkan semacam perpaduan lumut dan lumpur. Lalu di bagian rambut yang bleachingnya gak sampai kuning terang (hanya oranye kemerahan), warna brassy orange-nya berhasil hilang tapi gak jadi lebih gelap ketimbang bagian ujung. Jadinya rambut saya yang sebelumnya gradasi gelap ke terang, hasilnya malah jadi belang. Bagian atas yang masih virgin berwarna gelap, masuk ke area bleaching bertransisi menjadi cokelat, tapi di ujung balik gelap lagi menjadi keabu-abuan.

Setelah 3-4 kali cuci rambut,
MC-16 mulai pudar abu-abunya

menjadi greyish blonde

Setelah 5-6 kali cuci rambut
Greyish blonde hasil dari MC-16 

yang ada di foto sebelumnya 
memudar jadi dark ash blonde.
Sementara rambut hitam hasil
gabungan MC-2 dan MC-13
memudar jadi abu-abu

Kesimpulannya?
- Gabungan shade MC-2 dan MC-13 menghasilkan warna gelap dan dapat memudar menjadi abu-abu (pure grey).
- Shade MC-16 Ash Blonde pada rambut yang dibleaching sampai kuning (level 9-10) hasilnya abu-abu gelap agak kehijauan dan dapat memudar jadi light ash brown atau dark ash blonde.
- Shade MC-16 Ash Blonde dapat mengurangi brassy pada rambut oranye menjadi cokelat natural.
- Berbeda dengan MC-2 dan MC-13, aroma amonia pada MC-16 jauh lebih samar
- Pewarna rambut Miranda mengeluarkan gas amonia yang kuat sehingga berasa pedas di mata. Sebaiknya mengaplikasikannya dijauhkan dari wajah
- Harganya murah meriah
- Mudah dibeli secara online
- Catatan pribadi: Aroma conditioner bawaannya lebih mirip body lotion dan gak terlalu membantu menutupi sisa-sisa bau amonia setelah dibilas.
- Pada Miranda MC-16, rupanya ada tiga macam warna swatch yang ditunjukkan di boksnya. Jadi bagaimana kesesuaian hasil dengan swatchnya? Hmmm disimpulkan sendiri dari gambar di bawah ini aja deh

Timeline hasil pewarnaan
di bawah natural light
Menurut saya, pewarna rambut Miranda ini lumayan oke, dapat menjadi alternatif pilihan andai dalam keadaan darurat harus nutup rambut yang gagal hasil bleaching. Ketidakawetan warnanya justru menguntungkan karena gak membuat saya terpaksa terikat pada satu warna rambut dalam jangka waktu lama. Sembari menunggu warnanya memudar, bisa memberi waktu berpikir enaknya setelah ini rambutnya diapain lagi yaa. Tapi secara pribadi, baunya sebetulnya bikin agak-agak males mengulang pengalaman ini lagi haha.....

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...