Showing posts with label DIY hair. Show all posts
Showing posts with label DIY hair. Show all posts

Sunday, July 30, 2023

Review: Matrix Wonderlight WL-G - Rambut Coklat Natural Tanpa Bleaching

Saya lagi beberes gudang waktu nemu tote bag berisi perlengkapan hair coloring lawas saya. Di antara beberapa kotak cat rambut Miranda yang sudah expired, terselip satu boks cat highlift Matrix Wonderlight warna WL-G. Rupanya itu sisa dari review eksperimen bikin highlight tanpa bleaching di tulisan ini. Dipikir-pikir mau dibuang kok sayang, karena expired datenya masih lama. Tapi dilego juga siapa yang mau, wong sudah dibuka dan berkurang sekitar sepertiga. Mana gak ada campuran developernya pula. Akhirnya, ya udah deh dipakai sendiri aja. Dan karena saya sedang mode 'males rempong', 'butuh solusi cepat', dan 'yang penting abis', diputuskan untuk minta tolong salon aja. Kebetulan di dekat saya ada salon yang bersedia terima pelanggan yang bawa bahan pewarna sendiri. Mereka tinggal ngecat-in doang. Lumayan, dengan nambah cairan developer 30vol dari salon, ongkos ngecat plus keramas dan blow dry total 75ribu.

Maaf fotonya nyomot dari google.
Sebelum dipakai gak sempet motret karena
belum kepikiran untuk dijadikan bahan tulisan


Swatch shade WL-G (Gold)


Sebelum dicat, rambut saya hitam virgin jadi ga ada foto beforenya ya. Rambut hitam tuh yaa gitu-gitu aja kan. Kita semua punya sendiri 😁 Rambut saya aslinya sekitar level 3, helaiannya tipis halus dan tidak hitam pekat. Dari proses pewarnaan di atas, warnanya naik sekitar 2-3 level jadi sekitar level 5-6 kalau dilihat dari underlying pigment yang muncul. Overall warnanya semacam coklat medium kemerahan dengan highlight keemasan kalau terkena sinar matahari dan terlihat cukup natural kalau indoor. Meski shade G mengacu pada warna gold atau kuning, rambut saya gak jadi yang gimana-gimana. Yaa karena rambut di tingkatan ini aslinya memang masih kaya akan pigmen kemerahan dan keemasan sih. A bit more gold doesn't make a change. 

πŸ‘‰πŸ‘‰ Sedikit penjelasan tentang level rambut di sini. 

Not my hair, cuma untuk gambaran aja



Level gelap terang rambut


I'm happy with the result. Saya puas karena mbak coloristnya pinter, hasil warnanya merata dan bagus. Jujur ya, sebetulnya mewarnai rambut tuh enakan di salon. Tinggal duduk dan trima jadi. Pulang-pulang rambutnya udah bersih dan harum. Coba kalo ngerjain sendiri, repot, belepotan, kadang hasilnya gak rata. Apalagi bleaching. Beuh... Beneran harus dibantuin kalo mau bebas ribet. Kamu bisa coba cari salon-salon kecil yang mau bantu ngecat rambut pelanggan yang bawa produk sendiri. Yang punya banyak langganan nenek-nenek sepuh ngecat uban will be better. Lumayan cut the cost loh. Tapi ini saya sarankan untuk jenis pewarnaan one global color aja, bukan model-model yang butuh teknik spesial seperti highlight atau ombre. It takes skills and sense, ga yakin semua salon kemahirannya merata dalam hal ini.


Hasil akhir


Kesimpulannya, saya cukup senang dengan hasilnya karena dari awal emang gak ada ekspektasi mau warna apa. Cuma mau ngabisin stok cat aja daripada mubazir. Bagi teman-teman yang ingin rambut coklat, bisa coba pakai ini. Dari segi harga memang jauh lebih menguras kantong ketimbang cat rambut lokal yang dijual di supermarket, tapi ini sebetulnya masih relatif ekonomis karena tubenya besar. Selain itu, ada kualitas yang bakal berpengaruh kalau kita ingin warna rambut bisa naik jadi terang sampai beberapa level tanpa membuatnya tampak rusak. Kalau menginginkan warna yang lebih warm atau lebih cool, tinggal pilih shade. Cek chart warnanya, kalau swatchnya gelap (abu-abu, biru, hijau) maka kemungkinan dapet warna cool brown atau warna-warna coklat yang lebih natural cukup besar. Kalau mau warna coklat yang warm bisa pilih warna-warna seputar copper dan gold. Untuk mendapat level gelap terang yang diinginkan, tinggal bermain di campuran developernya. Menurut panduannya, Wonderlight ini bisa mengangkat rambut 3-4 level, bergantung karakter rambutnya. Tapi yang jelas jangan pakai 12% atau 40vol please....


Monday, December 28, 2020

Review: Matrix Wonder Light Clear - Highlight Rambut Tanpa Bleaching

 Hai hai.....

Belakangan ini benar-benar fiuuhhhh. Postingan ini dibuat pada bulan Desember 2020 yang mana artinya pandemi Covid-19 sudah hampir satu tahun mewarnai peradaban manusia bumi. Banyak hal yang berubah dalam keseharian kita bukan?

Nah ceritanya saya masih menyimpan penasaran dengan highlight setelah sekitar satu setengah tahunan lalu mencoba babylight bleaching menggunakan Joico Creme Lightener. Sekedar informasi  babylight adalah istilah untuk highlight yang sangat halus. Hasilnya cukup memuaskan bagi saya karena rambut yang di-highlight jadi terlihat sangat natural. Warnanya ngeblend banget sama rambut aslinya. Cuma satu kekurangannya, warna hasil bleachingnya kurang rata karena mengaplikasikan foil sendirian itu susah setengah mati πŸ˜… sampe pengen nangis hahahaha.... Ngerjainnya lamban banget sehingga adonan bleaching di mangkok terekspos di udara kelamaan. Akibatnya, rambut yg kena bleaching belakangan kurang maksimal prosesnya dibanding yang awal-awal.

Babylight pakai bleaching Joico Creme Lightener setahunan lalu

Proses bikin babylight, harus tipis-tipisss


Belajar dari pengalaman pertama, saya nyerah aja deh, meski puas tapi rasanya gak sanggup DIY highlighting pakai bleaching lagi. Oleh karena itu di kesempatan kali ini, sebagai alternatifnya saya pilih cat permanen yang gak sensitif terhadap waktu. Berbeda dengan zat bleaching yang berproses terus-menerus, cat permanen punya batas waktu. Setelah sekian menit yang ditentukan, dia akan sampai pada kinerja yang maksimal kemudian berhenti. Lalu karena saya hanya ingin rambut jadi lebih terang tanpa diwarnai, pilihan jatuh pada cat permanen jenis highlift warna Clear. FYI, highlift adalah jenis cat rambut permanen yang punya kemampuan mengangkat warna rambut agak tinggi, bisa 2 hingga 4 level. Untuk project kali ini, demi alasan ekonomis, saya memutuskan pakai merk Matrix varian Wonder Light. Lumayan dengan harga 70an ribu bisa dapet tube gede isi 90ml. Value for money banget kan. Jadi ga usah ngecat sambil ngirit-ngirit karena kuatir kehabisan bahan hahaha...

Pewarnaan kali ini dilakukan dalam dua sesi dan gak sepenuhnya DIY karena saya minta bantuan dari teman yang berpengalaman ngecat rambut untuk pengerjaan sekepala. Sesi pertama adalah menyiapkan 'kanvas' untuk sesi ke dua nanti. Bagian-bagian rambut paling luar yang bakal keliatan dibuat highlight dulu, lebih terang sekitar 2 level saja cukup. Ini saya kerjakan sendiri dan menghabiskan sekitar 15 lembar foil, pakai Matrix WL Clear dengan campuran developer 20vol, ratio 1:2. Setelah itu, rambut didiamkan selama 45 menit agar zat highlift bekerja maksimal. Hasilnya rambut jadi naik di level merah-oranye keemasan, seperti gambar di bawah. Lumayan terang ternyata meski developernya cuma 6%. Yah memang warnanya kurang ngeblend sih, jadi agak chunky highlight πŸ˜… Saya ambil helaian rambutnya agak banyakan, soalnya kapok bikin babylight, susahhh 😬

Matrix Wonder Light + developer 30vol
(Yang developer 20vol gak kefoto)

Klaim: bisa mengangkat warna rambut hingga 4 level

Chart warna Matrix Wonder Light, nyomot dari lapak orang
Saya pakai yang Clear (lingkaran atas)

Hasil sesi 1: highlight, terangnya belum terlalu kelihatan
Aslinya sih ada emas-emasnya dikit tapi setingan kameranya otomatis bikin gambar hasil jepretan jadi lebih cool ketimbang aslinya

Setelah puas dengan hasil highlight di atas, lanjut panggil bala bantuan untuk sesi ke dua. Masih pakai WL Clear juga tapi kali ini dengan campuran developer 30vol dan full head a.k.a sekepala. Nah ada hal menarik yang saya amati di proses ini. Teman saya mengaplikasikan cat rambut secara normal untuk bagian rambut yang dimulai dari 2cm setelah akar sampai bawah. Kira-kira setelah menunggu 20-30 menitan, dia mulai mengaplikasikan di bagian yang dekat akar rambut dengan cara berbeda. Jadi gak sekedar ditemplok rata tapi juga disisir-sisir supaya warnanya ngeblend dan gak terjadi hot root (bagian pangkal lebih terang ketimbang ujung). Pengerjaan bagian pangkal ini memakan waktu sekitar 10 menit sehingga ketika selesai, rambut bagian bawah sudah melalui proses selama 40 menit. Karena saya gak mau akarnya terlalu terang, 15 menit kemudian rambut dibilas. Hasilnya bisa dilihat seperti berikut.

Hasil sesi 2: indoor lighting
Warm (ki) VS natural (ka) 


Hasil sesi 2
Kiri: outdoor lighting
Kanan: under sun light

Hair levels: tingkatan gelap-terang rambut

Saya cukup puas dengan hasilnya. Di dalam ruangan dengan pencahayaan normal/natural, warnanya coklat medium, dan di bawah sinar matahari jadi merah keemasan. Sementara yang sebelumnya sudah dihighlight terlihat brassy orange, kurleb level 5-6. Meski brassy tapi masih sesuai harapan, karena WL Clear kan memang seharusnya gak ada warnanya, kerjanya hanya lifting (mengangkat warna) tanpa proses toning (memberi warna). Kalau ada yang kepingin nerangin warna rambut tapi gak mau bleaching, ini bisa jadi salah satu alternatif pilihan. Kondisi rambut sesudahnya pun gak berasa rusak atau gimana-gimana. Buat Teman-teman yang kepingin rambut coklat dalam satu kali ngecat, bisa coba varian warna lainnya yang berfungsi toning juga, tinggal disesuaikan aja dengan hasil akhir yang dimaui. Btw ini saya ga dapet endorse lho *uhuk* Pakai highlift merk lain pun tak apa hahaha.

Setelah ini, saya kayanya bakal harus ngecat lagi dengan warna ashy untuk mengatasi brassy di atas. Meski ketika indoor cokelatnya terlihat oke, tapi  setelah keluar ruangan, warna emas-emasnya itu jadi muncul, bikin malu aja πŸ˜… Masih menimbang-nimbang sih, mau pakai cat apa. Yang jelas apapun itu yang penting semoga bisa terlaksana trus bikin reviewnya di marih πŸ˜‰





Monday, May 25, 2020

More Review & Swatch: Miranda Permanent Hair Color MC-16 (Eksperimen Lanjutan)

Semenjak memposting tulisan ini, saya jadi tahu ternyata Miranda Ash Blonde MC-16 banyak peminatnya karena pada kepingin punya rambut warna ash blonde dan abu-abu (kaya uban hihihi). Saya akhirnya ikutan penasaran, gimana sih hasilnya kalau pakai cat ini plek ketiplek sesuai petunjuk manualnya. Beneran jadi ash blonde, atau jadi abu-abu kaya yang di gambar kotaknya, atau warna lainnya?

Untuk eksperimen kali ini, saya menggunakan sampel rambut, bukan langsung ke rambut yang nempel di kepala. Tapi masih rambut sendiri sih. Beberapa waktu yang lalu saya mulai bosan dengan warna rambut saya karena bagian pangkalnya udah mulai panjang, harus retouch. Tapi males, karena warna rambut saya didapat dari proses highlight pakai foil, retouchnya ga bisa sembarangan, butuh ada yang bantuin. Kedapetan ide mau diapain tapi harus nunggu sampai jadi virgin dulu semua. Iseng-iseng rambut saya potongin, khusus sepanjang yang warnanya udah bule. Trus pikir saya, kayanya bisa nih buat bikin eksperimen warna. Dan setelah lebih dari setengah tahun dianggurin akhirnya baru dieksekusi sekarang haha....

Sampel rambut 'before' yang digunakan pernah dibleaching satu kali. Pakai Joico Creme Lightener dan krim developer 20vol merk Alfaparf, bisa mencapai level 7-8 dari kondisi virgin. Eksperimen ini memakai dua bundel sampel rambut. Sebelum diwarnai, salah satunya akan dibleaching lagi sampai level 9-10, sementara yang satunya dibiarkan apa adanya. Tujuannya adalah mau lihat gimana hasilnya terhadap level rambut yang berbeda. Harapannya dengan ini jadi bisa menjawab satu pertanyaan umum yang sering muncul: kalau mau berhasil pakai Miranda Ash Blonde memangnya harus bleaching dulu ya?

Rambut before, level 7-8

Bahan bleaching

Sudah bleaching, siap diwarnai

Proses pewarnaan
Miranda Ash Blonde

Hasilnya:
Pewarnaan pertama
Pada rambut level 9-10, hasilnya pirang dan gak ada ashy-ashynya sama sekali. Bahkan menurut saya jadi bener-bener murni level 10, kuning pucat dan jernih. Yang jelas perlu dicatat, hasil warna ini meleset jauh dari yang ditampilin di boksnya. Ash blonde bukan, abu-abu juga bukan. Fail πŸ‘ŽTapi yang menarik, pada rambut yang level 7-8 warnanya jadi jauh lebih terang semacam level 8-9, kaya habis bleaching. Wah kadar amonia dan level krim developernya pasti cukup tinggi nih.


Miranda Ash Blonde
Foto after, di bawah pencahayaan yang berbeda-beda
Gak terlihat ashy sama sekali kan..

Pewarnaan ke dua
Jujur hasil pewarnaan pertama di atas bikin ngganjel di pikiran. Dulu saya berhasil menghasilkan warna keabu-abuan pakai Miranda Ash Blonde, yang ini kok fail. Apakah mungkin karena faktor krim developernya? Waktu itu saya memang pakai krim developer merk lain sih. Untuk menuruti rasa penasaran ini, saya mengulang langkah pewarnaan seperti di atas terhadap kedua sampel rambut yang sama. Timpa aja pokoknya. Bedanya kali ini saya mengurangi takaran krim developer menjadi setengahnya dan menambahkan conditioner bawaan Miranda dengan jumlah yang sama. Jika digabung dengan krim pewarnanya, maka komposisi total campuran antara krim pewarna dengan krim developer dan conditioner kurang lebih adalah 2:1:1. Tujuan penambahan conditioner ini adalah untuk menurunkan kekuatan developer menjadi setengahnya.


Miranda Ash Blonde
Foto after
Final result, dengan pencahayaan yang berbeda-beda

Voila, it’s ashy, gaess. Very subtle pada rambut level 9-10,  but it has obviously grey tinge. Sementara pada rambut level 7-8 yang sudah  berubah jadi seperti level 8-9 hasilnya menggelap, dari blonde jadi light brown. Jujur saya agak bingung juga dengan efek yang terjadi pada sampel rambut yang satunya ini. Kenapa malah yang muncul warna coklat yaa?

Tapi kalau melihat hasil pewarnaan ke dua ini, dugaan awal saya sepertinya tepat. Krim developer bawaan Miranda cukup kuat sementara pigmen warna di krim catnya tidak bisa mengimbangi. Mengingat saya pernah memperoleh warna abu yang lebih gelap lagi dengan krim developer 10 vol pada eksperimen terdahulu, besar kemungkinan krim developer bawaan Miranda ini lebih tinggi dari 20 vol.

Kesimpulan
Miranda MC-16 Ash Blonde sifatnya mirip highlift, bisa menaikkan warna rambut sampai beberapa level. Jika ingin mendapat hasil ash blonde, sebaiknya krim developernya diturunkan agar pigmen warnanya gak kalah. Salah satunya bisa dengan cara memasukkan conditioner dengan ratio 1:1. Krim developer campuran ini nanti total takarannya harus disesuaikan dengan kebutuhan krim pewarnanya. Cara lainnya, pakai krim developer merk lain yang ada label keterangan % atau volumenya sehingga hasilnya lebih bisa diprediksi. FYI dengan krim developer 10 vol, warna abu-abunya bisa lebih keluar. Yang perlu dicatat, Miranda Ash Blonde ini hasilnya cenderung agak kehijauan. Kalau mengharapkan warna abu-abu murni, saya lebih merekomendasikan memakai campuran antara Miranda MC-2 (biru) dan MC-13 (ungu). But beware, kedua warna tersebut sangat pigmented (seperti contoh di sini).

Satu catatan lagi, untuk mendapatkan hasil warna abu-abu, harus bleaching sampai level 9-10, warna kuning terang. Di bawah itu, warnanya sepertinya jadi kecokelatan. Saya gak tahu kenapa bisa begitu, karena ini kejadian juga di tulisan terdahulu. Tapi kalau mau diambil sisi positifnya, Miranda MC-16 Ash Blonde boleh nih dicoba sebagai alternatif pilihan buat yang mencari hasil warna rambut light brown.


Sudah siap mencoba? πŸ˜‰


Monday, October 8, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 2] - Tips Bleaching Sehat

Jangan lupa cek Part 1 juga ya. Ada rumus buat dapetin warna abu-abu lho πŸ˜ŠπŸ‘‡
<<< Part 1 - Mengapa Harus Bleaching? 

Kata kunci untuk bisa melakukan bleaching sehat adalah satu: SABAR. Orang sabar disayang Tuhan, ya kan.... Kesabaran sangat diperlukan baik dalam menjalani proses bleaching maupun membekali diri dengan ilmu tentang bleaching. Bagaimanapun rambut kan mahkota kita, perlu berhati-hati dalam memperlakukannya. Tentu lebih baik mencegah daripada tampil di depan umum dengan rambut rusak.

Level Rambut
Ini bekal awal yang berguna ketika kita mulai bermain-main dengan warna rambut. Jika sudah memahami ilmu level rambut, kita bisa mengaplikasikan bleaching maupun krim pewarna dengan penuh kepastian akan tujuan hidup hahaha... #apasih Yah maksudnya sih supaya bisa tahu kita sedang memulai dari mana dan akan berakhir seperti apa. Semacam: oke sekarang rambut saya level 2, saya mau warna di kotak yang merupakan level 8, jadi saya perlu bleaching sampai 6 level.

Level Rambut 1 s.d 10
1 Black
2 Very Dark Brown
3 Dark Brown
4 Medium Brown
5 Light Brown
6 Dark Blonde
7 Medium Blonde
8 Light Blonde
9 Very light Blonde
10 Lightest Blonde

Pic source

Nah level itu sebetulnya apa sih?
Level adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkatan gelap terang warna rambut. Level 1 melambangkan rambut warna hitam sementara level 10 adalah warna rambut pirang paling terang. Semakin tinggi level rambut, semakin mudah diwarnai karena pigmen di dalamnya semakin terang. Maka dari itu, agar rambut bisa berwarna-warni, diperlukan proses bleaching hingga mencapai level 10. Level 1 yang mana adalah hitam gelap biasanya dihasilkan dari pewarna buatan. Sedangkan rambut hitam natural umumnya dikategorikan level 2 atau 3 yakni cokelat gelap. Dengan demikian, masih diperlukan perjalanan panjang untuk menuju level 10 bagi rambut orang Asia. Inilah alasan banyak orang kemudian mengambil jalan pintas dengan cara menggunakan developer tingkat tertinggi yang ada di pasaran agar rambutnya cepat terang. Memang betul bisa berhasil pakai cara begitu, cuma..... Mending kita belajar sedikit dulu deh mengenai developer.

Bleaching Dengan Developer 40vol
Apa sih developer itu? Buat yang pernah nyoba ngecat rambut sendiri pasti cukup familiar dengan cairan satu ini. Semua krim pewarna pasti mensyaratkan untuk dicampur dengan developer. Banyak krim pewarna maupun bleaching yang dijual sudah sepaket dengan developernya supaya praktis tinggal pakai. Cairan developer mengandung senyawa hidrogen peroksida yang diperlukan untuk mengaktivasi zat-zat kimia yang terkandung di dalam krim pewarna maupun bleaching. Pada krim pewarna permanen misalnya, zat kimia di dalamnya berfungsi untuk membuka kutikula, menghilangkan sebagian pigmen warna hingga naik 1-2 level, dan memasukkan pigmen warna bawaannya. Tanpa bantuan developer, zat kimia tersebut tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian pula halnya dengan produk bleaching. Developer diperlukan agar bleaching bisa masuk ke dalam batang rambut dan mengoksidasi pigmen supaya menjadi tak berwarna.

Semakin tinggi developer yang digunakan pada larutan bleaching, maka akan semakin kuat dan cepat level rambut dinaikkan. Itu anggapan yang sudah umum dan memang betul adanya. Tapi yang seringkali luput dari perhatian adalah semakin tinggi kandungan hidrogen peroksida di dalam developer, yang mana diinfokan dalam bentuk persentase maupun vol, maka semakin besar pula tingkat kerusakannya. Dan jeleknya, seringkali kutikula udah habis-habisan dibuka, tapi pigmen pheomelanin (merah, kuning) yang rada bandel ternyata masih ketinggalan. Pernah lihat orang yang rambutnya kuning keoranyean seperti warna karat besi dengan tampilan kusam dan terkadang tampak kaku seperti sapu? Yes, itu adalah salah satu contoh hasil dari penggunaan developer yang terlalu kuat tapi pengangkatan pigmennya tidak tuntas.

Common sense:
10vol mengangkat 1-2 level
20vol mengangkat 2-3 level
30vol mengangkat 3-4 level
40vol mengangkat 4-5 level
dst

Anggapan di atas, meski berlaku secara umum, tidak bersifat universal karena kondisi tiap rambut berbeda-beda. Perlu dipertimbangkan juga kondisi kesehatan dan kekuatan rambut. Selain itu, kualitas dan daya angkat produk bleaching yang dipakai juga akan menentukan hasil yang diperoleh.

Pic source

Pic source


Underlying Pigment
Underlying pigmen adalah pigmen yang tersimpan di dalam tiap batang rambut yang menjadi penentu warna alami rambut kita. Semakin gelap warna rambut, susunan pigmen semakin kompleks. Pembagian pigmen erat kaitannya dengan kategori level rambut yang sudah dijelaskan di atas. Warna-warna yang dikandung oleh pigmen-pigmen tersebut akan bermunculan ketika rambut mengalami proses pengangkatan warna. Saya pernah sedikit menyinggung tentang ini di tulisan Part 1 terdahulu. Sebagai pedoman, kita dapat menggunakan chart pada gambar berikut:

Pic source

Pada level 10 hasil bleaching, rambut sudah seperti kanvas bersih yang siap diwarnai apapun. Tapi jangan salah, level 10 itu tidak berwarna putih tapi kuning pucat yang mirip warna pisang bagian dalam alias daging buahnya (bukan kulitnya lho). Warna kuning pucat tersebut berasal dari ikatan komponen protein yang tersisa di dalam rambut. Jadi, setelah level 10 jangan bleaching lagi sampai putih karena ketika semua pigmen sudah dikeluarkan maka rambut akan berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan sudah dipastikan rusak parah. Gak mau kan ya...

Pengetahuan tentang keberadaan pigmen ini akan sangat membantu ketika kita ingin mengganti warna rambut. Tidak semua warna membutuhkan bleaching maksimal. Warna cokelat terang (light brown), misalnya, membutuhkan unsur warna merah. Oleh karena itu, warna rambut gelap cukup diangkat maksimal sampai dengan tahapan oranye saja di mana masih ada pigmen kemerahan di dalam rambut kita. Bahkan jika menginginkan warna cokelat yang tidak terlalu mencolok, bisa saja tidak dibutuhkan bleaching karena ada cat permanen jenis highlift yang memiliki kemampuan mengangkat warna rambut sampai 2-3 level kemudian mewarnainya.

Sedikit Tips Dan Trik Bleaching Sehat
1. Pakailah developer dengan kandungan peroksida rendah.
Ingat, rahasia bleaching sehat adalah sabar. Memakai developer 40vol memang cepat tapi itu namanya tidak sabaran. Lalu pakai yang berapa dong? Pakai yang 10vol atau 20vol maksimal. What?? Lama dong. Hehe kan emang harus bersabar. Jika terpaksa, bisa menggunakan 30vol untuk waktu yang cukup singkat tapi sebaiknya menghindari 40vol. Proses bleaching, untuk mudahnya, bisa diibaratkan menggoreng ayam tepung. Dengan besar api yang sesuai, ayam bisa matang sempurna. Kalau kegedean apinya, luarnya udah gosong tapi dalemnya belum mateng. Prinsip ini penting untuk diingat.

2. Gunakan foil
Gak harus foil sih. Kalau bleachingnya sekepala bisa pakai topi mandi atau kantong kresek untuk versi ekonomisnya.  Foil sendiri berguna untuk mengisolasi panas yang dihasilkan adonan bleaching sekaligus mencegah krim bleaching mengering akibat dibiarkan terbuka di udara. Ketika sudah kering, bleaching akan berhenti bekerja. Waktu efektif zat bleaching umumnya adalah 1 jam maksimal mentok, boleh kurang, jadi optimalkan waktu yang ada. Bisa dipercepat dengan dibantu dipanasi hair dryer tapi tadi rencananya kita kan mau bersabar, ya kan ya kan...

3. Lakukan secara bertahap
Rambut Asia memang butuh perjalanan panjang untuk mencapai level 10 sehingga mutlak dibutuhkan kesabaran. Jika dalam satu kali sesi bleaching masih belum mencapai level yang diinginkan, beri jeda dan ulangi di lain hari. Idealnya jarak antara sesi bleaching satu dengan berikutnya adalah minimal satu minggu. Dengan demikian rambut memiliki cukup kesempatan untuk memulihkan diri sejenak dari stres kimiawi. Jangan lupa lakukan perawatan ekstra di sela-sela sesi bleaching.

Tahapan bleaching dipengaruhi pigmen rambut
Pic Source

4. Cek daya angkat produk bleaching yang sudah dibeli.
Sebelum membuka bungkus bleaching, sebaiknya dicari dulu keterangan berapa level maksimal yang bisa dicapai. Sebagai contoh, kemasan bubuk bleaching Makarizo mencantumkan daya angkat hingga 3 level. Jika menggunakan produk ini, dari rambut asli level 2, pencapaian yang memungkinkan dari bleaching sesi pertama adalah level 5. Jika benar, maka bleaching ke dua mungkin bisa mencapai level 8. Jadi kemungkinan baru pada bleaching ke tiga lah tercapai level 10. Satu hal yang perlu diperhatikan, saya menggunakan kata 'mungkin' di atas karena keterangan daya angkat tersebut bukan angka pasti. Kondisi tiap rambut berbeda-beda. Ada yang mudah, ada yang susah. Apalagi kalau rambutnya sudah pernah diwarnai dengan warna gelap. Untuk itu, perlu dilakukan cek perkembangan reaksi bleaching setelah 15 menit berlalu dan berikutnya setiap 5 menit.

5. Menggunakan produk bleaching yang bagus a.k.a branded (opsional).
Tips ini opsional karena harus merogoh kocek agak dalam. Penjelasan sederhananya, produk bleaching profesional yang bagus, selain memiliki daya angkat lebih besar (menaikkan sekitar 7-9 level), juga dilengkapi dengan komponen kimiawi yang meminimalkan proses kerusakan (conditioning agent) dan mengurangi kemungkin munculnya warna yang tidak diinginkan a.k.a brassy. Produk yang semacam ini biasanya jarang dijual bebas di luar salon profesional dan kalaupun ada, mahal beud. Diperlukan kebulatan tekad sekuat baja dalam menginginkan bleaching sehat untuk mau berinvestasi pada produk yang terbaik, di samping kantong yang tebal tentunya.
*Update: Saya berkesempatan mencicipi bleaching merk Joico varian Creme Bleaching. Dalam satu kali proses (rambut virgin) bisa mencapai level 7-8-9 hanya dengan developer 20vol. Sayang harganya lumayan mencekik haha....

6. Menggunakan suplemen bonding agent (opsional juga).
Apa lagi ini? Produk hasil teknologi mutakhir untuk ditambahkan ke dalam adonan bleaching atau pewarna yang berfungsi untuk memperkuat ikatan struktur tiap helaian rambut sehingga dapat meminimalkan terjadinya kerusakan meski menggunakan developer 40vol sekalipun. Silakan search Olaplex, Smartbond, atau Redken pH Bonder. Silakan search juga harganya xixixixi..... Ono rego, ono rupo. Ada kualitas, ada harga. Sayangnya produk-produk tersebut tidak mudah diperoleh di sini. Ada juga stylist lokal yang jualan produk sakti yang diklaim sebagai racikannya sendiri dan katanya bisa menyehatkan rambut setelah bleaching. Kalau yang ini saya kurang tahu karena belum pernah nyobain.

7. Last but not least: Perawatan Ekstra
Bleaching adalah proses yang non reversible alias tidak bisa dibalik. Lapisan kutikula yang terbuka dan ikatan kimia dalam rambut yang terputus tidak akan bisa kembali pulih seperti semula. Rambut sudah rusak tanpa bisa dihindari. Dibutuhkan bantuan berbagai macam suplemen perawatan rambut untuk membantu merapikan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh proses bleaching . Ingat ya, hanya merapikan, tidak bisa mengembalikan seperti aslinya. Kondisi rapi ini sewaktu-waktu bisa berantakan lagi, tergantung bagaimana rambut diperlakukan. Maka dari itu, perawatan rambut bleaching perlu dilakukan secara berkala agar rambut selalu terlihat sehat.


Yakk sekian saja tulisan saya tentang bleaching sehat. Semoga informasi yang saya bagi ini bisa memberikan sedikit manfaat dan secercah cahaya pengetahuan bagi yang masih maju mundur cantik untuk bleaching. Jika dirasa masih kurang, perbanyak ngepoin chanel, artikel, maupun forum hairdresser profesional. Do your own research. Dan kadang kalau belum ngerasain sendiri tuh rasanya belum mantep.
It's Ok. Just go for it!! πŸ’ͺ



Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Friday, October 5, 2018

Review Masker Perawatan Rambut Rusak: Joico K-Pak Intense Hydrator

Saya pernah bercerita sedikit di sebuah tulisan beberapa waktu yang lalu tentang upaya mencari produk perawatan yang bisa mengembalikan kondisi rambut saya setelah disiksa sedemikian rupa oleh beberapa kali pewarnaan permanen, 2x highlift dan 2x bleaching. Jujur, setelah pengalaman hari itu, ternyata saya udah gak minat nyobain lagi. Kelamaan, buang-buang waktu. Jadi saya putuskan untuk mempertahankan sebagian dan sisanya cepet-cepet disingkirkan, entah dijual, entah dihabiskan. Salah satu yang saya pertahankan adalah Joico K-Pak Intense Hydrator.

 

Joico adalah merk produk perawatan rambut dari USA. Sementara K-Pak line adalah varian produk Joico yang dikhususkan sebagai perawatan protein bagi rambut kering atau rusak entah karena bleaching, pewarnaan, catok, perming,..... you name it. Varian K-Pak diklaim mengandung komponen protein yang dapat diserap dengan mudah oleh batang rambut. Meski banyak dapat acungan jempol di luar sana, produk ini sepertinya kurang lazim di Indonesia sehingga tidak mudah diperoleh. Beruntung saya menemukan suplier produk salon yang menjualnya di marketplace lokal. Cuman ya harganya sih gak main-main. Setube isi 250ml sekitar 250ribu. Tapi ini irit banget.

Seperti terlihat pada gambar, tubenya besar. Tutupnya berupa fliptop. Isinya berwarna putih dengan tekstur semacam conditioner. Wanginya lembut, enak.

Ingredients: Water/Aqua/Eau, Cetearyl Alcohol, Glycerin, Behentrimonium Chloride, Cetyl Esters, Lanolin, Pentapeptide-29 Cysteinamide, Pentapeptide-30 Cysteinamide, Tetrapeptide-28 Argininamide, Tetrapeptide-29 Argininamide, Hydrolyzed Keratin, Cocodimonium Hydroxypropyl Hydrolyzed Keratin, Hydrolyzed Keratin PG-Propyl Methylsilanediol, Hydrogenated Olive Oil, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Olea Europaea (Olive) Oil Unsaponifiables, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Aleurites Moluccana Seed Oil, Hydrolyzed Wheat Protein, Psidium Guajava Fruit Extract, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Oenothera Biennis (Evening Primrose) Oil, Tocopheryl Acetate, Hyaluronic Acid, Glycolipids, Amodimethicone, Isopropyl Alcohol, Panthenyl Hydroxypropyl Steardimonium Chloride, Ceteareth-20, Citric Acid, Tetrasodium EDTA, Trideceth-12, Cetrimonium Chloride, Benzophenone-4, Hydrolyzed Wheat Starch, Thioctic Acid, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Allantoin, Sodium Ascorbyl Phosphate, Sodium Hydroxide, DMDM Hydantoin, Methylparaben, Hexyl Cinnamal, Limonene, Benzyl Salicylate, Fragrance/Parfum.


Ini buat apa?
Ini digunakan pada rambut lembab (towel dried, bukan basah kotos-kotos) sehabis keramas seperti menggunakan conditioner atau masker rambut biasa. Aplikasikan secukupnya pada batang rambut, bukan kulit kepala, ratakan dengan cara disisir pakai jari. Ambil produknya gak perlu banyak-banyak karena memang sedikit aja sudah cukup. Tunggu sekitar 3-5 menit lalu bilas. Saya biasanya gak sesabar itu jadi baru satu menit sudah dibilas hehe... Tapi hasilnya tetap nendang kok.

Selain menjadi conditioner biasa, Intense Hydrator ini ternyata juga bisa jadi leave-in conditioner. Jadi kalau saya lagi buru-buru, saya aplikasikan ke rambut tanpa dibilas. Rambut jadi berasa halus banget, mudah diatur, dan ajaibnya gak lepek, balik ke tekstur normalnya. Tapi jangan terlalu sering menggunakan cara ini. Mungkin yah cukup satu kali dalam seminggu. Pengalaman saya, jarak pemakaian sebagai leave-in yang terlalu dekat membuat rambut jadi agak frizzy.

Final verdict?
Juara lah. Saya gak ada rencana ganti produk lain, di samping karena tubenya yang gede bener, setahun juga mungkin gak abis.

Sunday, September 30, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 1] - Ingin Ash Blonde Mengapa Perlu Bleaching?

Pic source

Apa sih permasalahan yang sering ditemui ketika kita mewarnai rambut sendiri?
- warna yang gak sesuai harapan,  
- beda dari swatch di kotak kemasan, 
- dan yang terutama adalah rambut rusak. 

Lalu kemudian jadi muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar bisa memperoleh warna rambut seperti gambar pada kotak atau di internet? Dapatkah mewarnai rambut tanpa merusaknya? Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut?

Mengecat Rambut = Menyemir Rambut?

Pic source
Hal awal yang perlu dipahami mengenai mengecat rambut adalah bahwa istilah mengecat ini bukan berarti benar-benar mengecat semacam menemplokkan cat pada rambut lalu voila warnanya berubah persis seperti gambar. Prinsip cat semacam itu hanya berlaku pada semir rambut uban di mana warna putih ditutup pakai warna hitam atau coklat tua. Tapi buat para generasi muda yang rambutnya masih hitam, sehat, dan asli, dijamin gak akan bisa. Ibarat mewarnai kertas hitam pakai spidol kuning, hasilnya apa? Ya hitam.

Mari kita gunakan lagi logika spidol kuning dan kertas hitam di atas. Agar supaya warna spidol kuning bisa terlihat jelas, kita membutuhkan kertas yang lebih cerah dari warna hitam. Semakin terang kertasnya, semakin jelas warna kuningnya, apalagi kalau kertasnya berwarna putih. Analogi ini akan memudahkan kita memahami kenapa rambut hitam perlu dibleaching agar bisa diubah menjadi berwarna-warni.

Bleaching a.k.a Memutihkan Rambut
Secara teknis, mengganti warna rambut sebetulnya adalah proses kimia yang mengutak-atik pigmen di dalam rambut. Tujuan utama bleaching adalah menghilangkan pigmen rambut yang tidak diperlukan ketika kita menginginkan agar muncul warna tertentu. Supaya mudah dibayangkan, helaian rambut kita ini bisa diumpamakan selang lentur transparan yang berisi pigmen berbagai macam warna. Dalam hal ini, yang kita lihat sebagai selang adalah lapisan yang disebut kutikula. Zat kimia pada adonan bleaching akan berusaha membuka kutikula agar dapat masuk lalu menghilangkan warna demi warna yang dikandung pigmen di dalamnya. Proses bleaching ini hanya bersifat satu arah a.k.a irreversible, tidak bisa dibalik. Kutikula yang sudah dibuka tidak akan menutup lagi dan pigmen yang sudah dihilangkan tidak akan bisa kembali lagi. Saya kira sampai pada titik ini kita sudah bisa menjawab satu pertanyaan besar yang sering ditanyakan banyak orang:

Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut? 
MUSTAHIL
setidaknya untuk teknologi saat ini. 
Maka dari itu dibutuhkan bantuan berbagai macam perawatan yang antara lain tujuannya adalah menutup kembali kutikula dan mengisi gap protein yang hilang sehingga rambut dapat terlihat sehat. 

Mau Rambut Abu-Abu Tanpa Bleaching?
Bisa banget. Syaratnya, tunggu sampai usia kita mencapai umur 60 tahun ke atas qiqiqiqi.... Tapi kalau masih di bawah 30 tahun dan tidak ada genetik ubanan di usia muda, jangan harap bisa melawan alam tanpa rekayasa. Yes, mengubah warna rambut adalah bagian dari rekayasa alam. Setuju? Dan alam ini diciptakan sangat resisten untuk mengantisipasi campur tangan manusia, demikian pula halnya dengan rambut. Jangan harap bisa gonta-ganti warna rambut dari biru pastel menjadi  abu-abu muda lalu diubah lagi ke rose gold dll tanpa kerja keras mengubah struktur kimiawi rambut. 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, mengganti warna rambut berarti melakukan modifikasi pigmen rambut. Pigmen di dalam rambut terdiri atas dua macam yakni eumelanin yang membuat rambut terlihat gelap, cokelat atau hitam, dan pheomelanin yang membuat rambut terlihat oranye, kemerahan, dan pirang keemasan. Dalam proses bleaching, eumelanin mudah teroksidasi menjadi tak berwarna, sementara pheomelanin relatif cukup bandel. Itulah sebabnya banyak rambut hasil bleaching jadi berwarna kemerahan, keoranyean, atau kekuningan.

Pigmen rambut mempengaruhi hasil bleaching
Pic source

Jika semua warna pigmen di atas sudah berhasil dihilangkan, berarti kita sudah sampai pada tahapan akhir bleaching. Rambut akan berwarna kuning pucat (pale yellow) karena tinggal struktur protein yang tersisa di dalamnya. Pada tahap ini, jangan coba-coba bleaching lagi kecuali kepingin banget botak.

Warna hasil akhir = warna pigmen rambut + pigmen bawaan artifisial

Rumus di atas adalah konsep dasar pewarnaan rambut. Jika berpegang pada prinsip tersebut, selanjutnya mestinya udah gak perlu bingung lagi.

Contoh:
Jika menginginkan rambut berwarna abu-abu seperti gambar di samping, maka seluruh pigmen yang sifatnya kemerahan harus dihilangkan. Untuk ini, gak ada pilihan selain bleaching sampai semua pigmen habis dan hanya tertinggal warna kuning pucat agar pewarna abu-abu dapat dengan mudah mendominasi warna rambut. Tanpa bantuan bleaching pada rambut hitam, pewarna rambut hanya bisa membantu menghilangkan warna pigmen yang mudah hilang saja yakni eumelanin, sementara pheomelanin akan masih bertahan. Hasilnya, rambut justru jadi coklat kemerahan karena pigmen abu-abu pada krim pewarna kalah kuat. Begitu logika sederhananya.


Masih mau bleaching meski tahu rambut sudah pasti akan rusak? 
Iya dong, masih kepingin rambut yang warna-warni nih, mumpung masih muda. Masa iya gak ada cara supaya rambut tetap sehat meski diwarnain? 
Ada sih, agak tricky karena perlu menyelam lebih dalam ke dunia perambutan hehe. Untuk itu, saya akan coba tuliskan lebih lanjut mengenai bleaching sehat di Part II
Sampai jumpa πŸ˜‰




Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Sunday, May 27, 2018

Hair Experiment & Review: Cat Rambut Miranda MC2, MC13, &MC16 (Before & After Picture)


Note: Review khusus buat reader cewek 😊
Reader cowok bisa main ke updated review di bawah siniπŸ‘‡
**(UPDATE - review lanjutan + Before-After) πŸ‘ˆ klik di sini


Hampir setahunan ini saya ketagihan main bleaching. Awalnya cuma ujung-ujung aja (ombre) lalu sedikit demi sedikit berani agak pede dengan mulai nyoba balayage dan bikin babylights (semacam highlights tapi lebih samar dan natural). Ehh ternyata bleaching itu jadi nagih buat saya. Soalnya bikin takjub, tadinya warnanya gini, eh bisa jadi gitu. Kaya nonton sulap. Jadilah kalo lagi suntuk, saya suka iseng nambahin helai rambut buat dibleaching wakakakaka...... Alhasil, rambut di kepala yang tadinya babylights sekarang mulai jadi highlights, mana chunky lagi a.k.a banyak-banyak.

Trus sekarang jadi bingung, ni rambut warnanya brassy belang-belang enaknya diapain. Ada yang berhasil sampe level 9-10 (kuning-kuning pucat), ada yang masih stuck di oranye keemasan dan oranye kemerahan. Kalau pakai color wheel theory, saya butuh banyak warna buat melawan brassiness hasil keisengan ini wahaha....

Tahapan bleaching rambut

Color wheel theory (sumber)


Saya jadi ingat, pernah nemu video bule (di sini) tentang cara praktis membasmi warna brassy di rambut dark blonde pakai cat semi permanen warna silvery grey. Kalau menurut gambar color wheel di atas, sebetulnya warna abu-abu gak masuk hitungan untuk color correction. Tapi si cewek bule tadi sukses tuh, hasilnya oke. Saya jadi penasaran juga toh.

Nah selanjutnya saya pun hunting cat rambut warna abu-abu. Yang jadi masalah, pewarna rambut semi permanen sepertinya kurang populer. Merk yang bisa dibeli secara bebas sangat terbatas pilihannya. Mau ikut PO jastip atau cari di Ebay agak males, soalnya cuma mau coba-coba ini, mending murah-murah aja dulu lah. Satu merk yang cukup menarik perhatian saya adalah Miranda. Varian warnanya yang terbaru sepertinya cukup ngehits juga, MC-16 dengan label Ash Blonde. Kalo gambar rambut cewek di boksnya sih bukan blonde tapi abu-abu. Entah gimana nanti hasilnya. Kalaupun gagal, harga sembilan ribuan sih mestinya gak bikin nyesek-nyesek amat.

Selain Miranda shade MC-16 Ash Blonde, saya juga jaga-jaga beli MC-2 Blue untuk melawan oranye dan MC-13 Rose Purple untuk melawan kuning. Rencananya mau dicampur semua dengan perbandingan 1 tube MC-16 dan masing-masing sekitar 1/3 atau 1/2 tube untuk MC-13 dan MC-2.

Bahan-bahan yang digunakan

Kelengkapan isi boks

Petunjuk bahasa Indonesia
di samping boks

Petunjuk Bahasa Inggris
di sisi satunya

Peralatan mewarnai rambut
Jangan lupa tisu dan cermin

Hari Pertama - Miranda MC-2 dan MC-13
Saya awalnya mencampurkan warna biru dan rose purple terlebih dahulu. Perbandingannya 1/3 tube (10gr) biru dan 1/2 tube (15gr) rose purple. Di atas, saya sempat menyebutkan ada rencana mencampur ketiga warna Miranda yang saya beli. Tapi setelah meracik warna biru dan rose purple, saya ganti rencana. Mendadak inget, saya pernah nemu beberapa review bahwa mencampur biru dan rose purple bisa menghasilkan warna abu-abu juga. Okelah coba ini aja dulu. Langsung saya tuang aja developer 10vol Makarizo dengan takaran 25gr (ratio 1:1 dengan krim pewarnanya).

Timbangan dapur digital
Murah kok, cuma 30an ribu

Saya baru kali ini kenalan langsung sama pewarna rambut Miranda. My first impression adalah aroma amonianya alamaakkkk..... Sumpah gak tahan, pengen muntah. Saya sampai ngacir pindah tempat ke area rumah yang lebih terbuka. Waktu lihat adonan pewarnanya, saya sempet bimbang. Duh apa tega ya rambut ini ditemploki benda yang baunya menjijikkan gini.

Akhirnya tetep ditega-tegain aja sambil meringis-ringis nahan bau. Dan ternyata warna hasilnya adalah gelap segelap-gelapnya.... Rambut saya jadi jet black a.k.a level 1 wakakakakaka.... Mungkin harusnya saya ikut-ikutan nyampur pakai conditioner kaya orang-orang biar warnanya gak terlalu kuat. Yahh namanya juga baru pertama nyoba. Well oke, katanya Miranda ini gampang luntur. Kayanya saya jadi harus sering keramas nih.

Hari Ke Dua - MC-16 Ash Blonde
Sebelumnya, ketika mengecat pakai MC-13 dan MC-2, saya membagi rambut saya menjadi 3 layer horisontal, dari luar ke dalam. Karena rambut saya panjang dan helaiannya banyak, adonannya gak cukup untuk semuanya, jadi saya batasi hanya kena layer pertama (terluar) sampai layer ke dua saja. Nah layer ke tiga yang tak tersentuh adalah yang paling dalam. Layer ini adalah area rambut yang paling banyak kena eksperimen bleaching, jadi paling terang. Potensial diwarnai apapun sehingga cocok untuk eksperimen ash blonde.

Nahh Miranda MC-16 ini ternyata agak beda. Sepertinya isinya sudah mengalami revisi. Sebelum menuangkan krim developer, saya sempat menyiapkan mental, bersiap untuk menghadapi lagi aroma yang memabukkan. Eh ternyata tidak, sodara-sodara, memang baunya masih ada tapi gak terlalu kuat. Sewaktu eksekusi dua warna yang sebelumnya, saya rasanya kaya duduk di dalam got mampet yang mana air gotnya buat keramas huhu.... Yang ini enggak. Sebagai orang yang sudah biasa mewarnai maupun bleaching rambut sendiri, saya menganggap Miranda shade MC-16 memiliki aroma amonia yang masih bisa ditolerir.

Ada satu lagi yang saya perhatikan. Pewarna rambut Miranda ini pedes di mata. Ehhh saya bukannya ngolesin ke mata lho. Tapi kalau pas ngerjain rambut sekitar wajah (fringe area), mata berasa semriwing. Beneran kuat banget amonianya. Jadi rambut di fringe area musti ditarik jauh-jauh dari wajah sewaktu mengaplikasikan pewarnanya.

Hasilnya
Sewaktu proses pewarnaan, entah kenapa sepertinya
ada segumpal rambut yang ketinggalan.
Baru liat pas udah dibilas.
Tapi jadinya malah jadi gampang buat bikin penampakan before-afternya.

Di atas, saya sempat komentar kan bahwa gambar rambut cewek di kotaknya bukan ash blonde melainkan abu-abu. Ternyata memang hasil warnanya abu-abu gelap, plus ada samar-samar kehijauan. Hijaunya seperti apa yaa, mungkin bisa dibayangkan semacam perpaduan lumut dan lumpur. Lalu di bagian rambut yang bleachingnya gak sampai kuning terang (hanya oranye kemerahan), warna brassy orange-nya berhasil hilang tapi gak jadi lebih gelap ketimbang bagian ujung. Jadinya rambut saya yang sebelumnya gradasi gelap ke terang, hasilnya malah jadi belang. Bagian atas yang masih virgin berwarna gelap, masuk ke area bleaching bertransisi menjadi cokelat, tapi di ujung balik gelap lagi menjadi keabu-abuan.

Setelah 3-4 kali cuci rambut,
MC-16 mulai pudar abu-abunya

menjadi greyish blonde

Setelah 5-6 kali cuci rambut
Greyish blonde hasil dari MC-16 

yang ada di foto sebelumnya 
memudar jadi dark ash blonde.
Sementara rambut hitam hasil
gabungan MC-2 dan MC-13
memudar jadi abu-abu

Kesimpulannya?
- Gabungan shade MC-2 dan MC-13 menghasilkan warna gelap dan dapat memudar menjadi abu-abu (pure grey).
- Shade MC-16 Ash Blonde pada rambut yang dibleaching sampai kuning (level 9-10) hasilnya abu-abu gelap agak kehijauan dan dapat memudar jadi light ash brown atau dark ash blonde.
- Shade MC-16 Ash Blonde dapat mengurangi brassy pada rambut oranye menjadi cokelat natural.
- Berbeda dengan MC-2 dan MC-13, aroma amonia pada MC-16 jauh lebih samar
- Pewarna rambut Miranda mengeluarkan gas amonia yang kuat sehingga berasa pedas di mata. Sebaiknya mengaplikasikannya dijauhkan dari wajah
- Harganya murah meriah
- Mudah dibeli secara online
- Catatan pribadi: Aroma conditioner bawaannya lebih mirip body lotion dan gak terlalu membantu menutupi sisa-sisa bau amonia setelah dibilas.
- Pada Miranda MC-16, rupanya ada tiga macam warna swatch yang ditunjukkan di boksnya. Jadi bagaimana kesesuaian hasil dengan swatchnya? Hmmm disimpulkan sendiri dari gambar di bawah ini aja deh

Timeline hasil pewarnaan
di bawah natural light
Menurut saya, pewarna rambut Miranda ini lumayan oke, dapat menjadi alternatif pilihan andai dalam keadaan darurat harus nutup rambut yang gagal hasil bleaching. Ketidakawetan warnanya justru menguntungkan karena gak membuat saya terpaksa terikat pada satu warna rambut dalam jangka waktu lama. Sembari menunggu warnanya memudar, bisa memberi waktu berpikir enaknya setelah ini rambutnya diapain lagi yaa. Tapi secara pribadi, baunya sebetulnya bikin agak-agak males mengulang pengalaman ini lagi haha.....

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...