Monday, December 11, 2017

Quick Review: The Body Shop Coconut Body Milk

Salah satu penyebab kalap belanja yang susah dicegah adalah kalau ada diskon gede di web The Body Shop Indonesia. Kalo di counter sih masih bisa menahan diri untuk gak masuk, kecuali pas ada yang perlu dibeli. Soalnya gak nyaman banget liat-liat sambil diikutin sama BA-nya, ditawarin ini itu yang mungkin sebetulnya gak minat. Akhirnya jadi gak bisa leluasa mikir kepingin beli apa. Sementara kalo di webnya, bebas cuci mata sambil browsing review produk-produk tertentu yang pengen dibeli. Meskipun galau bingung mau beli apa dan bolak-balik add to cart tanpa pernah check out, gak bakal ada yang protes xixixixi......

Terakhir belanja di web, pas ada sale 50% untuk pembelian 3 buah item. Salah satu yang saya beli adalah Coconut Body Milk. Langsung review aja ya. Kesan pertama dari body milk ini adalah the scent is sooo heaven (kaya pernah nyium wangi surga aja ya hahah). Aromanya enakkk banget, mirip santan bercampur wangi pandan yang semerbak. Kalo saya, yang langsung kebayang adalah es kopyor, dikasi santan, susu, dan sirup merah muda, dicampur potongan buah nangka. Duhh, jadi ngiler sendiri hahaha.....

The Body Shop
Coconut Body Milk

Konsistensi body milk ini relatif cair tapi masih cukup creamy. Kira-kira hampir mirip santan instan yang dijual di toko-toko, hanya sedikit lebih kental. Di kulit terasa ringan. Buat kulit yang terasa kering karena di lingkungan ber-AC dan membutuhkan kelembaban maksimal, body milk ini kurang nendang sehingga butuh sering reapply. Tapi buat saya cukup lah untuk bisa melembabkan tangan sejenak setelah mandi atau cuci piring. Gak butuh awet lama karena biasanya habis itu ada aja yang bikin tangan perlu basah-basahan lagi.

It may not be the best moisturizing lotion tapi wanginya sangat spesial. Jadi kesimpulannya: saya suka, saya suka.....

Hmmmm yummy....

Tuesday, December 5, 2017

Review: The Face Shop Rice Water Bright Light Cleansing Oil

Sebelum mencoba TFS Rice Water Bright versi Light ini, saya biasa memakai cleansing oil Kose Softymo varian Speedy dan White serta pernah juga mencoba travel size Shu Uemura varian High Performance Balancing. Dengan demikian review saya ini akan sedikit bias karena mau tidak mau, saya akan membandingkannya berdasarkan pada pengalaman dengan ketiga produk sebelumnya.

Kesan pertama saya adalah kemasannya. Langsung demen deh sama botolnya. Bentuknya berupa botol plastik bening agak bersemu pink berbentuk melingkar dengan aplikator pump warna hitam. Ini sih favorit saya banget. Dengan aplikator pump yang dilengkapi segel penahan, isinya cenderung aman gak tumpah-tumpah meski miring-miring, higienis, dan praktis. Sementara bentuk botolnya yang lingkar sempurna relatif stabil, gak ambruk-ambruk seperti botol elips, dan enak digenggam. Nilai plus lainnya, kombinasi minimalis warna bening dan hitamnya bikin keliatan cakep buat dipajang xixixi....

   
Ada segel penahan pump





INGREDIENTS
ISOPROPYL MYRISTATE•CAPRYLIC/CAPRIC TRIGLYCERIDE•SORBETH-30 TETRAOLEATE•POLYGLYCERYL-10 DIISOSTEARATE•ORYZA SATIVA (RICE) BRAN OIL•SIMMONDSIA CHINENSIS (JOJOBA) SEED OIL•WATER/EAU•GLYCERIN•ORYZA SATIVA (RICE) EXTRACT•SAPONARIA OFFICINALIS LEAF EXTRACT•PARFUM/FRAGRANCE


Hal lain yang menarik perhatian saya berikutnya adalah konsistensi dan aromanya. Dibanding dengan produk cleansing oil yang pernah saya pakai sebelumnya, konsistensi TFS Rice Water Bright versi Light cenderung sangat encer, mirip air. Akibatnya, sekali pump, kadang produk yang keluar agak kebanyakan. Karena untuk membersihkan seluruh muka hanya butuh sedikit, saya harus hati-hati kalau menekan pumpnya. Sementara untuk masalah aroma, samar-samar saya mencium aroma wangi floral. Ini berbeda dengan cleansing oil lain yang pernah saya coba. Rata-rata yang lainnya aromanya agak aneh.

Bagaimana dengan performanya?
Untuk membersihkan make up biasa, cleansing oil ini bisa melakukan tugasnya dengan baik. Lip cream, maskara, eyeliner dan foundation bisa dibersihkan dengan tuntas. Karena sudah jarang banget dandan, saya sebetulnya hanya menggunakan cleansing oil untuk membersihkan sunscreen. Sejauh ini, saya cukup puas dengan kemampuan bebersihnya.

Konsistensinya relatif encer

Instruksi penggunaan


Make up cleansing performance
1. LT Pro Lip cream; 2. Sariayu eyeliner;
3. Sariayu maskara; 4. Bobbi Brown foundation

Untuk keperluan demo cleansing performance
di atas saya pakai tisu, bukan sesuai
dengan instruksi resminya

Ada dua hal yang membuat saya terkesan setelah pakai cleansing oil TSF ini. Yang pertama, it does have a brightening effect. Wajah jadi langsung terlihat lebih cerah seketika segera setelah proses membersihkan muka selesai. Terus terang, efek seperti ini belum pernah saya dapati dari cleansing oil lainnya. Tapi saya belum pernah memperhatikan cerahnya ini bisa bertahan sampai berapa lama.
Lalu kesan yang ke dua, menurut saya agak susah dibilas. Ini bukan kesan yang bagus sih ya. Sampai dua kali cuci muka pakai facial foam maupun sabun batang biasa, masih berasa agak licin. Ini beneran licin seolah masih ada lapisan minyak tertinggal, bukan smooth moisturized. Kalau dengan air hangat bisa agak tertolong. Setidaknya dengan air hangat, saya hanya butuh satu kali mencuci muka dengan facial foam sampai yakin sudah cukup bersih. Ini berbeda dengan produk dari Kose maupun Shu Uemura, semua bisa dibilas bersih dengan air bersuhu standar kamar mandi tanpa perlu tambahan facial foam. Tapi memang instruksi di botolnya sendiri menyebutkan bahwa untuk membilasnya bisa menggunakan air hangat maupun facial foam. Petunjuk macam ini belum pernah saya temukan pada cleansing oil lainnya. Jadi mungkin memang wajib untuk double cleansing jika memakai produk ini.

Kesimpulan sementara, TFS Rice Water Bright Light Cleansing Oil ini buat saya semacam between love and hate. Tengah-tengah aja. Gak terlalu suka karena dibilasnya lama sehingga terkadang ragu-ragu apakah sudah cukup bersih. Tapi mau dilego juga sayang, botolnya bagus soalnya xixixixi..... Ada beberapa review yang bilang kalau cleansing oil ini bikin jadi jerawatan. Hmm untuk masalah itu, saya masih belum mengalaminya sendiri. Memang akhir-akhir ini suka muncul jerawat satu atau dua. Untuk langsung nuduh si cleansing oil sebagai biang keroknya belum bisa juga, karena saya baru aja ganti merk sunscreen yang sepertinya lebih waterproof dibanding yang sudah-sudah. Padahal saya lagi agak kumat malesnya, sering ketiduran tanpa cuci muka. Jadi ya gak heran kalo agak jerawatan ehehehehee.....

**Update setelah sekian bulan:
Seperti yang saya bilang di atas, saya jadi agak sering jerawatan setelah mulai rutin memakai cleansing oil ini. Karena tersangka utamanya adalah sunscreen saya yang baru, saya pun stop pakai sunscreen tersebut sekaligus cleansing oilnya. Berangsur-angsur jerawat berhenti. Tapi ketika saya mulai pakai sunscreen tersebut lagi tanpa cleansing oil ini, jerawat ternyata gak muncul lagi. Jadi fix lah, seperti banyak review lainnya, cleansing oil ini bikin numbuh jerawat. Toss out dehh 🙄👋🗑️

Sunday, December 3, 2017

Mixed Brief Review: New Hair Regime For Healthy Colored/Bleached Hair Ala Saya

Sejak pertama kali mewarnai rambut sekitar dua setengah tahun yang lalu, saya mulai menghadapi masalah yang namanya frizzy hair alias rambut terlihat kurang sehat dengan ujung-ujung yang mencuat mengembang melayang-layang. Hiks..... Saya cobain macem-macem, mulai dari yang alami seperti olive oil, coconut oil, sampai dengan produk buatan seperti conditioner serta vitamin rambut yang gampang diperoleh di banyak mini market, maupun yang harus dibeli di tempat-tempat khusus seperti John Frieda dan TBS. Sayangnya satupun belum ada yang hasilnya memuaskan hati. Sementara kalau diketik di gugel, keyword 'cara merawat rambut kering akibat pewarnaan' itu sangat populer sementara isi artikelnya rata-rata hampir sama, cuma sederet tips tanpa hasil yang nyata.

Haha rambut saya gak sampe segininya sih
Tapi sebagian sudah mulai mengarah ke sini

Suatu ketika, saya iseng join sebuah forum yang khusus ngobrolin serba-serbi rambut. Dari menyimak obrolan sana-sini, saya mendapat tambahan wawasan bahwa rambut yang terlihat kering gak sehat akibat proses pewarnaan maupun bleaching bisa juga disebabkan oleh hilangnya protein. Kalau udah gitu, maka butuh yang namanya protein treatment. Hmmm jadi bisa dimaskerin pake telor, madu, pisang, alpukat, atau mayonaise kali ya, biar alami kaya yang sering disebut-sebut di dalam banyak artikel? Sayangnya sembilan puluh persen praktisi rambut di sana bilang: it's a big NO. Penjelasannya, molekul protein pada bahan-bahan alami terlalu besar untuk diserap rambut, jadi setelah dibilas ya bakalan ilang bersama air. Hal ini berbeda dengan protein treatment yang biasa dilakukan di salon profesional, di mana produk-produk yang digunakan mengandung elemen protein yang sudah diuji di lab dan diproses sedemikian rupa sehingga mudah diserap oleh helaian rambut. Yah entah benar atau tidak, saya pilih percaya aja. Terus terang saya gak minat lagi nemplokin ramuan madu-telor ke rambut. Masih kebayang aja rempong bin amis dan lengketnya. Itu amisnya telor gak ilang sampe berhari-hari coba. Wew....

Butuh protein atau moisture?
Sumber: di sini

Sekedar referensi, rambut kebanyakan moisture
tapi kurang protein
Sumber: di sini

Lalu apa yang mau saya review di sini?
1. Joico K-Pak Deep Penetrating Reconstructor dan Joico Intense Hydrator
Joico adalah brand yang direkomendasikan hampir setiap hairstylist maupun DIY-ers di banyak forum rambut. Line K-Pak diformulasikan khusus untuk memperbaiki rambut yang rusak akibat proses kimia, terdiri atas beberapa macam produk, dari sampo hingga masker. Joico K-Pak Deep Penetrating Reconstructor pada khususnya, ternyata memang banyak direview sebagai salah satu produk yang sangat efektif mengembalikan protein sehingga paling dicari. Saya lihat ratingnya bagus di mana-mana. Harganya yaa lumayan sih ya haha.... Tapi sekali pakai iriiiitt banget, jadi satu tube mungkin bisa lah dipake sampai setahun. Toh pakainya juga gak sering-sering. Cara pakainya, setelah keramas dan rambut dalam keadaan lembab, aplikasikan Reconstructor ke batang rambut secara merata. Tunggu sampai lima menit kemudian bilas sampai bersih. Setelah itu, dilanjutkan dengan mengaplikasikan Intense Hydrator dalam keadaan batang rambut masih lembab dan biarkan minimal lima menit. Intense Hydrator ini gak harus dikombi sama Reconstructor. Dia juga bisa dipakai sendiri sebagai conditioner atau masker. Oya, rambut dalam keadaan lembab itu artinya rambutnya masih agak-agak basah tapi udah gak ada lagi air yang menetes. Salah satu caranya bisa dengan membungkus rambut basah pakai handuk atau kain kaos selama beberapa waktu setelah selesai keramas.
Kesan selama ini setelah beberapa kali pakai, hasilnya memang beneran membuat rambut terasa lebih sehat. Cuman saya perhatikan, bagian yang rusak banget masih bandel bertahan kering kusam meski udah keliatan membaik juga sih sebetulnya. Mungkin ekspektasi saya terlalu berlebih. Beberapa praktisi rambut bilang: once it's dead, it's dead.

2. Matrix Biolage Ultra Hydrasource
Terlalu banyak perawatan protein bisa bikin rambut justru jadi rapuh. Jadi diperlukan juga produk penghidrasi rambut yang gak mengandung embel-embel keratin maupun protein untuk diselang-seling dengan protein treatment. Dari banyak produk penghidrasi rambut yang direkomendasikan para pro di forum tersebut, yang bisa saya temukan di pasaran lokal cuma si Matrix Biolage ini. Awalnya saya cari conditionernya, kok gak nemu. Yasud, beli hair masknya aja. Ternyata wujudnya gede banget, isinya buanyak hampir setengah kilogram, padahal harganya relatif murah. Ini sih setahun juga gak bakalan abis (kecuali saya buka salon hehe). Cara pakainya sama dengan pakai hair mask biasa. Setelah selesai keramas, dilanjut masker Matrix Biolage yang diaplikasikan ke rambut lembab dan didiamkan selama beberapa menit.
First impression pakai ini, rambut kayanya malah jadi megar, banyak yang melayang-layang. Jadi begitu rambutnya udah kering, lohh kok malah jadi keliatan lebih ngembang dari biasanya. Waduh gimana ini. Mana banyak banget lagi. Trus mo diapain dong iniii, open for share aja kali ya wakakaka....

3. The Body Shop Rainforest Moisture Conditioner
Tau gak sih? Sebetulnya gak ada satupun produk rambut TBS yang direview oleh praktisi rambut manapun yang saya temui di internet. Boro-boro direkomendasiin, disebut-sebut aja enggak. Tapi kenapa ikut saya review? Karena ini nanti endingnya bagus xixixi...
Ini aseli conditioner paling unik yang pernah saya temui. Konsistensinya sangat kental padahal tutupnya fliptop, alhasil susah dikeluarin dari botolnya. Jadi saya nyimpannya dalam keadaan terjungkir sehingga produknya ngumpul di leher botol. Untuk mengeluarkannya, yang dibuka tutup ulirnya lalu botolnya agak dipencet sambil dihentak. Instruksi penggunaannya juga unik: harus dicampur dengan sedikit air baru diaplikasikan ke rambut. Dan yang makin bikin unik, nyaris ga ada efeknya sama sekali. Masih lebih enakan pakai Pantene atau Dove. Trus ini sebetulnya apaan sih ya?

4. The Body Shop Rainforest Radiance Detangling Spray
Ini adalah semacam leave-in conditioner dengan fungsi detangler yang diperuntukkan bagi rambut yang diwarnai, semacam itulah klaim di botol maupun websitenya. Hmm menarik dicoba. Kesan pertama waktu beli: suka deh sama botol spraynya. Gak bakalan saya balikin buat ikutan program Bring Back Our Bottle wahahaha... Wanginya enakkk. Isinya banyakkk. Apakah sukses sebagai detangler? Hmmm rambut saya gak pernah kusut sih sebenernya. Setelah pakai ini, tetep seperti biasa aja. Gak bikin lebih smooth, gak bikin lebih alus, gak bikin lebih berkilau, pokoknya gak bikin gimana-gimana lah. Gak bikin lepek juga, malah kesannya jadi volumized dan terlihat sedikit kering. Oke, ini juga bukan sesuatu yang saya cari.

Koleksi perawatan rambut ekstra
untuk rambut diwarna/dibleaching
1. Matrix Biolage Hydrasource
2. Joico K-Pak: a. Deep Penetrating
Reconstructor; b. Intense Hydrator
3. The Body Shop Rainforest: a. Radiance
Detangling; b. Moisture Conditioner

Review di atas adalah berdasarkan pengalaman ketika saya menggunakan masing-masing produk sendiri-sendiri secara normal sesuai instruksi di kemasannya. Nah akan tetapi tiba-tiba tanpa sengaja, saya menemukan bahwa ketika semuanya dipakai sekaligus, hasilnya malah mengejutkan. Rambut saya jadi keliatan normal dan sehat. No frizz, no megar, no lepek. No damage!! Yang saya lihat cuma rambut asli saya yang sudah dua tahunan ini tidak saya temui akibat diwarnai dan dibleaching, minus warna hitamnya tentu.

Gimana cara pakainya? Apa langsung templak-templok gitu aja? Essentially yes, meski secara teknis ya gak gitu-gitu amat juga. Pertama saya mengaplikasikan duo produk Joico sesuai instruksi. Setelah rambut dibilas dan dalam keadaan lembab, kemudian dilanjut TBS Moisture Conditioner yang mana langsung ditimpuk sekalian pakai Matrix Biolage lalu didiamkan agak lama. Setelah selesai dibilas lagi, kembali dalam keadaan lembab, rambut disemprot TBS Detangling Spray, disisir-sisir pakai jari biar agak rapi lalu dikeringkan pakai hair dryer. Saya sebetulnya jarang pakai hair dryer kecuali kepepet, tapi terus terang bosen banget udah berjam-jam mondar-mandir dalam keadaan rambut basah. Nah pada saat rambut sudah benar-benar kering, saya pun cukup surprised melihat hasilnya pas ngaca. Terbayang sebelumnya, saya bakalan lihat rambut yang rada ngembang-ngembang gitu macam biasanya, apalagi ditambah kena panas hair dryer. Eh ini kok ternyata enggak. Rambut terlihat normal dan sehat. Sebagian rambut yang masih agak lurus menggantung kaku akibat kena bleaching, terlihat kembali elastis, luwes mengombak (rambut saya emang berombak). Bagian lain yang wujudnya jadi mirip gula-gula kapas akibat overprocessed kena bleaching sampai level 9/10, bisa balik keliatan kaya rambut lagi. Ah pokoknya seneng banget lah. Dan setelah hampir seminggu, keadaan membahagiakan ini ternyata masih bertahan. Wow, I'm so in love!!

Sekarang saya jadi bertanya-tanya. Ini berkat jasa produk dan tahapan yang mana sebetulnya? Apa iya memang harus dipakai semuanya gitu? Soalnya niat awal main templok tadi sebetulnya cuma karena pengen cepet ngabisin produk TBSnya aja xixixi..... Waaah kalo gini kayanya saya perlu bikin eksperimen lagi nih. Jadi penasaran pingin nemuin best hair regime yang bisa bikin rambut saya balanced begitu terus.


Saturday, December 2, 2017

Resep: Simple Homemade Chicken Nugget (Serba Cemplang-Cemplung)

Lauk apa yang paling praktis untuk disajikan di piring anak-anak dan pasti bakal dimakan dengan riang gembira? Yes, nugget adalah salah satunya. Tapi kalau harus nyetok nugget kemasan tiap bulan kayanya kok jadi bikin berat nggorengnya ya. Semacam disayang-sayang gitu, secara harganya juga gak murah. Plus kadang saya agak-agak muncul rasa bersalah karena menghidangkan makanan yang pasti mengandung zat kimia tambahan untuk penyedap.

Akhirnya saya pilih bikin sendiri aja.  Rada repot di awal sih memang, tapi hari-hari berikutnya tinggal cemplang-cemplung sesuka hati aja ke wajan. Plus ada sedikit rasa bangga khas emak-emak yang masakannya dimakan dengan lahap oleh anak-anaknya xixixi.....

Bikin nugget ternyata gak susah-susah amat. Setelah beberapa kali bikin sambil nyontek resep, lama-lama jadi terbiasa. Sebetulnya cuman cemplang-cemplung aja bisa sih, tanpa perlu takaran khusus. Pada prinsipnya, saya biasanya hanya perlu bahan-bahan dasar berikut ini saja:
- daging ayam cincang kurleb 250an gr
- tempe kotak 1 bungkus (optional)
- oatmeal 1 sdm
- kecap saus tiram 2 sdm (optional)
- minyak wijen 1 sdm (optional)
- bawang bombay secukupnya, cincang halus
- merica 1 sdt, tumbuk halus
- garam secukupnya
- telur 1 btr

Bahan finishing:
- telur kocok 1 atau 2 btr (tergantung kebutuhan)  sebagai pencelup
- tepung roti/bread crumb sebagai pelapis

Alat:
- kukusan
- loyang yang muat masuk di kukusan

Cara membuat:
1. Campurkan semua bahan dasar jadi satu hingga lumat dan rata.
2. Lakukan cek rasa dengan menggoreng secuil adonan.
3. Kemudian adonan ditempatkan di dalam loyang yang sebelumnya sudah diolesi sedikit minyak goreng supaya nanti tidak lengket.
4. Dalam satu batch pengukusan, penempatan adonan dalam loyang jangan tebal-tebal agar matangnya merata.
5. Kukus hingga kurang lebih 30 menit.
6. Setelah matang, tunggu hingga uapnya habis, lalu potong-potong sesuai selera.
7. Siapkan bahan finishing
8. Celupkan tiap potongan nuget kukus ke dalam kocokan telur lalu gulirkan ke tepung roti/bread crumb
9. Susun dalam sebuah wadah dalam posisi berjejeran dan jangan bertumpukan.
10. Simpan di dalam freezer.

Tips:
- Menurut saya, bawang bombay dan merica adalah komponen bumbu yang paling bikin nendang rasanya. Saya biasanya agak royal untuk dua bahan ini.
- Kalau tidak ada bread crumb, bisa diganti dengan campuran biskuit asin dan cream crackers yang ditumbuk sendiri. Di sini kita bisa berkreasi sesuka hati. Saya malah pernah iseng mencampur dengan remukan potato chips karena stok bread crumb tinggal sedikit.
- Kocokan telur sebagai pencelup dapat diganti dengan alternatif lain yang lebih ekonomis yakni adonan tepung + air.
- Loyang dapat digantikan wadah apa saja yang ada, asalkan muat di kukusan, tahan panas, dan bukan plastik.

Selamat menyetok nugget bikinan sendiri

*gambar nyusul yaaa.. Hihihi*

Saturday, November 4, 2017

Tips Menyimpan Wortel Di Kulkas Agar Awet Segarnya

Suatu hari, saya dapat limpahan rejeki berupa sayuran organik segar dari seorang teman. Seumur-umur, saya baru kali ini pegang wortel yang masih berdaun lebat. Waktu masih ada di dalam kantong kresek, itu dedaunan yang menyembul keluar saya kira daun seledri. Tapi kok gak wangi ya. Jangan-jangan peterseli. Ehh pas ditarik keluar, taraaa..... Ada wortelnya ngahahahaha..


Wortel kalau kelamaan disimpan di dalam kulkas akan layu dan hilang kesegarannya. Batangnya akan gembuk (empuk), susah dikupas, dan teksturnya tidak renyah lagi. Maka dari itu, biasanya saya suka menyimpan wortel dalam keadaan matang lalu masuk freezer. Selain agar supaya awet, cara ini juga praktis. Setiap membuat masakan yang membutuhkan wortel, saya tinggal cemplang-cemplung saja. Tapi kali ini saya agak malas menggunakan cara itu. Hari sudah malam, anak-anak mulai merengek ngajak bobok, plus saya sebetulnya juga ngantuk banget. Menunggu wortel sampai matang dan relatif empuk kan lumayan makan waktu.

Sambil mengawasi para serdadu cilik beberes mainan menjelang tidur, saya sempatkan googling tips menyimpan wortel di dalam kulkas. Hasil pencarian merujuk pada tiga cara yang berbeda. Pertama, dibungkus kertas (selain kertas koran) tanpa dicuci. Cara ke dua, sama-sama dibungkus kertas tapi dalam keadaan sudah dicuci. Lalu cara yang ke tiga, direndam di dalam air dan diganti secara berkala apabila sudah keruh. Persamaan dari ketiganya adalah sama-sama mengharuskan menghilangkan bagian daunnya terlebih dahulu.

Aduh udah malem, ketemu tiga pilihan gini jadi galau. Dicoba semua aja deh. Toh wortelnya ada banyak. Dan setelah empat hari, inilah hasilnya:


1. Wortel yang disimpan tanpa dicuci. Warnanya paling kurang segar dibanding yang lainnya. Bagian luarnya paling kering sehingga perlu dikupas. Bahkan salah satunya sudah mulai agak gembuk.
2. Wortel yang disimpan dalam keadaan bersih.
Warnanya masih cukup oranye. Bagian luarnya sedikit mengering dan perlu dikupas. Kondisi dalamnya masih cukup keras dan renyah.
3. Wortel yang direndam dalam air.
Dapat dilihat, warnanya paling segar. Tidak ada yang mengering (yaiyalah, pan di dalam air). Tidak ada perubahan berarti pada kekerasan dan kerenyahannya.

Kesimpulan akhir, rupanya tips yang paling juara dalam mengawetkan wortel adalah cara yang ketiga. Menyimpan di dalam rendaman air bersih dapat mempertahankan kesegaran wortel cukup lama.

Sekian tips sederhana dari saya. Semoga bermanfaat dan silakan dicoba ^^

**Update setelah 16 hari (2 minggu):
Wortel yang di dalam air masih segar.
Wortel yang di kertas mulai agak gembuk.

Sekarang saya punya cara baru menyimpan wortel. Tinggal cuci lalu rendam dalam air dan masukin kulkas. Bisa belanja agak banyakan deh. Wortel akan awet relatif cukup lama, asal jangan lupa mengganti airnya jika sudah mulai agak keruh :)

[Part 2] Menutup Rambut Akar a.k.a Mensiasati Puding Hair - Lowlights


Rambut ombre ala Ciara

Ini adalah tulisan lanjutan tentang bagaimana agar tidak perlu bolak-balik mewarnai rambut untuk menutupi rambut bagian akar yang baru tumbuh supaya tetap keren dan gak belang-belang. Tapi ini khusus untuk yang suka mewarnai rambut dalam rangka fashion yaa. Soalnya kalau treatment pewarnaan uban caranya agak berbeda.

Pada Part 1 yang lalu, saya menulis tentang shadow root, yakni menciptakan area transisi warna sehingga rambut terlihat bergradasi gelap-menuju-terang secara natural. Nah pada tulisan kali ini, saya membahas trik lain yang juga menarik juga untuk dicoba yakni lowlights.

Definisi lowlights adalah kebalikan dari highlights. Keduanya sama-sama menjadikan rambut jadi lebih berdimensi dan berkesan sunkissed look. Perbedaanya, highlights dibuat dengan cara membuat beberapa helai rambut menjadi lebih terang warnanya sementara lowlights justru menjadikannya lebih gelap. Seperti gambar di bawah ini.

Menambah lowlights pada
rambut blonde

Dari gambar di atas, bisa dilihat bahwa lowlights artinya menambahkan dimensi warna yang lebih gelap pada rambut. Pewarna yang digunakan adalah 1-2 tingkat lebih gelap dari warna rambut keseluruhan dan diaplikasikan pada beberapa helai rambut secara selang-seling. Sebagai catatan, gaya ini lebih cocok untuk yang rambut akarnya masih pendek banget alias bener-bener baru numbuh dan keliatan cuma dikit. Kalau rambut aslinya udah numbuh sekitar 10an cm, mending dikombinasikan dengan shadow root juga, biar gak aneh.

Lowlights dan shadow root


Untuk menciptakan lowlights, dibutukan teknik pewarnaan dengan menggunakan foil. Saya pernah nemu di sebuah blog DIY yang mengatakan bahwa foil itu dipakai cuman biar rapi aja. Hmmm bukan begitu juga kali yaa... Foil digunakan untuk memisahkan helai-helai rambut yang dikerjakan menggunakan teknik atau warna yang berbeda agar tidak saling tumpang tindih sehingga masing-masing proses tidak terganggu. Pada proses bleaching, foil membantu mempertahankan suasana lembab untuk mencegah krim bleaching mengering dan kehilangan daya kerjanya.

Teknik foil akan dibutuhkan juga dalam menciptakan lowlights. Fungsinya jelas, yakni menjaga agar cat warna gelap yang digunakan hanya mengenai helaian rambut yang sudah dipilih, gak mampir-mampir ke tetangganya. Tar bisa belang-blonteng dong. Sedikit tips buat DIY-ers, karena teknik foil ini gampang-gampang susah bin merepotkan, cek dulu bagaimana rambut kita biasanya disisir, mana poninya, belahannya di mana. Kemudian aplikasikan foil cuma di bagian yang bakalan paling terlihat aja, misalkan paling luar. Kalau rambutnya suka dikucir, ambil juga rambut bagian bawah (dekat leher) yang bakalan kelihatan. Yaaa agak tricky-tricky dikit lah. Namanya juga DIY hahaha.... Tapi kalau di antara teman-teman DIY-ers ada yang OCD, gemes banget sama kerjaan separuh-separuh, mengaplikasikan foil ke seluruh kepala juga boleh aja. Bikin foil buat lowlights ini relatif lebih gampang ketimbang bikin higlights karena gak butuh cepet.

Karena tujuan lowlights di sini adalah untuk menyamarkan rambut akar yang baru numbuh, maka warna pewarna rambut yang dipilih sebaiknya mendekati warna asli rambut kita. 'Kita' di sini maksudnya orang Indonesia yaa, jadi jelas warna rambut akarnya pasti gelap. Sama halnya dengan shadow root, pewarna rambut yang digunakan sebaiknya dicampur dengan krim developer dengan konsentrasi peroksida di bawah 20vol.


Krim developer
peroksida rendah

Sebetulnya pewarna rambut dengan konsentrasi peroksida rendah masuk kategori tersendiri yakni sebagai pewarna jenis demi permanen. Pewarna jenis ini rendah amonia karena memang ditujukan bagi yang ingin mewarnai rambut tanpa membuat jadi lebih terang (tone on tone) atau malah menjadikan lebih gelap (going darker). Tapi sayangnya, pilihan produk pewarna rambut demi permanen di Indonesia cukup terbatas. Berbeda dengan di luaran sana yang ada banyak pilihan. Untuk mengakalinya (DIY-ers harus banyak akal kan ya), bisa pakai pewarna rambut permanen yang dijual di pasaran tapi dengan krim developer yang dibeli terpisah. Seperti yang pernah saya sebutkan di Part 1 (link), Makarizo memproduksi krim developer 10vol dan Activator 2% sementara dari Loreal ada Deactivateur 9vol. Bisa juga sih pakai krim developer yang sudah disertakan dengan krim pewarnanya, tapi sebelumnya diturunkan dulu konsentrasi peroksidanya dengan mencampurnya dengan air non mineral atau bisa juga menggunakan conditioner.


Pewarna demi
permanen
Di akhir tulisan ini, saya sertakan link video tutorial bikin lowlights. Ada dua versi: versi salon untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang lowlights, dan versi DIY (at home) supaya bikin gemes pengen cepet praktek ngahahahaha.... Trial n error is fun selama kita membekali diri dengan pengetahuan. So, have fun ^^

Lowlights ala salon

Tutorial bikin lowlights sendiri

Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking blog maupun forum rambut akibat 2x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Link menarik:
Seputar krim developer 
Demi permanent?
Bleaching rambut hitam

Friday, October 27, 2017

[Part 1] Menutup Akar Rambut a.k.a Mensiasati Puding Hair - Shadow Root

Akhirnya, setelah cukup lama hibernasi menulis, saya kembali menjamah blog ini. Hp sempat rusak, ide mampet, lengkaplah sudah. Lalu kenapa saya mendadak jadi mau posting tulisan lagi? Karena tiba-tiba kepingin berbagi cerita. Saya kan di rumah gak punya teman untuk ngobrolin topik yang aneh-aneh ahahaha....

Kali ini cerita tentang rambut. Dua tahun belakangan, rambut saya belum pernah balik virgin lagi. Tahun 2015 lalu, sekitar seminggu sebelum kelahiran anak ke dua, saya memutuskan untuk mengeksekusi rencana lawas untuk berganti warna rambut. Di awal kehamilan, saya dilarang dokter. Setelah perut membulat gede banget, saya pikir ok this is the time, now or never. Soalnya saya yakin pasti gak bakalan punya waktu lagi buat ngurus diri sendiri setelah lairan. It's time for pampering myself before the newborn invasion hahahahah....

Saya perhatikan, biasanya orang jadi ketagihan dan suka ganti-ganti warna secara berkala setelah nyobain ngecat rambut untuk pertama kali. Kenapa? Salah satunya karena merasa harus bin wajib. Ngerasa harus ngecat lagi karena rambutnya udah mulai numbuh dan warnanya jadi belang, beda akar sama ujungnya. Malahan beberapa blogger ngasi julukan puding hair, padahal puding kan enak ya.....

Rambut numbuh baru 
a.k.a regrowth

Bayangkan suatu ketika berhasil memperoleh warna rambut yang diidam-idamkan trus tiba-tiba muncullah si akar belang. Kalau ditimpa cat lagi, sayang juga, warnanya udah bagus. Kalau dibiarin panjang, jadi belang a.k.a puding hair. So how? Bisa diakalin pakai gaya shadow root.

Shadow root blonde
Gaya shadow root juga dikenal dengan sebutan-sebutan lain seperti root smudge, root melt, atau sombre. Tujuannya semua sama, yakni untuk menyamarkan batas perbedaan warna rambut antara ujung dengan akar yang baru numbuh. Cara ini cocok buat yang kepingin membiarkan rambut aslinya tumbuh panjang tanpa perlu merusak penampilan. And plus the low maintenance too, gak usah repot mikir ngecat lagi buat sementara waktu ke depan tapi bisa tetep cakep *kibas rambut*.

Pada prinsipnya, shadow root adalah wujud sikap menerima kenyataan bahwa rambut kita aslinya memang gelap hahaha.... Yah semacam itu lah. Jadi alih-alih ditutupi, akar rambut yang gelap itu tadi justru diekspos dengan cara root stretch, dipanjangin. Caranya? Cari warna cat yang senada dengan warna rambut di bagian akar, lalu diaplikasikan mulai dari dekat akar sampai ke bawah beberapa senti, lalu dibaurkan (blend) sehingga tercipta gradasi. Buat teman-teman yang suka DIY a.k.a ngecat sendiri di rumah, saya bagikan link tutorialnya di akhir tulisan. Sementara yang gak pengen repot-repot dan milih dikerjain di salon, tinggal googling gambar dengan keyword di atas, lalu diprint pake resolusi tinggi dan tunjukin ke orang salonnya.

Shadow root red hair

Idealnya, untuk menghasilkan shadow root yang sukses, diperlukan cat rambut semi permanen yang tidak mengandung amonia, atau cat demi permanen yang amonianya sangat rendah. Contoh cat rambut jenis ini yang beredar di Indonesia setahu saya produk keluaran Loreal yaitu Dialight dan Diarichesse. Bisa dibeli di toko supply barang-barang salon.

Loreal Diarichesse (atas)
dan Dialight

Buat teman-teman DIY-ers, saya yakin kalian sangat kreatif untuk tidak terpaku pada produk tertentu. Yang perlu diingat, shadow root pada prinsipnya adalah toning yang menggelapkan, jadi gak perlu mengangkat warna rambut. Untuk itu, hindari krim developer 20vol ke atas. Pakai cat rambut kotakan yang biasa dijual bebas sebetulnya bisa, asalkan jangan lupa menurunkan konsentrasi oksidan di dalam krim developernya. Atau bisa juga mengganti krim developer bawaannya dengan krim developer lain yang 10vol ke bawah misalnya merk Makarizo atau Loreal Diactivateur.

Berikut ini ada beberapa video tutorial yang menurut saya cukup informatif dan sangat membantu. Trial n error is fun selama kita membekali diri dengan pengetahuan. So, have fun ^^

Aplikasi shadow root ala DIY

Aplikasi shadow root ala salon

>> Part 2

Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking blog maupun forum rambut akibat 2x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Link menarik:
Killerstrands
Bellatory
Salongeek

Wednesday, February 15, 2017

Quick Review: Nature Republic Flower Jeju Flower Balm Peach Blossom



Foto diambil dari kpopmart.com

Halo...
Ini adalah quick review a.k.a review kilat mumpung ada mood dan ada kesempatan. Nulisnya malam-malam jadi mohon maaf belum bisa posting foto. Hahaa... (blogger pemalas) Kebetulan hp Android lagi rusak, opname di bengkel servisan, jadi susah mau bikin draft postingan tiap kali kepikiran ide. Ini bukan banyak alasan ya, cuma satu kok alasannya qiqiqiqiii....

Saya biasanya gak begitu suka lip balm. Yahh pengalaman saya dengan lip balm memang baru sebatas Tender Care dari Oriflame dan varian Born Lippy dari The Body Shop (gratisan birthday gift). Kesan saya: sticky, glossy, mengkilap kaya makan gorengan, transparan, bikin bibir yang aslinya udah full jadi keliatan tambah full (bikin muka isinya keliatan bibir tok), dan yang paling nyebelin jadi susah nempelin lipstik apapun di atasnya. Kalo komentar teman saya, "Lip balm emang bukan buat ditumpukin lipstik tauk!!" Baiklah, meski mungkin memang benar lip balm bukan untuk ditumpukin lipstik, tapi efek hasilnya yang gak memuaskan tadi jadi bikin saya pengen nimpukin aja pake lipstik biar agak ada warnanya. Bayangin, udah warna bibirnya gelap, eh mengkilap lagi. Udah gitu, lengket tapi gak bikin lembab. Kalau bibir lagi kering, tetep aja teksturnya kasar meski secara tampilan seolah lembab (tersamarkan oleh kilap). Saya buang-buang aja isinya buat bikin DIY tinted lip balm.

Update:
Akhirnya bisa pajang foto sendiri

Nah alasan di atas tadi yang bikin saya jadi kepingin sharing tentang flower lip balm keluaran Nature Republic ini. Pertama oles langsung seneng banget. Creamy tapi sama sekali gak lengkettttt, plus berasa banget efek melembabkannya. Dan satu hal lagi yang saya suka adalah lip balm ini lumayan pigmented di atas bibir gelap saya. Memang warnanya gak bakalan sesolid lipstik, tapi setidaknya bisa bikin bibir cukup merona sehingga keliatan segar alami. Justru yang begini ini yang saya demen. Bikin dandan keluar rumah jadi semakin praktis. Gak usah menor-menor, yang penting seger......

Lalu bagaimana dengan hobi saya yang suka numpukin lipstik di atas lip balm?
It goes well with any lip color!! Mau ditumpukin apa aja, gak masalah. Mau yang model palet maupun model lipstik konvensional, hayuk aja. Saya kebetulan lebih suka mengaplikasikan lipstik pake jari sih ketimbang mengoleskan lipstik langsung ke bibir. Kalau pakai flower lip balm ini, jari saya merasakan bahwa bibir jadi terasa lembut, bahkan pas musim lagi kering-keringnya (yang biasanya bikin bibir ngelupas sana-sini) sekalipun.

Update:
Penampakan isinya

Sebelum memulai tulisan ini, saya coba googling nama lengkapnya. Kebetulan di packagingnya gak ada keterangan apa-apa, cuma tulisan Nature Republic doang. Dan di internet, saya menemukan lebih dari satu versi nama. Tapi yang paling banyak muncul adalah Flower Jeju Flower Balm. Hmm itu kenapa kata flowernya diulang-ulang yaa...

Ada dua pilihan warna dari flower lip balm ini: Rose Blossom dan Peach Blossom. Yang saya punya, kalau dilihat dari warnanya, sepertinya yang varian Peach Blossom. Ketika dibuka, ada aroma floral yang lembut. Tapi ketika sudah diaplikasikan ke bibir, aroma tersebut hilang. Warnanya di bibir jatuhnya jadi sheer pink. Efeknya, bibir jadi terlihat merona segar alami.

Update:
Saya bolak-balik jarnya
Gak nemu tulisan Flower Balm atau apapun

Berapa harganya? Ehm saya kurang tau karena ini cuma oleh-oleh adik ipar dari Korea (lagi-lagi gratisan wahahaha). Seorang beauty blogger mengeluhkan harga lip balm ini mahal karena dia belinya di harga £5. Sementara setelah browsing-browsing, saya menemukan bahwa di Qoo10 dijual seharga US$ 4.70, di Ebay seharga US$ 5.01, di Koreadepart harganya US$ 4.41 diskon 35%, di Yesstyle harganya US$ 5.52, dan di Amazon dibanderol US$ 6.39.


Repurchase?
A.k.a mau beli sendiri kalo udah abis? Kepingin sih, cuman kayanya produk ini sudah discontinue. Di web Koreadepart sudah gak keluar. Adanya packaging baru yang sepertinya di berbagai web rata-rata disebut sebagai Jam Balm. (kenapa saya jadi ingat jamban?)

Nulis tentang lip balm, saya jadi ingat pernah punya rencana cerita tentang pengalaman tentang bikin DIY tinted lip balm. Gara-gara hp rusak jadi lupa deh (ceritanya cari kambing hitam). Kapan-kapan aja lah xixixi......

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...