Monday, October 8, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 2] - Tips Bleaching Sehat

Jangan lupa cek Part 1 juga ya. Ada rumus buat dapetin warna abu-abu lho 😊👇
<<< Part 1 - Mengapa Harus Bleaching? 

Kata kunci untuk bisa melakukan bleaching sehat adalah satu: SABAR. Orang sabar disayang Tuhan, ya kan.... Kesabaran sangat diperlukan baik dalam menjalani proses bleaching maupun membekali diri dengan ilmu tentang bleaching. Bagaimanapun rambut kan mahkota kita, perlu berhati-hati dalam memperlakukannya. Tentu lebih baik mencegah daripada tampil di depan umum dengan rambut rusak.

Level Rambut
Ini bekal awal yang berguna ketika kita mulai bermain-main dengan warna rambut. Jika sudah memahami ilmu level rambut, kita bisa mengaplikasikan bleaching maupun krim pewarna dengan penuh kepastian akan tujuan hidup hahaha... #apasih Yah maksudnya sih supaya bisa tahu kita sedang memulai dari mana dan akan berakhir seperti apa. Semacam: oke sekarang rambut saya level 2, saya mau warna di kotak yang merupakan level 8, jadi saya perlu bleaching sampai 6 level.

Level Rambut 1 s.d 10
1 Black
2 Very Dark Brown
3 Dark Brown
4 Medium Brown
5 Light Brown
6 Dark Blonde
7 Medium Blonde
8 Light Blonde
9 Very light Blonde
10 Lightest Blonde

Pic source

Nah level itu sebetulnya apa sih?
Level adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkatan gelap terang warna rambut. Level 1 melambangkan rambut warna hitam sementara level 10 adalah warna rambut pirang paling terang. Semakin tinggi level rambut, semakin mudah diwarnai karena pigmen di dalamnya semakin terang. Maka dari itu, agar rambut bisa berwarna-warni, diperlukan proses bleaching hingga mencapai level 10. Level 1 yang mana adalah hitam gelap biasanya dihasilkan dari pewarna buatan. Sedangkan rambut hitam natural umumnya dikategorikan level 2 atau 3 yakni cokelat gelap. Dengan demikian, masih diperlukan perjalanan panjang untuk menuju level 10 bagi rambut orang Asia. Inilah alasan banyak orang kemudian mengambil jalan pintas dengan cara menggunakan developer tingkat tertinggi yang ada di pasaran agar rambutnya cepat terang. Memang betul bisa berhasil pakai cara begitu, cuma..... Mending kita belajar sedikit dulu deh mengenai developer.

Bleaching Dengan Developer 40vol
Apa sih developer itu? Buat yang pernah nyoba ngecat rambut sendiri pasti cukup familiar dengan cairan satu ini. Semua krim pewarna pasti mensyaratkan untuk dicampur dengan developer. Banyak krim pewarna maupun bleaching yang dijual sudah sepaket dengan developernya supaya praktis tinggal pakai. Cairan developer mengandung senyawa hidrogen peroksida yang diperlukan untuk mengaktivasi zat-zat kimia yang terkandung di dalam krim pewarna maupun bleaching. Pada krim pewarna permanen misalnya, zat kimia di dalamnya berfungsi untuk membuka kutikula, menghilangkan sebagian pigmen warna hingga naik 1-2 level, dan memasukkan pigmen warna bawaannya. Tanpa bantuan developer, zat kimia tersebut tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian pula halnya dengan produk bleaching. Developer diperlukan agar bleaching bisa masuk ke dalam batang rambut dan mengoksidasi pigmen supaya menjadi tak berwarna.

Semakin tinggi developer yang digunakan pada larutan bleaching, maka akan semakin kuat dan cepat level rambut dinaikkan. Itu anggapan yang sudah umum dan memang betul adanya. Tapi yang seringkali luput dari perhatian adalah semakin tinggi kandungan hidrogen peroksida di dalam developer, yang mana diinfokan dalam bentuk persentase maupun vol, maka semakin besar pula tingkat kerusakannya. Dan jeleknya, seringkali kutikula udah habis-habisan dibuka, tapi pigmen pheomelanin (merah, kuning) yang rada bandel ternyata masih ketinggalan. Pernah lihat orang yang rambutnya kuning keoranyean seperti warna karat besi dengan tampilan kusam dan terkadang tampak kaku seperti sapu? Yes, itu adalah salah satu contoh hasil dari penggunaan developer yang terlalu kuat tapi pengangkatan pigmennya tidak tuntas.

Common sense:
10vol mengangkat 1-2 level
20vol mengangkat 2-3 level
30vol mengangkat 3-4 level
40vol mengangkat 4-5 level
dst

Anggapan di atas, meski berlaku secara umum, tidak bersifat universal karena kondisi tiap rambut berbeda-beda. Perlu dipertimbangkan juga kondisi kesehatan dan kekuatan rambut. Selain itu, kualitas dan daya angkat produk bleaching yang dipakai juga akan menentukan hasil yang diperoleh.

Pic source

Pic source


Underlying Pigment
Underlying pigmen adalah pigmen yang tersimpan di dalam tiap batang rambut yang menjadi penentu warna alami rambut kita. Semakin gelap warna rambut, susunan pigmen semakin kompleks. Pembagian pigmen erat kaitannya dengan kategori level rambut yang sudah dijelaskan di atas. Warna-warna yang dikandung oleh pigmen-pigmen tersebut akan bermunculan ketika rambut mengalami proses pengangkatan warna. Saya pernah sedikit menyinggung tentang ini di tulisan Part 1 terdahulu. Sebagai pedoman, kita dapat menggunakan chart pada gambar berikut:

Pic source

Pada level 10 hasil bleaching, rambut sudah seperti kanvas bersih yang siap diwarnai apapun. Tapi jangan salah, level 10 itu tidak berwarna putih tapi kuning pucat yang mirip warna pisang bagian dalam alias daging buahnya (bukan kulitnya lho). Warna kuning pucat tersebut berasal dari ikatan komponen protein yang tersisa di dalam rambut. Jadi, setelah level 10 jangan bleaching lagi sampai putih karena ketika semua pigmen sudah dikeluarkan maka rambut akan berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan sudah dipastikan rusak parah. Gak mau kan ya...

Pengetahuan tentang keberadaan pigmen ini akan sangat membantu ketika kita ingin mengganti warna rambut. Tidak semua warna membutuhkan bleaching maksimal. Warna cokelat terang (light brown), misalnya, membutuhkan unsur warna merah. Oleh karena itu, warna rambut gelap cukup diangkat maksimal sampai dengan tahapan oranye saja di mana masih ada pigmen kemerahan di dalam rambut kita. Bahkan jika menginginkan warna cokelat yang tidak terlalu mencolok, bisa saja tidak dibutuhkan bleaching karena ada cat permanen jenis highlift yang memiliki kemampuan mengangkat warna rambut sampai 2-3 level kemudian mewarnainya.

Sedikit Tips Dan Trik Bleaching Sehat
1. Pakailah developer dengan kandungan peroksida rendah.
Ingat, rahasia bleaching sehat adalah sabar. Memakai developer 40vol memang cepat tapi itu namanya tidak sabaran. Lalu pakai yang berapa dong? Pakai yang 10vol atau 20vol maksimal. What?? Lama dong. Hehe kan emang harus bersabar. Jika terpaksa, bisa menggunakan 30vol untuk waktu yang cukup singkat tapi sebaiknya menghindari 40vol. Proses bleaching, untuk mudahnya, bisa diibaratkan menggoreng ayam tepung. Dengan besar api yang sesuai, ayam bisa matang sempurna. Kalau kegedean apinya, luarnya udah gosong tapi dalemnya belum mateng. Prinsip ini penting untuk diingat.

2. Gunakan foil
Gak harus foil sih. Kalau bleachingnya sekepala bisa pakai topi mandi atau kantong kresek untuk versi ekonomisnya.  Foil sendiri berguna untuk mengisolasi panas yang dihasilkan adonan bleaching sekaligus mencegah krim bleaching mengering akibat dibiarkan terbuka di udara. Ketika sudah kering, bleaching akan berhenti bekerja. Waktu efektif zat bleaching umumnya adalah 1 jam maksimal mentok, boleh kurang, jadi optimalkan waktu yang ada. Bisa dipercepat dengan dibantu dipanasi hair dryer tapi tadi rencananya kita kan mau bersabar, ya kan ya kan...

3. Lakukan secara bertahap
Rambut Asia memang butuh perjalanan panjang untuk mencapai level 10 sehingga mutlak dibutuhkan kesabaran. Jika dalam satu kali sesi bleaching masih belum mencapai level yang diinginkan, beri jeda dan ulangi di lain hari. Idealnya jarak antara sesi bleaching satu dengan berikutnya adalah minimal satu minggu. Dengan demikian rambut memiliki cukup kesempatan untuk memulihkan diri sejenak dari stres kimiawi. Jangan lupa lakukan perawatan ekstra di sela-sela sesi bleaching.

Tahapan bleaching dipengaruhi pigmen rambut
Pic Source

4. Cek daya angkat produk bleaching yang sudah dibeli.
Sebelum membuka bungkus bleaching, sebaiknya dicari dulu keterangan berapa level maksimal yang bisa dicapai. Sebagai contoh, kemasan bubuk bleaching Makarizo mencantumkan daya angkat hingga 3 level. Jika menggunakan produk ini, dari rambut asli level 2, pencapaian yang memungkinkan dari bleaching sesi pertama adalah level 5. Jika benar, maka bleaching ke dua mungkin bisa mencapai level 8. Jadi kemungkinan baru pada bleaching ke tiga lah tercapai level 10. Satu hal yang perlu diperhatikan, saya menggunakan kata 'mungkin' di atas karena keterangan daya angkat tersebut bukan angka pasti. Kondisi tiap rambut berbeda-beda. Ada yang mudah, ada yang susah. Apalagi kalau rambutnya sudah pernah diwarnai dengan warna gelap. Untuk itu, perlu dilakukan cek perkembangan reaksi bleaching setelah 15 menit berlalu dan berikutnya setiap 5 menit.

5. Menggunakan produk bleaching yang bagus a.k.a branded (opsional).
Tips ini opsional karena harus merogoh kocek agak dalam. Penjelasan sederhananya, produk bleaching profesional yang bagus, selain memiliki daya angkat lebih besar (menaikkan sekitar 7-9 level), juga dilengkapi dengan komponen kimiawi yang meminimalkan proses kerusakan (conditioning agent) dan mengurangi kemungkin munculnya warna yang tidak diinginkan a.k.a brassy. Produk yang semacam ini biasanya jarang dijual bebas di luar salon profesional dan kalaupun ada, mahal beud. Diperlukan kebulatan tekad sekuat baja dalam menginginkan bleaching sehat untuk mau berinvestasi pada produk yang terbaik, di samping kantong yang tebal tentunya.
*Update: Saya berkesempatan mencicipi bleaching merk Joico varian Creme Bleaching. Dalam satu kali proses (rambut virgin) bisa mencapai level 7-8-9 hanya dengan developer 20vol. Sayang harganya lumayan mencekik haha....

6. Menggunakan suplemen bonding agent (opsional juga).
Apa lagi ini? Produk hasil teknologi mutakhir untuk ditambahkan ke dalam adonan bleaching atau pewarna yang berfungsi untuk memperkuat ikatan struktur tiap helaian rambut sehingga dapat meminimalkan terjadinya kerusakan meski menggunakan developer 40vol sekalipun. Silakan search Olaplex, Smartbond, atau Redken pH Bonder. Silakan search juga harganya xixixixi..... Ono rego, ono rupo. Ada kualitas, ada harga. Sayangnya produk-produk tersebut tidak mudah diperoleh di sini. Ada juga stylist lokal yang jualan produk sakti yang diklaim sebagai racikannya sendiri dan katanya bisa menyehatkan rambut setelah bleaching. Kalau yang ini saya kurang tahu karena belum pernah nyobain.

7. Last but not least: Perawatan Ekstra
Bleaching adalah proses yang non reversible alias tidak bisa dibalik. Lapisan kutikula yang terbuka dan ikatan kimia dalam rambut yang terputus tidak akan bisa kembali pulih seperti semula. Rambut sudah rusak tanpa bisa dihindari. Dibutuhkan bantuan berbagai macam suplemen perawatan rambut untuk membantu merapikan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh proses bleaching . Ingat ya, hanya merapikan, tidak bisa mengembalikan seperti aslinya. Kondisi rapi ini sewaktu-waktu bisa berantakan lagi, tergantung bagaimana rambut diperlakukan. Maka dari itu, perawatan rambut bleaching perlu dilakukan secara berkala agar rambut selalu terlihat sehat.


Yakk sekian saja tulisan saya tentang bleaching sehat. Semoga informasi yang saya bagi ini bisa memberikan sedikit manfaat dan secercah cahaya pengetahuan bagi yang masih maju mundur cantik untuk bleaching. Jika dirasa masih kurang, perbanyak ngepoin chanel, artikel, maupun forum hairdresser profesional. Do your own research. Dan kadang kalau belum ngerasain sendiri tuh rasanya belum mantep.
It's Ok. Just go for it!! 💪



Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Friday, October 5, 2018

Review Masker Perawatan Rambut Rusak: Joico K-Pak Intense Hydrator

Saya pernah bercerita sedikit di sebuah tulisan beberapa waktu yang lalu tentang upaya mencari produk perawatan yang bisa mengembalikan kondisi rambut saya setelah disiksa sedemikian rupa oleh beberapa kali pewarnaan permanen, 2x highlift dan 2x bleaching. Jujur, setelah pengalaman hari itu, ternyata saya udah gak minat nyobain lagi. Kelamaan, buang-buang waktu. Jadi saya putuskan untuk mempertahankan sebagian dan sisanya cepet-cepet disingkirkan, entah dijual, entah dihabiskan. Salah satu yang saya pertahankan adalah Joico K-Pak Intense Hydrator.

 

Joico adalah merk produk perawatan rambut dari USA. Sementara K-Pak line adalah varian produk Joico yang dikhususkan sebagai perawatan protein bagi rambut kering atau rusak entah karena bleaching, pewarnaan, catok, perming,..... you name it. Varian K-Pak diklaim mengandung komponen protein yang dapat diserap dengan mudah oleh batang rambut. Meski banyak dapat acungan jempol di luar sana, produk ini sepertinya kurang lazim di Indonesia sehingga tidak mudah diperoleh. Beruntung saya menemukan suplier produk salon yang menjualnya di marketplace lokal. Cuman ya harganya sih gak main-main. Setube isi 250ml sekitar 250ribu. Tapi ini irit banget.

Seperti terlihat pada gambar, tubenya besar. Tutupnya berupa fliptop. Isinya berwarna putih dengan tekstur semacam conditioner. Wanginya lembut, enak.

Ingredients: Water/Aqua/Eau, Cetearyl Alcohol, Glycerin, Behentrimonium Chloride, Cetyl Esters, Lanolin, Pentapeptide-29 Cysteinamide, Pentapeptide-30 Cysteinamide, Tetrapeptide-28 Argininamide, Tetrapeptide-29 Argininamide, Hydrolyzed Keratin, Cocodimonium Hydroxypropyl Hydrolyzed Keratin, Hydrolyzed Keratin PG-Propyl Methylsilanediol, Hydrogenated Olive Oil, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Olea Europaea (Olive) Oil Unsaponifiables, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Aleurites Moluccana Seed Oil, Hydrolyzed Wheat Protein, Psidium Guajava Fruit Extract, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Oenothera Biennis (Evening Primrose) Oil, Tocopheryl Acetate, Hyaluronic Acid, Glycolipids, Amodimethicone, Isopropyl Alcohol, Panthenyl Hydroxypropyl Steardimonium Chloride, Ceteareth-20, Citric Acid, Tetrasodium EDTA, Trideceth-12, Cetrimonium Chloride, Benzophenone-4, Hydrolyzed Wheat Starch, Thioctic Acid, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Allantoin, Sodium Ascorbyl Phosphate, Sodium Hydroxide, DMDM Hydantoin, Methylparaben, Hexyl Cinnamal, Limonene, Benzyl Salicylate, Fragrance/Parfum.


Ini buat apa?
Ini digunakan pada rambut lembab (towel dried, bukan basah kotos-kotos) sehabis keramas seperti menggunakan conditioner atau masker rambut biasa. Aplikasikan secukupnya pada batang rambut, bukan kulit kepala, ratakan dengan cara disisir pakai jari. Ambil produknya gak perlu banyak-banyak karena memang sedikit aja sudah cukup. Tunggu sekitar 3-5 menit lalu bilas. Saya biasanya gak sesabar itu jadi baru satu menit sudah dibilas hehe... Tapi hasilnya tetap nendang kok.

Selain menjadi conditioner biasa, Intense Hydrator ini ternyata juga bisa jadi leave-in conditioner. Jadi kalau saya lagi buru-buru, saya aplikasikan ke rambut tanpa dibilas. Rambut jadi berasa halus banget, mudah diatur, dan ajaibnya gak lepek, balik ke tekstur normalnya. Tapi jangan terlalu sering menggunakan cara ini. Mungkin yah cukup satu kali dalam seminggu. Pengalaman saya, jarak pemakaian sebagai leave-in yang terlalu dekat membuat rambut jadi agak frizzy.

Final verdict?
Juara lah. Saya gak ada rencana ganti produk lain, di samping karena tubenya yang gede bener, setahun juga mungkin gak abis.

Tuesday, October 2, 2018

Bukan Movie Review: Kenapa Harus Bule?


Bukan review, ini cuma cerita aja. Jadinya sebagian besar adalah pendapat pribadi, murni hasil pandangan sebagai penonton jelata. Yang pasti, beware, spoiler di mana-mana......

Terus terang saya aslinya kurang minat waktu liat trailernya yang sering nongol di halaman utama Viu. Kesan saya adalah semacam, "This is going to be quite cringy."
Pass aja lah, back to drakor, kembali pada niat awal saya menginstal Viu yakni semata-mata hanya untuk nonton drakor. Tapi kenapa akhirnya jadi nonton? Karena baru saja khatam satu serial drakor yang endingnya cheesy dan ngebosenin banget, padahal ratingnya tinggi. Berasa ketipu. KZL. Akibatnya saya gak siap mental untuk menyeleksi ratusan judul drakor yang mau ditonton lagi. Iseng-iseng kemudian saya coba nonton Kenapa Harus Bule? ini sebagai selingan. Cringe dikit-dikit ga pa-pa lah.

Ide dasar film berdurasi satu setengah jam (belum termasuk iklan) ini cukup menarik, tentang seorang perempuan bernama Pipin (Putri Ayudya), yang masih saja single mesti usianya sudah mendekati kepala tiga. Salah satu penyebabnya adalah karena dia terobsesi untuk memiliki pasangan hidup bule. Dalam rangka memenuhi cita-citanya itu, Pipin melakukan segala cara seperti mendatangi kelab malam dan join di aplikasi online dating. Sayangnya lebih sering apes karena bapak-bapak maupun mas-mas bule yang berhasil digaet rata-rata brengsek.

Duh, mbak, ya terang aja... 
cari bule (baca: orang) alim kok di situ

Sampai suatu ketika, Pipin merasa sangat putus asa karena sekali lagi bernasib malang, mendapati bulenya ditekong ayam di sebuah kelab malam. Kemudian dia menelpon sahabatnya, Arik (Michael Kho), sambil nangis-nangis di toilet kelab. Arik yang mendadak harus melek menerima telpon di tengah malam lalu menawari Pipin untuk menambang bule di tempat tinggalnya yakni di Bali. Dia berjanji akan mengenalkan Pipin dengan bule-bule yang lebih waras ketimbang yang biasa ditemukan di kelab malam maupun di aplikasi dating. Aslinya sih, Arik kurang setuju dengan obsesi Pipin akan bule. Dia bahkan diam-diam punya rencana sendiri untuk menjodohkan sahabatnya itu dengan seorang laki-laki lokal yang HQJ a.k.a High Quality Jomblo (diperankan oleh Natalius Chendana).

Baiklah, singkat cerita sesampainya di Bali, si Pipin ini malah kenalan sendiri dengan bule kere asal Italia bernama Gianfranco (Cornelio Sunny). Gimana gak kere, dompet selalu ketinggalan, makan minta dibayarin, naiknya vespa butut.... Pas mogok, Pipin disuruh dorong dan dimintain duit bensin. Lucunya, Pipin pasrah aja diperlakukan bule model begitu.

Suatu ketika, kerabat dari pria HQJ tadi menyebut Pipin shallow dan racist. 
Langsung dibelain lah sama sang HQJ. 
Tapi kalo menurut saya sih ya emang bener shallow kok tuh si embak.

Oke next.
Ternyata si Mas HQJ tadi adalah teman masa kecil yang udah lama menaruh hati pada Pipin. Nah alur cerita selanjutnya relatif gampang ditebak lah. Mas HQJ banyak nolongin dan belain Pipin diam-diam. Trus Pipin akhirnya meninggalkan Gianfranco karena literally super kere (plus ketahuan kalau dia bakal dimanfaatin untuk memuluskan urusan imigrasi.) Pipin yang sudah insyaf kemudian menyadari bahwa Mas HQJ yang asli lokal itulah sebetulnya pria sejati yang selama ini ia cari. Plotnya sempet dibikin seolah menegangkan karena setelah nyusul jauh-jauh ke sebuah tempat di pelosok, jatuh bangun pakai high heels di pematang sawah, Pipin menemukan Mas HQJ terlihat berjalan ke altar pernikahan menggandeng seorang wanita bule.

Tapi ya namanya film, cukup dengan Pipin yang ngos-ngosan menghentikan prosesi pernikahan demi bisa pidato menyatakan cinta, segalanya mendadak happy ending. Semua orang gembira berbahagia dengan pasangan masing-masing, baik yang jenisnya beda maupun sama. Lalu film ditutup dengan adegan kissing antara Pipin dan Mas HQJ. Holiwud banget *rolling eyes*. Maka ide yang anti mainstream ini pun akhirnya dipungkasi dengan cara yang mainstream.

Saya sebetulnya ngarep banget ending di mana si Pipin beneran ditinggal kawin oleh Si Mas HQJ akibat kebodohannya sendiri.

Nah jadi ini adalah film ringan yang saya gak bakalan mau keluar duit untuk nonton di bioskop ahahahaha..... *Maafkan saya, para Bapak Ibu Sineas Indonesia* Meski demikian, ada beberapa hal menarik yang cukup meninggalkan kesan dari film ini, antara lain:

1. Pipin ini, meski bule obsessed, memiliki prinsip no sex before marriage. Sounds like a virginity worshipper, idealisme tinggi dalam menjaga kehormatan diri. Pesan moral yang keren mengingat di sebagian kalangan lokal pun sekarang kayanya kumpul kebo udah gak begitu tabu lagi. *sigh.... Cuman sayangnya, penampilan karakter Pipin bertolak belakang dari prinsip tersebut. Bajunya serba minim dan make upnya menor, seolah mengundang pingin ditowel. Bibirnya juga merah merona nyosor-nyosor. Gesturenya genit, rela dipegang-pegang, dicipok-cipok. Beneran mirip orang jual diri. Sepertinya memang sengaja dibuat begitu. Kalau mengutip dialog Arik, "Ya ayam sori ya, kalo orang liat bentukan lo sih pasti mikirnya lo ayam."




2. LGBT dan pergaulan bebas ditampilkan sebagai hal wajar di sini, berasa agak kontradiktif sama prinsip no sex before marriage di atas. Entah mana yang sebetulnya lebih diberatkan. Kalau lihat siapa produsernya, wajar sih konten tersebut disisipkan. Arik seorang gay, yang katanya gak demen cowok ngondek tapi ternyata berubah melambai ketika bertemu tipe yang disukai. Lalu Mas HQJ yang digambarkan menggandeng wanita bule walking down the aisle tadi ternyata sedang mengantar temannya menikah dengan sesama jenis. Selain itu, Pipin digambarkan tidur seranjang dengan Arik ketika masih awal-awal tiba di Bali, like there's no ethical boundaries ever. Saya belum pernah menemukan semacam itu di film Barat kecuali tokoh-tokohnya memang memiliki hubungan yang sexually intentional. But between friends? Biasanya ada acara gelar kasur meski sekamar.

3.  Idenya aslinya menarik banget tapi penggarapannya nanggung. Ekspresi para pemainnya datar, chemistry antar lakon kurang terasa, dialognya kurang enak dan ditambah lagi adanya selipan-selipan obrolan berbahasa Inggris antar tokoh lokal yang berasa wagu. Scene yang paling enak dinikmati menurut saya hanya ketika Pipin berdialog dengan Arik. Mungkin karena itu relatif paling mudah ditampilkan. Sisanya garing. Bagian-bagian yang semestinya serius dan romantis malah bikin pengen diskip aja.

4. Not visually attractive. Gak ada pemeran yang super cantik maupun super ganteng di sini. So so aja semua. Sebetulnya ini poin bagus banget lho, menyimpang dari pakem perfilman dalam negeri yang demen mengandalkan jualan tampang. Tapi sayangnya jadi gak oke karena kurang didukung kepiawaian lakon-lakonnya dalam berakting. Saya aslinya suka film-film bertema drama yang para pemerannya gak ditampilkan good looking tapi karakter dan ceritanya kuat. Terkadang peran protagonis dan antagonis jadi favorit semua saking kuatnya peran yang dibawakan. Ada yang masih ingat serial Bajaj Bajuri dan Si Doel Anak Sekolahan?

5. Dari banyak pesan yang disampaikan melalui film ini, ada beberapa yang bikin saya bikin manggut-manggut setuju:
- Perempuan mengharap emansipasi tapi masih ingin menikmati privilege kodratnya sebagai perempuan. (Kata Arik)
- Jangan ngoyo cari jodoh. Lebih baik fokus pada pekerjaan dan teman-teman karena siapa tahu yang dicari tahu-tahu muncul atau bahkan sebetulnya selama ini ada dekat kita. (Kata Emaknya Pipin)

Final verdict?
Biasa aja sih. Tapi masih mendingan dibanding nonton FTV karena ide ceritanya original dan lepas dari pakem cantik-ganteng-jelek dan kaya-miskin. Andai pemainnya lebih natural dan gak keminggris mungkin bakal lebih bisa dinikmati. 

Sunday, September 30, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 1] - Ingin Ash Blonde Mengapa Perlu Bleaching?

Pic source

Apa sih permasalahan yang sering ditemui ketika kita mewarnai rambut sendiri?
- warna yang gak sesuai harapan,  
- beda dari swatch di kotak kemasan, 
- dan yang terutama adalah rambut rusak. 

Lalu kemudian jadi muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar bisa memperoleh warna rambut seperti gambar pada kotak atau di internet? Dapatkah mewarnai rambut tanpa merusaknya? Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut?

Mengecat Rambut = Menyemir Rambut?

Pic source
Hal awal yang perlu dipahami mengenai mengecat rambut adalah bahwa istilah mengecat ini bukan berarti benar-benar mengecat semacam menemplokkan cat pada rambut lalu voila warnanya berubah persis seperti gambar. Prinsip cat semacam itu hanya berlaku pada semir rambut uban di mana warna putih ditutup pakai warna hitam atau coklat tua. Tapi buat para generasi muda yang rambutnya masih hitam, sehat, dan asli, dijamin gak akan bisa. Ibarat mewarnai kertas hitam pakai spidol kuning, hasilnya apa? Ya hitam.

Mari kita gunakan lagi logika spidol kuning dan kertas hitam di atas. Agar supaya warna spidol kuning bisa terlihat jelas, kita membutuhkan kertas yang lebih cerah dari warna hitam. Semakin terang kertasnya, semakin jelas warna kuningnya, apalagi kalau kertasnya berwarna putih. Analogi ini akan memudahkan kita memahami kenapa rambut hitam perlu dibleaching agar bisa diubah menjadi berwarna-warni.

Bleaching a.k.a Memutihkan Rambut
Secara teknis, mengganti warna rambut sebetulnya adalah proses kimia yang mengutak-atik pigmen di dalam rambut. Tujuan utama bleaching adalah menghilangkan pigmen rambut yang tidak diperlukan ketika kita menginginkan agar muncul warna tertentu. Supaya mudah dibayangkan, helaian rambut kita ini bisa diumpamakan selang lentur transparan yang berisi pigmen berbagai macam warna. Dalam hal ini, yang kita lihat sebagai selang adalah lapisan yang disebut kutikula. Zat kimia pada adonan bleaching akan berusaha membuka kutikula agar dapat masuk lalu menghilangkan warna demi warna yang dikandung pigmen di dalamnya. Proses bleaching ini hanya bersifat satu arah a.k.a irreversible, tidak bisa dibalik. Kutikula yang sudah dibuka tidak akan menutup lagi dan pigmen yang sudah dihilangkan tidak akan bisa kembali lagi. Saya kira sampai pada titik ini kita sudah bisa menjawab satu pertanyaan besar yang sering ditanyakan banyak orang:

Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut? 
MUSTAHIL
setidaknya untuk teknologi saat ini. 
Maka dari itu dibutuhkan bantuan berbagai macam perawatan yang antara lain tujuannya adalah menutup kembali kutikula dan mengisi gap protein yang hilang sehingga rambut dapat terlihat sehat. 

Mau Rambut Abu-Abu Tanpa Bleaching?
Bisa banget. Syaratnya, tunggu sampai usia kita mencapai umur 60 tahun ke atas qiqiqiqi.... Tapi kalau masih di bawah 30 tahun dan tidak ada genetik ubanan di usia muda, jangan harap bisa melawan alam tanpa rekayasa. Yes, mengubah warna rambut adalah bagian dari rekayasa alam. Setuju? Dan alam ini diciptakan sangat resisten untuk mengantisipasi campur tangan manusia, demikian pula halnya dengan rambut. Jangan harap bisa gonta-ganti warna rambut dari biru pastel menjadi  abu-abu muda lalu diubah lagi ke rose gold dll tanpa kerja keras mengubah struktur kimiawi rambut. 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, mengganti warna rambut berarti melakukan modifikasi pigmen rambut. Pigmen di dalam rambut terdiri atas dua macam yakni eumelanin yang membuat rambut terlihat gelap, cokelat atau hitam, dan pheomelanin yang membuat rambut terlihat oranye, kemerahan, dan pirang keemasan. Dalam proses bleaching, eumelanin mudah teroksidasi menjadi tak berwarna, sementara pheomelanin relatif cukup bandel. Itulah sebabnya banyak rambut hasil bleaching jadi berwarna kemerahan, keoranyean, atau kekuningan.

Pigmen rambut mempengaruhi hasil bleaching
Pic source

Jika semua warna pigmen di atas sudah berhasil dihilangkan, berarti kita sudah sampai pada tahapan akhir bleaching. Rambut akan berwarna kuning pucat (pale yellow) karena tinggal struktur protein yang tersisa di dalamnya. Pada tahap ini, jangan coba-coba bleaching lagi kecuali kepingin banget botak.

Warna hasil akhir = warna pigmen rambut + pigmen bawaan artifisial

Rumus di atas adalah konsep dasar pewarnaan rambut. Jika berpegang pada prinsip tersebut, selanjutnya mestinya udah gak perlu bingung lagi.

Contoh:
Jika menginginkan rambut berwarna abu-abu seperti gambar di samping, maka seluruh pigmen yang sifatnya kemerahan harus dihilangkan. Untuk ini, gak ada pilihan selain bleaching sampai semua pigmen habis dan hanya tertinggal warna kuning pucat agar pewarna abu-abu dapat dengan mudah mendominasi warna rambut. Tanpa bantuan bleaching pada rambut hitam, pewarna rambut hanya bisa membantu menghilangkan warna pigmen yang mudah hilang saja yakni eumelanin, sementara pheomelanin akan masih bertahan. Hasilnya, rambut justru jadi coklat kemerahan karena pigmen abu-abu pada krim pewarna kalah kuat. Begitu logika sederhananya.


Masih mau bleaching meski tahu rambut sudah pasti akan rusak? 
Iya dong, masih kepingin rambut yang warna-warni nih, mumpung masih muda. Masa iya gak ada cara supaya rambut tetap sehat meski diwarnain? 
Ada sih, agak tricky karena perlu menyelam lebih dalam ke dunia perambutan hehe. Untuk itu, saya akan coba tuliskan lebih lanjut mengenai bleaching sehat di Part II
Sampai jumpa 😉




Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Sunday, May 27, 2018

Hair Experiment & Review: Cat Rambut Miranda MC2, MC13, &MC16 (Before & After Picture)


Note: Review khusus buat reader cewek 😊
Reader cowok bisa main ke updated review di bawah sini👇
**(UPDATE - review lanjutan + Before-After) ðŸ‘ˆ klik di sini


Hampir setahunan ini saya ketagihan main bleaching. Awalnya cuma ujung-ujung aja (ombre) lalu sedikit demi sedikit berani agak pede dengan mulai nyoba balayage dan bikin babylights (semacam highlights tapi lebih samar dan natural). Ehh ternyata bleaching itu jadi nagih buat saya. Soalnya bikin takjub, tadinya warnanya gini, eh bisa jadi gitu. Kaya nonton sulap. Jadilah kalo lagi suntuk, saya suka iseng nambahin helai rambut buat dibleaching wakakakaka...... Alhasil, rambut di kepala yang tadinya babylights sekarang mulai jadi highlights, mana chunky lagi a.k.a banyak-banyak.

Trus sekarang jadi bingung, ni rambut warnanya brassy belang-belang enaknya diapain. Ada yang berhasil sampe level 9-10 (kuning-kuning pucat), ada yang masih stuck di oranye keemasan dan oranye kemerahan. Kalau pakai color wheel theory, saya butuh banyak warna buat melawan brassiness hasil keisengan ini wahaha....

Tahapan bleaching rambut

Color wheel theory (sumber)


Saya jadi ingat, pernah nemu video bule (di sini) tentang cara praktis membasmi warna brassy di rambut dark blonde pakai cat semi permanen warna silvery grey. Kalau menurut gambar color wheel di atas, sebetulnya warna abu-abu gak masuk hitungan untuk color correction. Tapi si cewek bule tadi sukses tuh, hasilnya oke. Saya jadi penasaran juga toh.

Nah selanjutnya saya pun hunting cat rambut warna abu-abu. Yang jadi masalah, pewarna rambut semi permanen sepertinya kurang populer. Merk yang bisa dibeli secara bebas sangat terbatas pilihannya. Mau ikut PO jastip atau cari di Ebay agak males, soalnya cuma mau coba-coba ini, mending murah-murah aja dulu lah. Satu merk yang cukup menarik perhatian saya adalah Miranda. Varian warnanya yang terbaru sepertinya cukup ngehits juga, MC-16 dengan label Ash Blonde. Kalo gambar rambut cewek di boksnya sih bukan blonde tapi abu-abu. Entah gimana nanti hasilnya. Kalaupun gagal, harga sembilan ribuan sih mestinya gak bikin nyesek-nyesek amat.

Selain Miranda shade MC-16 Ash Blonde, saya juga jaga-jaga beli MC-2 Blue untuk melawan oranye dan MC-13 Rose Purple untuk melawan kuning. Rencananya mau dicampur semua dengan perbandingan 1 tube MC-16 dan masing-masing sekitar 1/3 atau 1/2 tube untuk MC-13 dan MC-2.

Bahan-bahan yang digunakan

Kelengkapan isi boks

Petunjuk bahasa Indonesia
di samping boks

Petunjuk Bahasa Inggris
di sisi satunya

Peralatan mewarnai rambut
Jangan lupa tisu dan cermin

Hari Pertama - Miranda MC-2 dan MC-13
Saya awalnya mencampurkan warna biru dan rose purple terlebih dahulu. Perbandingannya 1/3 tube (10gr) biru dan 1/2 tube (15gr) rose purple. Di atas, saya sempat menyebutkan ada rencana mencampur ketiga warna Miranda yang saya beli. Tapi setelah meracik warna biru dan rose purple, saya ganti rencana. Mendadak inget, saya pernah nemu beberapa review bahwa mencampur biru dan rose purple bisa menghasilkan warna abu-abu juga. Okelah coba ini aja dulu. Langsung saya tuang aja developer 10vol Makarizo dengan takaran 25gr (ratio 1:1 dengan krim pewarnanya).

Timbangan dapur digital
Murah kok, cuma 30an ribu

Saya baru kali ini kenalan langsung sama pewarna rambut Miranda. My first impression adalah aroma amonianya alamaakkkk..... Sumpah gak tahan, pengen muntah. Saya sampai ngacir pindah tempat ke area rumah yang lebih terbuka. Waktu lihat adonan pewarnanya, saya sempet bimbang. Duh apa tega ya rambut ini ditemploki benda yang baunya menjijikkan gini.

Akhirnya tetep ditega-tegain aja sambil meringis-ringis nahan bau. Dan ternyata warna hasilnya adalah gelap segelap-gelapnya.... Rambut saya jadi jet black a.k.a level 1 wakakakakaka.... Mungkin harusnya saya ikut-ikutan nyampur pakai conditioner kaya orang-orang biar warnanya gak terlalu kuat. Yahh namanya juga baru pertama nyoba. Well oke, katanya Miranda ini gampang luntur. Kayanya saya jadi harus sering keramas nih.

Hari Ke Dua - MC-16 Ash Blonde
Sebelumnya, ketika mengecat pakai MC-13 dan MC-2, saya membagi rambut saya menjadi 3 layer horisontal, dari luar ke dalam. Karena rambut saya panjang dan helaiannya banyak, adonannya gak cukup untuk semuanya, jadi saya batasi hanya kena layer pertama (terluar) sampai layer ke dua saja. Nah layer ke tiga yang tak tersentuh adalah yang paling dalam. Layer ini adalah area rambut yang paling banyak kena eksperimen bleaching, jadi paling terang. Potensial diwarnai apapun sehingga cocok untuk eksperimen ash blonde.

Nahh Miranda MC-16 ini ternyata agak beda. Sepertinya isinya sudah mengalami revisi. Sebelum menuangkan krim developer, saya sempat menyiapkan mental, bersiap untuk menghadapi lagi aroma yang memabukkan. Eh ternyata tidak, sodara-sodara, memang baunya masih ada tapi gak terlalu kuat. Sewaktu eksekusi dua warna yang sebelumnya, saya rasanya kaya duduk di dalam got mampet yang mana air gotnya buat keramas huhu.... Yang ini enggak. Sebagai orang yang sudah biasa mewarnai maupun bleaching rambut sendiri, saya menganggap Miranda shade MC-16 memiliki aroma amonia yang masih bisa ditolerir.

Ada satu lagi yang saya perhatikan. Pewarna rambut Miranda ini pedes di mata. Ehhh saya bukannya ngolesin ke mata lho. Tapi kalau pas ngerjain rambut sekitar wajah (fringe area), mata berasa semriwing. Beneran kuat banget amonianya. Jadi rambut di fringe area musti ditarik jauh-jauh dari wajah sewaktu mengaplikasikan pewarnanya.

Hasilnya
Sewaktu proses pewarnaan, entah kenapa sepertinya
ada segumpal rambut yang ketinggalan.
Baru liat pas udah dibilas.
Tapi jadinya malah jadi gampang buat bikin penampakan before-afternya.

Di atas, saya sempat komentar kan bahwa gambar rambut cewek di kotaknya bukan ash blonde melainkan abu-abu. Ternyata memang hasil warnanya abu-abu gelap, plus ada samar-samar kehijauan. Hijaunya seperti apa yaa, mungkin bisa dibayangkan semacam perpaduan lumut dan lumpur. Lalu di bagian rambut yang bleachingnya gak sampai kuning terang (hanya oranye kemerahan), warna brassy orange-nya berhasil hilang tapi gak jadi lebih gelap ketimbang bagian ujung. Jadinya rambut saya yang sebelumnya gradasi gelap ke terang, hasilnya malah jadi belang. Bagian atas yang masih virgin berwarna gelap, masuk ke area bleaching bertransisi menjadi cokelat, tapi di ujung balik gelap lagi menjadi keabu-abuan.

Setelah 3-4 kali cuci rambut,
MC-16 mulai pudar abu-abunya

menjadi greyish blonde

Setelah 5-6 kali cuci rambut
Greyish blonde hasil dari MC-16 

yang ada di foto sebelumnya 
memudar jadi dark ash blonde.
Sementara rambut hitam hasil
gabungan MC-2 dan MC-13
memudar jadi abu-abu

Kesimpulannya?
- Gabungan shade MC-2 dan MC-13 menghasilkan warna gelap dan dapat memudar menjadi abu-abu (pure grey).
- Shade MC-16 Ash Blonde pada rambut yang dibleaching sampai kuning (level 9-10) hasilnya abu-abu gelap agak kehijauan dan dapat memudar jadi light ash brown atau dark ash blonde.
- Shade MC-16 Ash Blonde dapat mengurangi brassy pada rambut oranye menjadi cokelat natural.
- Berbeda dengan MC-2 dan MC-13, aroma amonia pada MC-16 jauh lebih samar
- Pewarna rambut Miranda mengeluarkan gas amonia yang kuat sehingga berasa pedas di mata. Sebaiknya mengaplikasikannya dijauhkan dari wajah
- Harganya murah meriah
- Mudah dibeli secara online
- Catatan pribadi: Aroma conditioner bawaannya lebih mirip body lotion dan gak terlalu membantu menutupi sisa-sisa bau amonia setelah dibilas.
- Pada Miranda MC-16, rupanya ada tiga macam warna swatch yang ditunjukkan di boksnya. Jadi bagaimana kesesuaian hasil dengan swatchnya? Hmmm disimpulkan sendiri dari gambar di bawah ini aja deh

Timeline hasil pewarnaan
di bawah natural light
Menurut saya, pewarna rambut Miranda ini lumayan oke, dapat menjadi alternatif pilihan andai dalam keadaan darurat harus nutup rambut yang gagal hasil bleaching. Ketidakawetan warnanya justru menguntungkan karena gak membuat saya terpaksa terikat pada satu warna rambut dalam jangka waktu lama. Sembari menunggu warnanya memudar, bisa memberi waktu berpikir enaknya setelah ini rambutnya diapain lagi yaa. Tapi secara pribadi, baunya sebetulnya bikin agak-agak males mengulang pengalaman ini lagi haha.....

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...