Monday, December 28, 2020

Review: Matrix Wonder Light Clear - Highlight Rambut Tanpa Bleaching

 Hai hai.....

Belakangan ini benar-benar fiuuhhhh. Postingan ini dibuat pada bulan Desember 2020 yang mana artinya pandemi Covid-19 sudah hampir satu tahun mewarnai peradaban manusia bumi. Banyak hal yang berubah dalam keseharian kita bukan?

Nah ceritanya saya masih menyimpan penasaran dengan highlight setelah sekitar satu setengah tahunan lalu mencoba babylight bleaching menggunakan Joico Creme Lightener. Sekedar informasi  babylight adalah istilah untuk highlight yang sangat halus. Hasilnya cukup memuaskan bagi saya karena rambut yang di-highlight jadi terlihat sangat natural. Warnanya ngeblend banget sama rambut aslinya. Cuma satu kekurangannya, warna hasil bleachingnya kurang rata karena mengaplikasikan foil sendirian itu susah setengah mati πŸ˜… sampe pengen nangis hahahaha.... Ngerjainnya lamban banget sehingga adonan bleaching di mangkok terekspos di udara kelamaan. Akibatnya, rambut yg kena bleaching belakangan kurang maksimal prosesnya dibanding yang awal-awal.

Babylight pakai bleaching Joico Creme Lightener setahunan lalu

Proses bikin babylight, harus tipis-tipisss


Belajar dari pengalaman pertama, saya nyerah aja deh, meski puas tapi rasanya gak sanggup DIY highlighting pakai bleaching lagi. Oleh karena itu di kesempatan kali ini, sebagai alternatifnya saya pilih cat permanen yang gak sensitif terhadap waktu. Berbeda dengan zat bleaching yang berproses terus-menerus, cat permanen punya batas waktu. Setelah sekian menit yang ditentukan, dia akan sampai pada kinerja yang maksimal kemudian berhenti. Lalu karena saya hanya ingin rambut jadi lebih terang tanpa diwarnai, pilihan jatuh pada cat permanen jenis highlift warna Clear. FYI, highlift adalah jenis cat rambut permanen yang punya kemampuan mengangkat warna rambut agak tinggi, bisa 2 hingga 4 level. Untuk project kali ini, demi alasan ekonomis, saya memutuskan pakai merk Matrix varian Wonder Light. Lumayan dengan harga 70an ribu bisa dapet tube gede isi 90ml. Value for money banget kan. Jadi ga usah ngecat sambil ngirit-ngirit karena kuatir kehabisan bahan hahaha...

Pewarnaan kali ini dilakukan dalam dua sesi dan gak sepenuhnya DIY karena saya minta bantuan dari teman yang berpengalaman ngecat rambut untuk pengerjaan sekepala. Sesi pertama adalah menyiapkan 'kanvas' untuk sesi ke dua nanti. Bagian-bagian rambut paling luar yang bakal keliatan dibuat highlight dulu, lebih terang sekitar 2 level saja cukup. Ini saya kerjakan sendiri dan menghabiskan sekitar 15 lembar foil, pakai Matrix WL Clear dengan campuran developer 20vol, ratio 1:2. Setelah itu, rambut didiamkan selama 45 menit agar zat highlift bekerja maksimal. Hasilnya rambut jadi naik di level merah-oranye keemasan, seperti gambar di bawah. Lumayan terang ternyata meski developernya cuma 6%. Yah memang warnanya kurang ngeblend sih, jadi agak chunky highlight πŸ˜… Saya ambil helaian rambutnya agak banyakan, soalnya kapok bikin babylight, susahhh 😬

Matrix Wonder Light + developer 30vol
(Yang developer 20vol gak kefoto)

Klaim: bisa mengangkat warna rambut hingga 4 level

Chart warna Matrix Wonder Light, nyomot dari lapak orang
Saya pakai yang Clear (lingkaran atas)

Hasil sesi 1: highlight, terangnya belum terlalu kelihatan
Aslinya sih ada emas-emasnya dikit tapi setingan kameranya otomatis bikin gambar hasil jepretan jadi lebih cool ketimbang aslinya

Setelah puas dengan hasil highlight di atas, lanjut panggil bala bantuan untuk sesi ke dua. Masih pakai WL Clear juga tapi kali ini dengan campuran developer 30vol dan full head a.k.a sekepala. Nah ada hal menarik yang saya amati di proses ini. Teman saya mengaplikasikan cat rambut secara normal untuk bagian rambut yang dimulai dari 2cm setelah akar sampai bawah. Kira-kira setelah menunggu 20-30 menitan, dia mulai mengaplikasikan di bagian yang dekat akar rambut dengan cara berbeda. Jadi gak sekedar ditemplok rata tapi juga disisir-sisir supaya warnanya ngeblend dan gak terjadi hot root (bagian pangkal lebih terang ketimbang ujung). Pengerjaan bagian pangkal ini memakan waktu sekitar 10 menit sehingga ketika selesai, rambut bagian bawah sudah melalui proses selama 40 menit. Karena saya gak mau akarnya terlalu terang, 15 menit kemudian rambut dibilas. Hasilnya bisa dilihat seperti berikut.

Hasil sesi 2: indoor lighting
Warm (ki) VS natural (ka) 


Hasil sesi 2
Kiri: outdoor lighting
Kanan: under sun light

Hair levels: tingkatan gelap-terang rambut

Saya cukup puas dengan hasilnya. Di dalam ruangan dengan pencahayaan normal/natural, warnanya coklat medium, dan di bawah sinar matahari jadi merah keemasan. Sementara yang sebelumnya sudah dihighlight terlihat brassy orange, kurleb level 5-6. Meski brassy tapi masih sesuai harapan, karena WL Clear kan memang seharusnya gak ada warnanya, kerjanya hanya lifting (mengangkat warna) tanpa proses toning (memberi warna). Kalau ada yang kepingin nerangin warna rambut tapi gak mau bleaching, ini bisa jadi salah satu alternatif pilihan. Kondisi rambut sesudahnya pun gak berasa rusak atau gimana-gimana. Buat Teman-teman yang kepingin rambut coklat dalam satu kali ngecat, bisa coba varian warna lainnya yang berfungsi toning juga, tinggal disesuaikan aja dengan hasil akhir yang dimaui. Btw ini saya ga dapet endorse lho *uhuk* Pakai highlift merk lain pun tak apa hahaha.

Setelah ini, saya kayanya bakal harus ngecat lagi dengan warna ashy untuk mengatasi brassy di atas. Meski ketika indoor cokelatnya terlihat oke, tapi  setelah keluar ruangan, warna emas-emasnya itu jadi muncul, bikin malu aja πŸ˜… Masih menimbang-nimbang sih, mau pakai cat apa. Yang jelas apapun itu yang penting semoga bisa terlaksana trus bikin reviewnya di marih πŸ˜‰





Friday, July 31, 2020

Review: The Body Shop Skin Defence Protection Face Mist SPF45 PA++ (Love or Hate, Which Team Are You?)




TBS Skin Defence Sunscreen Lotion adalah tabir surya yang ada di wishlist saya sejak lama. Reviewnya bagus di mana-mana, tapi 400ribu kurang seribu perak buat satu tube sunscreen yang bakal cepet habis karena harus dipakai secara rutin? Oh hell NO πŸ˜…

Suatu hari, kebetulan banget sunscreen Emina saya udah tinggal koretan. Tubenya sampe kempes banget karena dipaksa mengeluarkan isinya sampai tetes terakhir. Mau beli kok males secara udah stay at home sekian bulan, jadi mager buat pergi ke tempat berkumpulnya orang banyak. Berusaha pesen online, tahu-tahu kena cancel karena stok kosong. Ditolak setelah penantian penuh harap itu bikin galau tau. Jadi sewaktu iklan TBS Skin Defence face mist ini mendadak muncul di layar hp dengan diskon yang lumayan, berasa kaya dapet tempat pelarian, langsung gercep deh. Bungkuss.... Gak usah pakai cek review segala. Toh namanya sama-sama Skin Defence, cuma beda cara pakainya aja. Lagian sunscreen yang disemprot-semprot kayanya bakal praktis banget deh. *pemalas* Wkwkwkwkk pemikiran ngasal. Little did I know, I would end up being in regret.

Keterangan petunjuk dalam Bahasa Indonesia
How to use:
Kocok botol sebelum digunakan. Tutup mata dan mulut, lalu semprotkan 7-8 kali ke wajah dari jarak 20cm. Biarkan 15-20 menit hingga meresap. Gunakan Mist pada kulit wajah di pagi hari setelah menggunakan pelembap. Aplikasikan ulang setiap 2 jam pada kulit maupun di atas make-up untuk membantu melindungi kulit sepanjang hari.





Ingredients:
Alcohol Denat., Homosalate, Octocrylene, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Diisopropyl Adipate, Ethylhexyl Salicylate, Acrylates/Octylacrylamide Copolymer, Parfum/ Fragrance, Tetrahexyldecyl Ascorbate, Tocopheryl Acetate, Sclerocarya Birrea Seed Oil, Aqua/Water/ Eau,Helianthus Annuus Seed Oil/Helianthus Annuus (Sunflower) Seed Oil, Linalool, Palmaria Palmata Extract, BHT, Limonene, Citronellol, Geraniol.

Setelah barang sampai di tangan, akal waras saya baru bekerja. Errr kayanya perlu cari info lagi deh, secara seumur-umur belum pernah pakai sunscreen tipe spray begini, apalagi di label petunjuknya diharuskan untuk menutup mata dan mulut. Mendadak serem. Jangan-jangan ada hal penting lainnya yang perlu diketahui. Dan setelah baca-baca review tiba-tiba lemes, ternyata ini ratingnya rendah. Banyak yang bilang bagusan versi lotionnya banget. Rata-rata mengeluh pedes di mata dan kalau kehirup rasanya gak karuan. Ehmmm sebentar-sebentar, bukannya kalau tentang itu semua bisa dibaca di label petunjuknya. Ini tuh ngasih review jelek karena mereka gak baca atau.....

Ok, lanjutt...
Mari kita buktikan review-review di atas.
First impression, wangi bangetttt. Andai ini produk perawatan rambut atau body care, oke lah ya sewangi ini. Tapi untuk produk yang ditemplokin di muka, rasanya kok agak menguatirkan. Dan wanginya awet, literally. Setidaknya hidung saya bisa mengendus-endus aroma wangi ini sampai sekitar satu jam lebih. Bahkan residunya yang menempel di kain jilbab bisa meninggalkan jejak wangi sampai berhari-hari. Luar biasa sekali toh.

Second impression, it made my face shiny (kalau gak mau dibilang berminyak). Setelah semprot-semprot-semprot, muka ini terlihat seperti dilapisi plastik cling wrap. Mengkilap kaya habis disemprot pylox warna clear *hahahaha* Setelah lima belas menit, sesuai petunjuk, baru bisa ditimpa make up. Kalau mau mau praktis, tinggal diset aja pakai loose powder, selesai. Kalau kalian suka tipe glass skin look ala Korea, you’re going to love this. You can leave it as it is secara dia gak ada whitecast sama sekali.

Foto perbandingan before - after
pemakaian sunscreen on bare face


Don't skip reading this!!
Shake well before use.
 Pull hair back, close your eyes and tuck in lips. 
Apply liberally - spray 7-8 pumps onto your face from 20 cm (8 inches) away. 
Keep your eyes closed for about 5 seconds after application. Etc...

Petunjuk di atas wajib dibaca dan dipatuhi. Do not intentionally inhale. This is no joke, seriously. Meski udah tahan napas dan tutup lubang hidung sewaktu semprot-semprot, terkadang ada sedikit yang menyerempet masuk. Rasanya pedih menusuk-nusuk. Gak kebayang kaya apa kalau sampai terhirup.

Perkara pedas di mata... It's true, teman-teman.
Saya sudah patuh loh, menyemprotkan produk ini sambil merem. Tapi rasa pedas yang dimaksud bisa mendadak muncul sewaktu-waktu selama pemakaian, misal pas keringetan, terbawa tetesan air wudhu, atau apply ulang tanpa membasuh wajah terlebih dahulu. Yang terakhir ini asli bikin pedes bangeett. Saya waktu itu pas lagi di jalan, gak sempet kan cuci muka, trus main semprot ulang aja. Gak lama kemudian sekitar mata berasa panas dan pedas, kaya lagi ngiris bawang merah. Mata sampai harus dikerjap-kerjapkan terus supaya keluar air. Saya cepat-cepat pulang dan membersihkan muka. Langsung legaa..... Gak lagi-lagi deh 😒

Selain disemprot, bisa pakai cara lain gak sih?
Saya sempat mencoba cara lain. Jadi produknya disemprotin ke tangan trus diratain ke muka. Yaa semacam kalau pakai sunscreen pada lazimnya. Warna produknya sendiri berwarna bening dan ada sensasi dinginnya ketika menyentuh kulit telapak tangan (thanks to the alcohol ingredient). Ternyata bisa kok, meski mungkin jadi agak too much ya. Wanginya makin tajam dan tambah awet. Agak berat dan pedes juga di mata, secara saya aplikasikan juga di undereye, tempat signs of aging terparah di muka saya. Ada kantong mata, cekungan, lingkaran hitam, kerutan, dan segala macam signs of aging, you name it lah. Makanya saya selalu oleskan sunscreen di bagian itu biar gak makin parah akibat paparan sinar UV. Dengan sunscreen Emina selama ini sih gak pernah ada masalah.

"Wipe excess product from eyes and lips. Avoid eye area"
So, undereye? It's a BIG NO *sigh

Klaim vegan dan cruelty free serta slogan-slogan yang sifatnya environmentally friendly ternyata bukan jaminan produk yang ramah bagi pengguna. Coba deh cek lagi daftar ingredients di atas. Alkohol ada di urutan pertama which means merupakan komponen yang terbanyak. Selain itu, berdasar tabel analisa COSDNA, ada empat macam bahan lain yang berfungsi sebagai fragrance.

Personal opinion, saya beneran ngerasa ini ga enak banget dipakai. Yah jujur, sangat jarang bisa berjodoh dengan skincare line TBS. Cuman entah kenapa tiap lihat produknya selalu ngiler, selalu ngarep semoga kali ini cocok, kemudian kumat impulse buyingnya πŸ˜… So this is not the first time in my life meski sebelumnya gak pernah separah ini. 

Final verdict, yay or nay?
It’s a nay, obviously. Sorry, TBS.


Monday, May 25, 2020

More Review & Swatch: Miranda Permanent Hair Color MC-16 (Eksperimen Lanjutan)

Semenjak memposting tulisan ini, saya jadi tahu ternyata Miranda Ash Blonde MC-16 banyak peminatnya karena pada kepingin punya rambut warna ash blonde dan abu-abu (kaya uban hihihi). Saya akhirnya ikutan penasaran, gimana sih hasilnya kalau pakai cat ini plek ketiplek sesuai petunjuk manualnya. Beneran jadi ash blonde, atau jadi abu-abu kaya yang di gambar kotaknya, atau warna lainnya?

Untuk eksperimen kali ini, saya menggunakan sampel rambut, bukan langsung ke rambut yang nempel di kepala. Tapi masih rambut sendiri sih. Beberapa waktu yang lalu saya mulai bosan dengan warna rambut saya karena bagian pangkalnya udah mulai panjang, harus retouch. Tapi males, karena warna rambut saya didapat dari proses highlight pakai foil, retouchnya ga bisa sembarangan, butuh ada yang bantuin. Kedapetan ide mau diapain tapi harus nunggu sampai jadi virgin dulu semua. Iseng-iseng rambut saya potongin, khusus sepanjang yang warnanya udah bule. Trus pikir saya, kayanya bisa nih buat bikin eksperimen warna. Dan setelah lebih dari setengah tahun dianggurin akhirnya baru dieksekusi sekarang haha....

Sampel rambut 'before' yang digunakan pernah dibleaching satu kali. Pakai Joico Creme Lightener dan krim developer 20vol merk Alfaparf, bisa mencapai level 7-8 dari kondisi virgin. Eksperimen ini memakai dua bundel sampel rambut. Sebelum diwarnai, salah satunya akan dibleaching lagi sampai level 9-10, sementara yang satunya dibiarkan apa adanya. Tujuannya adalah mau lihat gimana hasilnya terhadap level rambut yang berbeda. Harapannya dengan ini jadi bisa menjawab satu pertanyaan umum yang sering muncul: kalau mau berhasil pakai Miranda Ash Blonde memangnya harus bleaching dulu ya?

Rambut before, level 7-8

Bahan bleaching

Sudah bleaching, siap diwarnai

Proses pewarnaan
Miranda Ash Blonde

Hasilnya:
Pewarnaan pertama
Pada rambut level 9-10, hasilnya pirang dan gak ada ashy-ashynya sama sekali. Bahkan menurut saya jadi bener-bener murni level 10, kuning pucat dan jernih. Yang jelas perlu dicatat, hasil warna ini meleset jauh dari yang ditampilin di boksnya. Ash blonde bukan, abu-abu juga bukan. Fail πŸ‘ŽTapi yang menarik, pada rambut yang level 7-8 warnanya jadi jauh lebih terang semacam level 8-9, kaya habis bleaching. Wah kadar amonia dan level krim developernya pasti cukup tinggi nih.


Miranda Ash Blonde
Foto after, di bawah pencahayaan yang berbeda-beda
Gak terlihat ashy sama sekali kan..

Pewarnaan ke dua
Jujur hasil pewarnaan pertama di atas bikin ngganjel di pikiran. Dulu saya berhasil menghasilkan warna keabu-abuan pakai Miranda Ash Blonde, yang ini kok fail. Apakah mungkin karena faktor krim developernya? Waktu itu saya memang pakai krim developer merk lain sih. Untuk menuruti rasa penasaran ini, saya mengulang langkah pewarnaan seperti di atas terhadap kedua sampel rambut yang sama. Timpa aja pokoknya. Bedanya kali ini saya mengurangi takaran krim developer menjadi setengahnya dan menambahkan conditioner bawaan Miranda dengan jumlah yang sama. Jika digabung dengan krim pewarnanya, maka komposisi total campuran antara krim pewarna dengan krim developer dan conditioner kurang lebih adalah 2:1:1. Tujuan penambahan conditioner ini adalah untuk menurunkan kekuatan developer menjadi setengahnya.


Miranda Ash Blonde
Foto after
Final result, dengan pencahayaan yang berbeda-beda

Voila, it’s ashy, gaess. Very subtle pada rambut level 9-10,  but it has obviously grey tinge. Sementara pada rambut level 7-8 yang sudah  berubah jadi seperti level 8-9 hasilnya menggelap, dari blonde jadi light brown. Jujur saya agak bingung juga dengan efek yang terjadi pada sampel rambut yang satunya ini. Kenapa malah yang muncul warna coklat yaa?

Tapi kalau melihat hasil pewarnaan ke dua ini, dugaan awal saya sepertinya tepat. Krim developer bawaan Miranda cukup kuat sementara pigmen warna di krim catnya tidak bisa mengimbangi. Mengingat saya pernah memperoleh warna abu yang lebih gelap lagi dengan krim developer 10 vol pada eksperimen terdahulu, besar kemungkinan krim developer bawaan Miranda ini lebih tinggi dari 20 vol.

Kesimpulan
Miranda MC-16 Ash Blonde sifatnya mirip highlift, bisa menaikkan warna rambut sampai beberapa level. Jika ingin mendapat hasil ash blonde, sebaiknya krim developernya diturunkan agar pigmen warnanya gak kalah. Salah satunya bisa dengan cara memasukkan conditioner dengan ratio 1:1. Krim developer campuran ini nanti total takarannya harus disesuaikan dengan kebutuhan krim pewarnanya. Cara lainnya, pakai krim developer merk lain yang ada label keterangan % atau volumenya sehingga hasilnya lebih bisa diprediksi. FYI dengan krim developer 10 vol, warna abu-abunya bisa lebih keluar. Yang perlu dicatat, Miranda Ash Blonde ini hasilnya cenderung agak kehijauan. Kalau mengharapkan warna abu-abu murni, saya lebih merekomendasikan memakai campuran antara Miranda MC-2 (biru) dan MC-13 (ungu). But beware, kedua warna tersebut sangat pigmented (seperti contoh di sini).

Satu catatan lagi, untuk mendapatkan hasil warna abu-abu, harus bleaching sampai level 9-10, warna kuning terang. Di bawah itu, warnanya sepertinya jadi kecokelatan. Saya gak tahu kenapa bisa begitu, karena ini kejadian juga di tulisan terdahulu. Tapi kalau mau diambil sisi positifnya, Miranda MC-16 Ash Blonde boleh nih dicoba sebagai alternatif pilihan buat yang mencari hasil warna rambut light brown.


Sudah siap mencoba? πŸ˜‰


Wednesday, March 11, 2020

Review: Revlon Nail Enamel Shade 128 Slate, 041 Granite, & 161 Teak Rose



Kuteks favorit saya sebetulnya adalah Nail Vita dari Skinfood. Kualitasnya oke dan harganya cukup affordable. Pengaplikasiannya yang smooth, effortless, mistake-proof dengan hasil yang langsung opaque in only one thin coat membuat seorang amatir sekalipun bisa menghasilkan karya rapi bak seorang pro. Saya masih menyimpan satu warna as my-go-to nail polish, dibeli dari Korea via Ebay sekitar 5 tahun lalu dan kondisinya masih bagus hingga tulisan ini diposting.

Tapi namanya cewek ya, suka penasaran juga sama brand lain. Suatu ketika dapet kesempatan nyobain kuteks Revlon varian Colorstay Longwear Nail Enamel shade Indigo Night, ternyata enak banget. Teksturnya mudah diblend dan sangat pigmented. Warnanya langsung jadi pada polesan pertama. Kuasnya juga nyaman sehingga hasil polesnya jadi rapi. Sayangnya line ini varian warnanya terlalu bold buat selera saya, berasa kaya tante-tante (padahal emang udah tante-tante *dilempar*), plus udah discontinued *sigh*. Tapi karena masih penasaran sama brand Revlon saya memutuskan untuk mencoba line nail enamelnya yang reguler.

Ini fotonya a bit too warm dibanding aslinya.



Ini kayanya warna sejuta umat. Nyari-nyari review di internet, umumnya swatch yang ada ya seputar shade ini aja. Untuk shade Teak Rose, warnanya pink manis tapi gak gonjreng. Muted pink mungkin cocok untuk menggambarkannya dalam kata-kata. Sementara shade Granite dan Slate basic warnanya coklat, semacam dark nude. Slate cenderung yellowish mirip warna permen karamel. Granite warnanya pinkish brown, atau brownish pink yaa? Bingung juga. Lumayan susah mengcapture warna riil dari Granite ini.  Sekilas mirip susu mocca kalau di tempat gelap. Tapi di bawah pencahayaan yang banyak, tone pinknya keluar banget. Warnanya jadi semacam dark mauve. Saya sebetulnya paling suka Teak Rose karena warnanya syantiiik. Tapi yang terlihat flattering buat kulit saya malah Slate. Warnanya cukup kalem dan natural, bisa jadi andalan kalau pas butuh tampil gak mencolok semacam undangan acara di sekolah anak.

Revlon Nail Enamel teksturnya agak creamy dan saya biasanya lemah pakai kuteks jenis ini. Meski cukup pigmented, susah diratain karena kuasnya pun kurang luwes, susah megar. Pakainya harus hati-hati sekali. Apalagi saya tipe yang tangannya gampang goyang, rawan mbleber sana sini. Awal-awal nyobain, saya gak suka karena hasilnya kurang rapi. Akibat warna yang susah rata, harus dipoles sampai tiga layer. Jadi tebal, jelek dan pinggirannya kurang rapi.

Sempat nyerah, kuteks dianggurin 1-2 minggu dan saya pun menyusun tulisan negative review tentang Revlon Nail Enamel hahaha. Tapi suatu hari entah kenapa penasaran kepingin nyoba lagi. Ehh saya malah nemu trik aplikasi yang lumayan fail proof. Jadi caranya, ambil produk agak banyak dalam satu kali celup, kumpulkan secara merata di pangkal kuku, lalu tarik pelan-pelan dalam tiga sapuan ringan (jangan ditekan) membentuk garis lurus ke arah ujung kuku dengan urutan: tepi, tepi, tengah. Agak tricky juga ngira-ngira ambilnya, kebanyakan dikit bisa jadi mbleber, sementara kalau kurang warnanya jadi gak rata. Tapi kalau berhasil, sekali poles aja langsung jadi. Dan untuk ukuran kuteks creamy, keringnya si Revlon ini di kuku relatif sangat cepat. Sekali kering, dia langsung padat dan glossy, tanpa top coat sekalipun. Dipakai buat tidur, ketindih kegores-gores sprei dan sarung bantal gak ngecap. Hasilnya, saya pun sukses bikin full swatch ketiga shade tersebut seperti di bawah ini.

Swatch Revlon Enamel Teak Rose

Swatch Revlon Nail Enamel Slate

Swatch Revlon Nail Enamel Granite

Sayangnya, ada satu hal yang kurang oke dari pengalaman pakai Revlon Nail Enamel. It has bubble issue, suka muncul gelembung kecil-kecil yang mana munculnya tak terduga. Jadi setelah selesai  poles-poles dan udah rata, nanti tiba-tiba muncul titik-titik gelembung udara. Gelembung-gelembung ini munculnya tak terduga, kadang langsung muncul, kadang muncul tapi samar sekali, kadang mulus-mulus aja. Tapi yang paling parah adalah sewaktu saya pakai shade Granite untuk keperluan swatch di blog ini, gelembungnya muncul belakangan dan banyak pula. Kebetulan saya kelupaan pakai base coat saking semangatnya, bisa jadi itulah penyebabnya karena sewaktu pakai base coat gak separah ini. Foto swatch di atas dan di bawah diambil dalam kurun waktu yang berbeda. Foto di atas adalah sesaat setelah kering, sementara yang di bawah adalah sekitar dua jam setelahnya. Foto di atas kukunya keliatan mulus ya, tapi yang di bawah jadi bruntusan kaya muka jerawatan.   


Keliatan gak 'jerawatnya'?

Saya coba googling sana sini, rupanya salah satu penyebab munculnya gelembung itu karena pengocokan botol kuteks yang berlebih sebelum pemakaian. Akibatnya udara akan terperangkap di dalam cairan kuteks, membentuk gelembung, dan perlahan-lahan naik ke permukaan, meski sudah dipoles di kuku sekalipun. Hmmm iya sih, saya memang kebiasaan ngeblend cairan kuteks dengan cara mengocok penuh semangat. Tapi tapi tapi... pakai kuteks lain kok enggak πŸ˜• Yah bisa jadi karena cuma kuteks Revlon ini yang saya polesnya tebal-tebal, sementara kuteks lain cenderung poles tipis-tipis aja. Habis gimana lagi, saya gak bisa menghasilkan warna kuku yang rapi dengan cara lain.

Final verdict
Pros:
- harga cukup affordable
- pilihan warna sangat banyak
- relatif cepat kering dan padat (gak gampang kegores)

Cons:
- pengaplikasian agak tricky
- suka muncul gelembung udara yang tak terduga

Will I repurchase?
Not quite sure. Mungkin yang berikutnya nyoba peruntungan dengan kuteks Revlon yang varian Colorstay Longwear Gel Envy aja.


[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...