Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Wednesday, March 27, 2024

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX


Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung tepenuhi gegara bingung. Iya bingung mau nulis apa lagi tentang produk ini. Pertama udah diskontinu yang mana jadi ga ada gunanya dibaca kan ya. Yang ke dua, gak ada kesan istimewa apa-apa lagi. Gak ada keluhan apa-apa, tapi juga gak ada sesuatu yang bikin hype.


Pengalaman Pemakaian

Oke saya cerita pengalaman pakainya aja deh. Kebetulan saya bereksperimen coba-coba berbagai cara yang terpikirkan demi menemukan best experience with this product. 

1. Sesuai petunjuk

Saya gunakan single use, sebagai first treatment langsung pasca cuci muka, tanpa didahului toner dan dengan memakai kapas. Rasanya seger dan adem. Mungkin juga efek dari kandungan alkoholnya yang menguap membawa sebagian kalor dari kulit. Kadang bisa menarik kotoran juga dari kulit. Kapasnya jadi kecoklatan. Wajah juga jadi relatif terlihat agak bersihan. Tapi gak ada efek glow yang biasa saya peroleh dari pakai SK II Clear Lotion.

2. Sebagai essence

Saya taruh Laneige pada 2nd step setelah toner SK II. Kadang tap-tap pakai kapas, kadang langsung templok aja. It mattifies the skin and keeps the glow from SK II. Oke sih, cuman kalau dirasa-rasain ga ada efek hydratingnya, jadi setelah itu saya merasa butuh step pelembab.

3. Ganti-ganti kapas

Jujur aja, saya bingung gimana cara pakai kapas bawaan Laneige ini. Katanya yang bertekstur digunakan untuk eksfoliasi pada pagi hari dan bagian yang halus untuk absorbsi maksimal produk pada kulit ketika malam hari. Nah di sinilah yang saya kurang paham. Kapasnya sendiri terdiri atas tiga lapis yang saling menempel/terhubung. Lapisan pertama teksturnya garis-garis banget, lalu nempel di baliknya lapisan kapas dengan tekstur garis-garis halus, dan yang terakhir tanpa tekstur tapi tipis banget dan gak lembut seperti dua lapis lainnya. Itu apa semua? πŸ˜… Di boksnya juga ga ada keterangan apa-apa tentang tampilan yang unik ini. Ngubek-ubek Youtube maupun Google, ga nemu ada yang bahas kapas Laneige yang ajaib ini.

Kalaupun yang dimaksudkan untuk dipakai adalah lapisan 1 (bertekstur) dan 2 (less tekstur), mereka berdua nempel dan susah dipisahkan untuk dimanfaatkan sendiri-sendiri. Tapi kalau dipakai barengan sebagai kapas bertekstur di pagi hari, ya abis dong produknya nyerap ke kapas semua πŸ˜… Akhirnya saya improvisasi pemakaian secara free style aja, alias suka-suka. Kadang malah pakai kapas lain.



Tampilan kapas

Ada tiga lapis kapas

Lapisan 1 dan 2 susah dipisahkan dengan elegan.
Hasilnya compang-camping seperti ini πŸ₯²

Video jelasnya
Kapas lapisan ke-3 berbeda kan 
dari dua lainnya.



Final Verdict?

It's a good product but not quite impressive. 

Repurchase? Ga mungkin, karena udah diskontinu. 

Apakah minat nyobain penggantinya yang Radian C Advanced Effector? Kayanya enggak, secara baru-baru ini menemukan bahwa Niacinamide sepertinya is not for me. 



Sunday, March 10, 2024

Tips & Trik Menyimpan Cabe Supaya Awet Segar

Sebagai orang yang jarang nyambel dan jarang masak pedas gegara ada bocil yang lidahnya anti pedas, saya sering harus membuang cabe-cabe yang mengering di kulkas. Ya habis gimana, mau beli cabe sebiji dua biji kan ga mungkin. Ditambah penampakan cabe-cabe yang segar di warung sayur bikin imajinasi melayang, jadi ngebayangin mau masak ini masak itu. Alhasil belanja cabenya suka melebihi kebutuhan.


Cara menyimpan cabe supaya awet segar yang mau saya share di sini aslinya saya temukan secara gak sengaja. Jadi aslinya saya terbiasa menyimpan cabe secara ngasal. Setelah diambil sebuah dua buah, sisanya digeletakin di kulkas gitu aja, masih dalam kantong plastik yang merupakan wadah default dari tukang sayur. Kadang di rak atas, kadang di laci sayuran di bawah. Saya cenderung gak peduli karena toh dalam waktu sekian hari bakalan kering keriting atau malah mblenyek (lembek, mushy). Kesel sih, tapi mau gimana lagi.


Suatu ketika saya naruh kantong plastik isi cabe sisaan di rak paling dasar. Entah gimana, dia kedorong-dorong sampai mepet dinding kulkas belakang. Kebetulan kulkas saya sudah jelek, sering bocor dan menggenangi dasarnya. Rupanya air bocoran tadi masuk kantong cabe sampai penuh. Waktu itu saya pikir wah payah, mblenyek abis ini, jadi air asinan cabe πŸ˜… Ternyata salah. Justru cabenya terlihat utuh, segar, dan masih mlenuk-mlenuk. Dipegang juga masih keras. Saya coba potong, langsung mak kresss.... Crunchy. Bahkan menurut saya malah lebih fresh dibanding kalau baru beli dari tukang sayur.

Jadi muncul pertanyaan, jangan-jangan cabe kalau direndam dalam air malah jadi seger. Trus muncul ide. Kayanya bisa jadi eksperimen baru nih.


Gambar Before: Sempat masuk kulkas beberapa hari,
baru kepikiran untuk bikin tulisan ini


Saya pun beli cabe lagi dari tukang sayur. Berikutnya, cabe-cabe tersebut saya bagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama saya simpan kering dalam toples tertutup. Kelompok ke dua saya rendam dalam air di toples tertutup juga. Setelah saya lupakan beberapa hari, waktunya ditengok kembali. Dan inilah hasilnya,



Gambar After


Ternyata bukan dilupakan beberapa hari,  sodara-sodara, melainkan hampir sebulan hahahahahhh πŸ˜… Baru nyadar waktu liat time stampnya. Foto before diambil bulan Juni, foto after diambil bulan Juli. OMG saya ternyata bisa nyimpen cabe selama itu di kulkas πŸ™ˆ

Tapi bisa kelihatan kan ya. Yang disimpan dalam keadaan kering hasilnya peyot semua. Yang direndam air masih seger-seger meski airnya udah agak butek. Beberapa memang jadi lepas tangkainya, tapi cabenya masih bagus.

Fixed, ternyata menyimpang cabe dengan cara direndam air efektif mengawetkan cabe hingga hitungan waktu berbulan-bulan. Kalian bisa coba deh. Asli saya seneng banget waktu nemu cara ini.


Meski demikian, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan kalau mau pakai cara ini:

1. Sebisa mungkin jangan merendam sampai bagian pangkal tangkai. Upayakan posisinya tegak sehingga bagian cabe yang menempel dengan tangkai tetap ada di atas air. Saya memperhatikan beberapa kali, cabe yang terendam semuanya akan terlepas tangkainya dan lama-lama jadi mushy (mblenyek). 

2. Apakah harus di toples tertutup? Karena saya mengupayakan poin no.1 di atas,  saya menyimpan dalam toples untuk membantu posisi cabe tetap tegak.

3. Merendam cabe dalam keadaan tegak sebetulnya optional. Kalau gak berniat menyimpan dalam waktu lama (apalagi yang lamanya kebangetan kaya saya 😁), merendamnya masih bisa bebas kok. Tangkai cabe gak akan terlepas dan cabe gak akan jadi mushy dalam waktu dekat. Kalau cuma beberapa hari masih relatif baik-baik aja. Tangkai lepas pun gak lantas langsung lembek. Masih ada waktu jeda sekian hari. 

Ini tangkainya udah lepas tapi cabenya masih bagus


4. Sepertinya cara ini juga bisa untuk menyimpan paprika di kulkas. Tapi saya baru nyobain sekali dan kurang lama untuk dibuktikan karena keburu dipakai masak. Saya suka pakai paprika untuk menciptakan sensasi aroma pedas (aroma cabe) pada masakan-masakan yang aslinya pedas, meski rasa makanannya gak pedas blas hahaha....



Beginilah penampakan penghuni tetap kulkas saya yang terbaru
Kalau ada yang tertarik dengan cara menyimpan
wortel supaya awet, bisa main ke sini.


Sunday, May 28, 2023

[Part 1] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX



Pernah saya sebutkan dalam sebuah tulisan beberapa waktu lalu (di sini) bahwa saya sedang dalam pencarian dupe untuk my all time HG toner, SK II Facial Treatment Clear Lotion. Ya gimana yaa, meski cocok dan cinta tapi agak ngenes juga tiap bayar hahaa. Mana barusan ngecek harganya makin mehong πŸ™ˆ Salah satu motivasi yang bikin cewek berada dalam never ending searching for new skincare kan memang itu ya: efektif tapi affordable a.k.a murce mursida πŸ˜†


Sebetulnya udah lama ngincer produk dari Laneige ini. Banyak review yang bilang Clear-C Effector ini bagus banget. Bahkan ada yang berani bandingin sama SK II FTE. Langsung tuing tuing radarnya nyala kan.... The only one thing that kept me from buying it was the price. Secara tujuannya saya buat gantiin toner, bandinginnya gak sama FTE tapi sama CL a.k.a Clear Lotion di rumah 🀭 Jaman segitu, SK II Clear Lotion di lapak langganan ukuran 230ml harganya setengah juta nambah dikit. Nah Laneige ini sekitar 500an ribu untuk ukuran 150ml. Kalau dibandingkan FTE memang jauh lebih ekonomis. Tapi kan saya mau pake ini buat gantiin toner, ya bandinginnya sama CL aja, tetep mahal juga jadinya *ngeyel* πŸ˜…


Trus kenapa akhirnya beli? 

Karena harganya udah jatoh bebas akibat mau discontinued hahahah... Iya, rumornya sekarang udah ga keluar lagi karena digantikan oleh line Radian-C. Plus harga SK II Clear Lotion di lapak langganan udah meroket dibanding terakhir beli πŸ™ˆ Sempet bimbang juga sih pas browsing, mau ambil yang Clear-C atau Radian-C aja yang baru. Dari segi harga emang beda, mahalan Radian-C, tapi tetep masih lebih affordable jauh dibanding SK II. Lagian kalau cocok kan bisa lanjut terus. Nah tapiiii..... setelah cari-cari battle review (yang umumnya endorse-an πŸ™ˆ) dan banding-bandingin ingredients, pilihan malah jatuh kepada Clear-C. Gercep bungkus karena di seller langganan udah last stock dan keterangannya bakal expired tahun depan.


Why??

Despite segala review positif tentang Radian-C, menurut saya dari segi komposisinya, Clear-C terlihat lebih ajib. It lives up to its claim: 92,5% superberry extract. Dari komparasi ingredientsnya bisa dilihat bahwa pada Clear-C, komponen pada urutan pertama adalah Malpighia Emarginata (Acerola) Fruit Extract, bukan air. Lalu disusul bermacam-macam extract tumbuhan (acai berry, kelor, mimba), kemudian baru air dan fragrance di bagian terbawah. Sementara pada Radian-C, yang ada pada urutan teratas adalah Water *wicis air*, baru disusul Malpighia Emarginata (Acerola) Fruit Extract, dst dst. Sepertinya ada penambahan senyawa vitamin C dalam bentuk murni maupun turunannya, tapi ada di paling bawah. Entah seberapa signifikan persentasenya. Saya juga menemukan bahwa komponen fragrance di sini posisinya lebih tinggi dibanding pada Clear-C.  I'm no scientist tapi main feeling aja lah, kayanya lebih menarik versi originalnya.  But both of them have alcohol ya...


Link source: INCI Decoder website


What is it & what's inside?

* Malpighia Emarginata (Acerola): buah acerola atau ceri barbados. Kaya akan vitamin C

* Euterpe Oleracea: buah acai berry, mengandung vitamin C sebagai antioksidan

* Niacinamide

So this is basically vitamin C brightening toner. Bener gak, Mbak Hye Kyo?


Siapp...

Saya cek aja deh ke web Laneige

Hmm, rupanya ini disebut sebagai vitamin booster. Penggunaannya adalah setelah step cuci muka dengan memakai kapas. Lhooo bener kan kalo gitu. Ini tuh toner bervitaminπŸ˜† *ngeyel*


Penampakan

Produk Laneige Clear-C Advanced Effector EX ini datang di dalam boks besar. Isinya botol berisi essence dan sekotak kapas. Oke ini kapas spesial yaaa, satu sisi bergaris-garis, sisi satunya polosan. Menurut petunjuknya, yang sisi garis untuk swiping bersihin kulit mati pada pagi hari, sementara sisi yang polos untuk tap-tap penyerapan produk maksimal di malam hari. Apakah saya akan mematuhi petunjuk ini? Hmm we'll see 😁 

Kemasan tonernya sendiri berupa botol beling transparan warna rose gold dengan tutup non ulir warna chrome and a bit pinkish. Openingnya berupa pump warna putih. Oke, kesannya elegan, udah pasti ya. Laneige gitu loh 😎  

Toner ini konsistensinya cair, warnanya bening, and it has scent. Secara pribadi saya sejauh ini gak ada alergi fragrance so no problemo, tapi andai ga usah pake wangi-wangian gitu ya lebih suka. Does the scent linger? No, it doesn't.


Boks full set

Kapas bawaan 1 boks

Kapas dua sisi

Opening with pump - konsistensi cair

Mini manual book

Petunjuk penggunaan


Pemakaian perdana

It dries fast. Apa mungkin efek dari kandungan alkoholnya? Yang jelas saya ga perlu kipas-kipas wajah nunggu kering untuk menuju step berikutnya. Lumayan mempersingkat 1-2 menit. Cuman kesan glow and bright yang biasa saya dapet dari SK II Clear Lotion ga muncul di sini. Hmmm.... 

Nah tapi menariknya, produk skincare berikutnya seperti meresap dengan cepat gitu aja. It just sinks in. So ini beneran booster yang membantu penyerapan maksimal next skincare product seperti kata orang-orang? Apa beneran brightening like its claim? Dan yang paling penting buat saya, sesuai tujuan semula, apakah akan menjadi the next empties atau saya bakal balik lagi pakai SK II?



(Bersambung ke Part 2)



* Saya excited banget nyobain toner baru ini. Jadi tulisan ini akan diupdate sampai beberapa kali pemakaian. Semoga gak lupa 😁


Monday, May 25, 2020

More Review & Swatch: Miranda Permanent Hair Color MC-16 (Eksperimen Lanjutan)

Semenjak memposting tulisan ini, saya jadi tahu ternyata Miranda Ash Blonde MC-16 banyak peminatnya karena pada kepingin punya rambut warna ash blonde dan abu-abu (kaya uban hihihi). Saya akhirnya ikutan penasaran, gimana sih hasilnya kalau pakai cat ini plek ketiplek sesuai petunjuk manualnya. Beneran jadi ash blonde, atau jadi abu-abu kaya yang di gambar kotaknya, atau warna lainnya?

Untuk eksperimen kali ini, saya menggunakan sampel rambut, bukan langsung ke rambut yang nempel di kepala. Tapi masih rambut sendiri sih. Beberapa waktu yang lalu saya mulai bosan dengan warna rambut saya karena bagian pangkalnya udah mulai panjang, harus retouch. Tapi males, karena warna rambut saya didapat dari proses highlight pakai foil, retouchnya ga bisa sembarangan, butuh ada yang bantuin. Kedapetan ide mau diapain tapi harus nunggu sampai jadi virgin dulu semua. Iseng-iseng rambut saya potongin, khusus sepanjang yang warnanya udah bule. Trus pikir saya, kayanya bisa nih buat bikin eksperimen warna. Dan setelah lebih dari setengah tahun dianggurin akhirnya baru dieksekusi sekarang haha....

Sampel rambut 'before' yang digunakan pernah dibleaching satu kali. Pakai Joico Creme Lightener dan krim developer 20vol merk Alfaparf, bisa mencapai level 7-8 dari kondisi virgin. Eksperimen ini memakai dua bundel sampel rambut. Sebelum diwarnai, salah satunya akan dibleaching lagi sampai level 9-10, sementara yang satunya dibiarkan apa adanya. Tujuannya adalah mau lihat gimana hasilnya terhadap level rambut yang berbeda. Harapannya dengan ini jadi bisa menjawab satu pertanyaan umum yang sering muncul: kalau mau berhasil pakai Miranda Ash Blonde memangnya harus bleaching dulu ya?

Rambut before, level 7-8

Bahan bleaching

Sudah bleaching, siap diwarnai

Proses pewarnaan
Miranda Ash Blonde

Hasilnya:
Pewarnaan pertama
Pada rambut level 9-10, hasilnya pirang dan gak ada ashy-ashynya sama sekali. Bahkan menurut saya jadi bener-bener murni level 10, kuning pucat dan jernih. Yang jelas perlu dicatat, hasil warna ini meleset jauh dari yang ditampilin di boksnya. Ash blonde bukan, abu-abu juga bukan. Fail πŸ‘ŽTapi yang menarik, pada rambut yang level 7-8 warnanya jadi jauh lebih terang semacam level 8-9, kaya habis bleaching. Wah kadar amonia dan level krim developernya pasti cukup tinggi nih.


Miranda Ash Blonde
Foto after, di bawah pencahayaan yang berbeda-beda
Gak terlihat ashy sama sekali kan..

Pewarnaan ke dua
Jujur hasil pewarnaan pertama di atas bikin ngganjel di pikiran. Dulu saya berhasil menghasilkan warna keabu-abuan pakai Miranda Ash Blonde, yang ini kok fail. Apakah mungkin karena faktor krim developernya? Waktu itu saya memang pakai krim developer merk lain sih. Untuk menuruti rasa penasaran ini, saya mengulang langkah pewarnaan seperti di atas terhadap kedua sampel rambut yang sama. Timpa aja pokoknya. Bedanya kali ini saya mengurangi takaran krim developer menjadi setengahnya dan menambahkan conditioner bawaan Miranda dengan jumlah yang sama. Jika digabung dengan krim pewarnanya, maka komposisi total campuran antara krim pewarna dengan krim developer dan conditioner kurang lebih adalah 2:1:1. Tujuan penambahan conditioner ini adalah untuk menurunkan kekuatan developer menjadi setengahnya.


Miranda Ash Blonde
Foto after
Final result, dengan pencahayaan yang berbeda-beda

Voila, it’s ashy, gaess. Very subtle pada rambut level 9-10,  but it has obviously grey tinge. Sementara pada rambut level 7-8 yang sudah  berubah jadi seperti level 8-9 hasilnya menggelap, dari blonde jadi light brown. Jujur saya agak bingung juga dengan efek yang terjadi pada sampel rambut yang satunya ini. Kenapa malah yang muncul warna coklat yaa?

Tapi kalau melihat hasil pewarnaan ke dua ini, dugaan awal saya sepertinya tepat. Krim developer bawaan Miranda cukup kuat sementara pigmen warna di krim catnya tidak bisa mengimbangi. Mengingat saya pernah memperoleh warna abu yang lebih gelap lagi dengan krim developer 10 vol pada eksperimen terdahulu, besar kemungkinan krim developer bawaan Miranda ini lebih tinggi dari 20 vol.

Kesimpulan
Miranda MC-16 Ash Blonde sifatnya mirip highlift, bisa menaikkan warna rambut sampai beberapa level. Jika ingin mendapat hasil ash blonde, sebaiknya krim developernya diturunkan agar pigmen warnanya gak kalah. Salah satunya bisa dengan cara memasukkan conditioner dengan ratio 1:1. Krim developer campuran ini nanti total takarannya harus disesuaikan dengan kebutuhan krim pewarnanya. Cara lainnya, pakai krim developer merk lain yang ada label keterangan % atau volumenya sehingga hasilnya lebih bisa diprediksi. FYI dengan krim developer 10 vol, warna abu-abunya bisa lebih keluar. Yang perlu dicatat, Miranda Ash Blonde ini hasilnya cenderung agak kehijauan. Kalau mengharapkan warna abu-abu murni, saya lebih merekomendasikan memakai campuran antara Miranda MC-2 (biru) dan MC-13 (ungu). But beware, kedua warna tersebut sangat pigmented (seperti contoh di sini).

Satu catatan lagi, untuk mendapatkan hasil warna abu-abu, harus bleaching sampai level 9-10, warna kuning terang. Di bawah itu, warnanya sepertinya jadi kecokelatan. Saya gak tahu kenapa bisa begitu, karena ini kejadian juga di tulisan terdahulu. Tapi kalau mau diambil sisi positifnya, Miranda MC-16 Ash Blonde boleh nih dicoba sebagai alternatif pilihan buat yang mencari hasil warna rambut light brown.


Sudah siap mencoba? πŸ˜‰


Wednesday, March 11, 2020

Review: Revlon Nail Enamel Shade 128 Slate, 041 Granite, & 161 Teak Rose



Kuteks favorit saya sebetulnya adalah Nail Vita dari Skinfood. Kualitasnya oke dan harganya cukup affordable. Pengaplikasiannya yang smooth, effortless, mistake-proof dengan hasil yang langsung opaque in only one thin coat membuat seorang amatir sekalipun bisa menghasilkan karya rapi bak seorang pro. Saya masih menyimpan satu warna as my-go-to nail polish, dibeli dari Korea via Ebay sekitar 5 tahun lalu dan kondisinya masih bagus hingga tulisan ini diposting.

Tapi namanya cewek ya, suka penasaran juga sama brand lain. Suatu ketika dapet kesempatan nyobain kuteks Revlon varian Colorstay Longwear Nail Enamel shade Indigo Night, ternyata enak banget. Teksturnya mudah diblend dan sangat pigmented. Warnanya langsung jadi pada polesan pertama. Kuasnya juga nyaman sehingga hasil polesnya jadi rapi. Sayangnya line ini varian warnanya terlalu bold buat selera saya, berasa kaya tante-tante (padahal emang udah tante-tante *dilempar*), plus udah discontinued *sigh*. Tapi karena masih penasaran sama brand Revlon saya memutuskan untuk mencoba line nail enamelnya yang reguler.

Ini fotonya a bit too warm dibanding aslinya.



Ini kayanya warna sejuta umat. Nyari-nyari review di internet, umumnya swatch yang ada ya seputar shade ini aja. Untuk shade Teak Rose, warnanya pink manis tapi gak gonjreng. Muted pink mungkin cocok untuk menggambarkannya dalam kata-kata. Sementara shade Granite dan Slate basic warnanya coklat, semacam dark nude. Slate cenderung yellowish mirip warna permen karamel. Granite warnanya pinkish brown, atau brownish pink yaa? Bingung juga. Lumayan susah mengcapture warna riil dari Granite ini.  Sekilas mirip susu mocca kalau di tempat gelap. Tapi di bawah pencahayaan yang banyak, tone pinknya keluar banget. Warnanya jadi semacam dark mauve. Saya sebetulnya paling suka Teak Rose karena warnanya syantiiik. Tapi yang terlihat flattering buat kulit saya malah Slate. Warnanya cukup kalem dan natural, bisa jadi andalan kalau pas butuh tampil gak mencolok semacam undangan acara di sekolah anak.

Revlon Nail Enamel teksturnya agak creamy dan saya biasanya lemah pakai kuteks jenis ini. Meski cukup pigmented, susah diratain karena kuasnya pun kurang luwes, susah megar. Pakainya harus hati-hati sekali. Apalagi saya tipe yang tangannya gampang goyang, rawan mbleber sana sini. Awal-awal nyobain, saya gak suka karena hasilnya kurang rapi. Akibat warna yang susah rata, harus dipoles sampai tiga layer. Jadi tebal, jelek dan pinggirannya kurang rapi.

Sempat nyerah, kuteks dianggurin 1-2 minggu dan saya pun menyusun tulisan negative review tentang Revlon Nail Enamel hahaha. Tapi suatu hari entah kenapa penasaran kepingin nyoba lagi. Ehh saya malah nemu trik aplikasi yang lumayan fail proof. Jadi caranya, ambil produk agak banyak dalam satu kali celup, kumpulkan secara merata di pangkal kuku, lalu tarik pelan-pelan dalam tiga sapuan ringan (jangan ditekan) membentuk garis lurus ke arah ujung kuku dengan urutan: tepi, tepi, tengah. Agak tricky juga ngira-ngira ambilnya, kebanyakan dikit bisa jadi mbleber, sementara kalau kurang warnanya jadi gak rata. Tapi kalau berhasil, sekali poles aja langsung jadi. Dan untuk ukuran kuteks creamy, keringnya si Revlon ini di kuku relatif sangat cepat. Sekali kering, dia langsung padat dan glossy, tanpa top coat sekalipun. Dipakai buat tidur, ketindih kegores-gores sprei dan sarung bantal gak ngecap. Hasilnya, saya pun sukses bikin full swatch ketiga shade tersebut seperti di bawah ini.

Swatch Revlon Enamel Teak Rose

Swatch Revlon Nail Enamel Slate

Swatch Revlon Nail Enamel Granite

Sayangnya, ada satu hal yang kurang oke dari pengalaman pakai Revlon Nail Enamel. It has bubble issue, suka muncul gelembung kecil-kecil yang mana munculnya tak terduga. Jadi setelah selesai  poles-poles dan udah rata, nanti tiba-tiba muncul titik-titik gelembung udara. Gelembung-gelembung ini munculnya tak terduga, kadang langsung muncul, kadang muncul tapi samar sekali, kadang mulus-mulus aja. Tapi yang paling parah adalah sewaktu saya pakai shade Granite untuk keperluan swatch di blog ini, gelembungnya muncul belakangan dan banyak pula. Kebetulan saya kelupaan pakai base coat saking semangatnya, bisa jadi itulah penyebabnya karena sewaktu pakai base coat gak separah ini. Foto swatch di atas dan di bawah diambil dalam kurun waktu yang berbeda. Foto di atas adalah sesaat setelah kering, sementara yang di bawah adalah sekitar dua jam setelahnya. Foto di atas kukunya keliatan mulus ya, tapi yang di bawah jadi bruntusan kaya muka jerawatan.   


Keliatan gak 'jerawatnya'?

Saya coba googling sana sini, rupanya salah satu penyebab munculnya gelembung itu karena pengocokan botol kuteks yang berlebih sebelum pemakaian. Akibatnya udara akan terperangkap di dalam cairan kuteks, membentuk gelembung, dan perlahan-lahan naik ke permukaan, meski sudah dipoles di kuku sekalipun. Hmmm iya sih, saya memang kebiasaan ngeblend cairan kuteks dengan cara mengocok penuh semangat. Tapi tapi tapi... pakai kuteks lain kok enggak πŸ˜• Yah bisa jadi karena cuma kuteks Revlon ini yang saya polesnya tebal-tebal, sementara kuteks lain cenderung poles tipis-tipis aja. Habis gimana lagi, saya gak bisa menghasilkan warna kuku yang rapi dengan cara lain.

Final verdict
Pros:
- harga cukup affordable
- pilihan warna sangat banyak
- relatif cepat kering dan padat (gak gampang kegores)

Cons:
- pengaplikasian agak tricky
- suka muncul gelembung udara yang tak terduga

Will I repurchase?
Not quite sure. Mungkin yang berikutnya nyoba peruntungan dengan kuteks Revlon yang varian Colorstay Longwear Gel Envy aja.


Monday, October 8, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 2] - Tips Bleaching Sehat

Jangan lupa cek Part 1 juga ya. Ada rumus buat dapetin warna abu-abu lho πŸ˜ŠπŸ‘‡
<<< Part 1 - Mengapa Harus Bleaching? 

Kata kunci untuk bisa melakukan bleaching sehat adalah satu: SABAR. Orang sabar disayang Tuhan, ya kan.... Kesabaran sangat diperlukan baik dalam menjalani proses bleaching maupun membekali diri dengan ilmu tentang bleaching. Bagaimanapun rambut kan mahkota kita, perlu berhati-hati dalam memperlakukannya. Tentu lebih baik mencegah daripada tampil di depan umum dengan rambut rusak.

Level Rambut
Ini bekal awal yang berguna ketika kita mulai bermain-main dengan warna rambut. Jika sudah memahami ilmu level rambut, kita bisa mengaplikasikan bleaching maupun krim pewarna dengan penuh kepastian akan tujuan hidup hahaha... #apasih Yah maksudnya sih supaya bisa tahu kita sedang memulai dari mana dan akan berakhir seperti apa. Semacam: oke sekarang rambut saya level 2, saya mau warna di kotak yang merupakan level 8, jadi saya perlu bleaching sampai 6 level.

Level Rambut 1 s.d 10
1 Black
2 Very Dark Brown
3 Dark Brown
4 Medium Brown
5 Light Brown
6 Dark Blonde
7 Medium Blonde
8 Light Blonde
9 Very light Blonde
10 Lightest Blonde

Pic source

Nah level itu sebetulnya apa sih?
Level adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkatan gelap terang warna rambut. Level 1 melambangkan rambut warna hitam sementara level 10 adalah warna rambut pirang paling terang. Semakin tinggi level rambut, semakin mudah diwarnai karena pigmen di dalamnya semakin terang. Maka dari itu, agar rambut bisa berwarna-warni, diperlukan proses bleaching hingga mencapai level 10. Level 1 yang mana adalah hitam gelap biasanya dihasilkan dari pewarna buatan. Sedangkan rambut hitam natural umumnya dikategorikan level 2 atau 3 yakni cokelat gelap. Dengan demikian, masih diperlukan perjalanan panjang untuk menuju level 10 bagi rambut orang Asia. Inilah alasan banyak orang kemudian mengambil jalan pintas dengan cara menggunakan developer tingkat tertinggi yang ada di pasaran agar rambutnya cepat terang. Memang betul bisa berhasil pakai cara begitu, cuma..... Mending kita belajar sedikit dulu deh mengenai developer.

Bleaching Dengan Developer 40vol
Apa sih developer itu? Buat yang pernah nyoba ngecat rambut sendiri pasti cukup familiar dengan cairan satu ini. Semua krim pewarna pasti mensyaratkan untuk dicampur dengan developer. Banyak krim pewarna maupun bleaching yang dijual sudah sepaket dengan developernya supaya praktis tinggal pakai. Cairan developer mengandung senyawa hidrogen peroksida yang diperlukan untuk mengaktivasi zat-zat kimia yang terkandung di dalam krim pewarna maupun bleaching. Pada krim pewarna permanen misalnya, zat kimia di dalamnya berfungsi untuk membuka kutikula, menghilangkan sebagian pigmen warna hingga naik 1-2 level, dan memasukkan pigmen warna bawaannya. Tanpa bantuan developer, zat kimia tersebut tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian pula halnya dengan produk bleaching. Developer diperlukan agar bleaching bisa masuk ke dalam batang rambut dan mengoksidasi pigmen supaya menjadi tak berwarna.

Semakin tinggi developer yang digunakan pada larutan bleaching, maka akan semakin kuat dan cepat level rambut dinaikkan. Itu anggapan yang sudah umum dan memang betul adanya. Tapi yang seringkali luput dari perhatian adalah semakin tinggi kandungan hidrogen peroksida di dalam developer, yang mana diinfokan dalam bentuk persentase maupun vol, maka semakin besar pula tingkat kerusakannya. Dan jeleknya, seringkali kutikula udah habis-habisan dibuka, tapi pigmen pheomelanin (merah, kuning) yang rada bandel ternyata masih ketinggalan. Pernah lihat orang yang rambutnya kuning keoranyean seperti warna karat besi dengan tampilan kusam dan terkadang tampak kaku seperti sapu? Yes, itu adalah salah satu contoh hasil dari penggunaan developer yang terlalu kuat tapi pengangkatan pigmennya tidak tuntas.

Common sense:
10vol mengangkat 1-2 level
20vol mengangkat 2-3 level
30vol mengangkat 3-4 level
40vol mengangkat 4-5 level
dst

Anggapan di atas, meski berlaku secara umum, tidak bersifat universal karena kondisi tiap rambut berbeda-beda. Perlu dipertimbangkan juga kondisi kesehatan dan kekuatan rambut. Selain itu, kualitas dan daya angkat produk bleaching yang dipakai juga akan menentukan hasil yang diperoleh.

Pic source

Pic source


Underlying Pigment
Underlying pigmen adalah pigmen yang tersimpan di dalam tiap batang rambut yang menjadi penentu warna alami rambut kita. Semakin gelap warna rambut, susunan pigmen semakin kompleks. Pembagian pigmen erat kaitannya dengan kategori level rambut yang sudah dijelaskan di atas. Warna-warna yang dikandung oleh pigmen-pigmen tersebut akan bermunculan ketika rambut mengalami proses pengangkatan warna. Saya pernah sedikit menyinggung tentang ini di tulisan Part 1 terdahulu. Sebagai pedoman, kita dapat menggunakan chart pada gambar berikut:

Pic source

Pada level 10 hasil bleaching, rambut sudah seperti kanvas bersih yang siap diwarnai apapun. Tapi jangan salah, level 10 itu tidak berwarna putih tapi kuning pucat yang mirip warna pisang bagian dalam alias daging buahnya (bukan kulitnya lho). Warna kuning pucat tersebut berasal dari ikatan komponen protein yang tersisa di dalam rambut. Jadi, setelah level 10 jangan bleaching lagi sampai putih karena ketika semua pigmen sudah dikeluarkan maka rambut akan berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan sudah dipastikan rusak parah. Gak mau kan ya...

Pengetahuan tentang keberadaan pigmen ini akan sangat membantu ketika kita ingin mengganti warna rambut. Tidak semua warna membutuhkan bleaching maksimal. Warna cokelat terang (light brown), misalnya, membutuhkan unsur warna merah. Oleh karena itu, warna rambut gelap cukup diangkat maksimal sampai dengan tahapan oranye saja di mana masih ada pigmen kemerahan di dalam rambut kita. Bahkan jika menginginkan warna cokelat yang tidak terlalu mencolok, bisa saja tidak dibutuhkan bleaching karena ada cat permanen jenis highlift yang memiliki kemampuan mengangkat warna rambut sampai 2-3 level kemudian mewarnainya.

Sedikit Tips Dan Trik Bleaching Sehat
1. Pakailah developer dengan kandungan peroksida rendah.
Ingat, rahasia bleaching sehat adalah sabar. Memakai developer 40vol memang cepat tapi itu namanya tidak sabaran. Lalu pakai yang berapa dong? Pakai yang 10vol atau 20vol maksimal. What?? Lama dong. Hehe kan emang harus bersabar. Jika terpaksa, bisa menggunakan 30vol untuk waktu yang cukup singkat tapi sebaiknya menghindari 40vol. Proses bleaching, untuk mudahnya, bisa diibaratkan menggoreng ayam tepung. Dengan besar api yang sesuai, ayam bisa matang sempurna. Kalau kegedean apinya, luarnya udah gosong tapi dalemnya belum mateng. Prinsip ini penting untuk diingat.

2. Gunakan foil
Gak harus foil sih. Kalau bleachingnya sekepala bisa pakai topi mandi atau kantong kresek untuk versi ekonomisnya.  Foil sendiri berguna untuk mengisolasi panas yang dihasilkan adonan bleaching sekaligus mencegah krim bleaching mengering akibat dibiarkan terbuka di udara. Ketika sudah kering, bleaching akan berhenti bekerja. Waktu efektif zat bleaching umumnya adalah 1 jam maksimal mentok, boleh kurang, jadi optimalkan waktu yang ada. Bisa dipercepat dengan dibantu dipanasi hair dryer tapi tadi rencananya kita kan mau bersabar, ya kan ya kan...

3. Lakukan secara bertahap
Rambut Asia memang butuh perjalanan panjang untuk mencapai level 10 sehingga mutlak dibutuhkan kesabaran. Jika dalam satu kali sesi bleaching masih belum mencapai level yang diinginkan, beri jeda dan ulangi di lain hari. Idealnya jarak antara sesi bleaching satu dengan berikutnya adalah minimal satu minggu. Dengan demikian rambut memiliki cukup kesempatan untuk memulihkan diri sejenak dari stres kimiawi. Jangan lupa lakukan perawatan ekstra di sela-sela sesi bleaching.

Tahapan bleaching dipengaruhi pigmen rambut
Pic Source

4. Cek daya angkat produk bleaching yang sudah dibeli.
Sebelum membuka bungkus bleaching, sebaiknya dicari dulu keterangan berapa level maksimal yang bisa dicapai. Sebagai contoh, kemasan bubuk bleaching Makarizo mencantumkan daya angkat hingga 3 level. Jika menggunakan produk ini, dari rambut asli level 2, pencapaian yang memungkinkan dari bleaching sesi pertama adalah level 5. Jika benar, maka bleaching ke dua mungkin bisa mencapai level 8. Jadi kemungkinan baru pada bleaching ke tiga lah tercapai level 10. Satu hal yang perlu diperhatikan, saya menggunakan kata 'mungkin' di atas karena keterangan daya angkat tersebut bukan angka pasti. Kondisi tiap rambut berbeda-beda. Ada yang mudah, ada yang susah. Apalagi kalau rambutnya sudah pernah diwarnai dengan warna gelap. Untuk itu, perlu dilakukan cek perkembangan reaksi bleaching setelah 15 menit berlalu dan berikutnya setiap 5 menit.

5. Menggunakan produk bleaching yang bagus a.k.a branded (opsional).
Tips ini opsional karena harus merogoh kocek agak dalam. Penjelasan sederhananya, produk bleaching profesional yang bagus, selain memiliki daya angkat lebih besar (menaikkan sekitar 7-9 level), juga dilengkapi dengan komponen kimiawi yang meminimalkan proses kerusakan (conditioning agent) dan mengurangi kemungkin munculnya warna yang tidak diinginkan a.k.a brassy. Produk yang semacam ini biasanya jarang dijual bebas di luar salon profesional dan kalaupun ada, mahal beud. Diperlukan kebulatan tekad sekuat baja dalam menginginkan bleaching sehat untuk mau berinvestasi pada produk yang terbaik, di samping kantong yang tebal tentunya.
*Update: Saya berkesempatan mencicipi bleaching merk Joico varian Creme Bleaching. Dalam satu kali proses (rambut virgin) bisa mencapai level 7-8-9 hanya dengan developer 20vol. Sayang harganya lumayan mencekik haha....

6. Menggunakan suplemen bonding agent (opsional juga).
Apa lagi ini? Produk hasil teknologi mutakhir untuk ditambahkan ke dalam adonan bleaching atau pewarna yang berfungsi untuk memperkuat ikatan struktur tiap helaian rambut sehingga dapat meminimalkan terjadinya kerusakan meski menggunakan developer 40vol sekalipun. Silakan search Olaplex, Smartbond, atau Redken pH Bonder. Silakan search juga harganya xixixixi..... Ono rego, ono rupo. Ada kualitas, ada harga. Sayangnya produk-produk tersebut tidak mudah diperoleh di sini. Ada juga stylist lokal yang jualan produk sakti yang diklaim sebagai racikannya sendiri dan katanya bisa menyehatkan rambut setelah bleaching. Kalau yang ini saya kurang tahu karena belum pernah nyobain.

7. Last but not least: Perawatan Ekstra
Bleaching adalah proses yang non reversible alias tidak bisa dibalik. Lapisan kutikula yang terbuka dan ikatan kimia dalam rambut yang terputus tidak akan bisa kembali pulih seperti semula. Rambut sudah rusak tanpa bisa dihindari. Dibutuhkan bantuan berbagai macam suplemen perawatan rambut untuk membantu merapikan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh proses bleaching . Ingat ya, hanya merapikan, tidak bisa mengembalikan seperti aslinya. Kondisi rapi ini sewaktu-waktu bisa berantakan lagi, tergantung bagaimana rambut diperlakukan. Maka dari itu, perawatan rambut bleaching perlu dilakukan secara berkala agar rambut selalu terlihat sehat.


Yakk sekian saja tulisan saya tentang bleaching sehat. Semoga informasi yang saya bagi ini bisa memberikan sedikit manfaat dan secercah cahaya pengetahuan bagi yang masih maju mundur cantik untuk bleaching. Jika dirasa masih kurang, perbanyak ngepoin chanel, artikel, maupun forum hairdresser profesional. Do your own research. Dan kadang kalau belum ngerasain sendiri tuh rasanya belum mantep.
It's Ok. Just go for it!! πŸ’ͺ



Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

Friday, October 5, 2018

Review Masker Perawatan Rambut Rusak: Joico K-Pak Intense Hydrator

Saya pernah bercerita sedikit di sebuah tulisan beberapa waktu yang lalu tentang upaya mencari produk perawatan yang bisa mengembalikan kondisi rambut saya setelah disiksa sedemikian rupa oleh beberapa kali pewarnaan permanen, 2x highlift dan 2x bleaching. Jujur, setelah pengalaman hari itu, ternyata saya udah gak minat nyobain lagi. Kelamaan, buang-buang waktu. Jadi saya putuskan untuk mempertahankan sebagian dan sisanya cepet-cepet disingkirkan, entah dijual, entah dihabiskan. Salah satu yang saya pertahankan adalah Joico K-Pak Intense Hydrator.

 

Joico adalah merk produk perawatan rambut dari USA. Sementara K-Pak line adalah varian produk Joico yang dikhususkan sebagai perawatan protein bagi rambut kering atau rusak entah karena bleaching, pewarnaan, catok, perming,..... you name it. Varian K-Pak diklaim mengandung komponen protein yang dapat diserap dengan mudah oleh batang rambut. Meski banyak dapat acungan jempol di luar sana, produk ini sepertinya kurang lazim di Indonesia sehingga tidak mudah diperoleh. Beruntung saya menemukan suplier produk salon yang menjualnya di marketplace lokal. Cuman ya harganya sih gak main-main. Setube isi 250ml sekitar 250ribu. Tapi ini irit banget.

Seperti terlihat pada gambar, tubenya besar. Tutupnya berupa fliptop. Isinya berwarna putih dengan tekstur semacam conditioner. Wanginya lembut, enak.

Ingredients: Water/Aqua/Eau, Cetearyl Alcohol, Glycerin, Behentrimonium Chloride, Cetyl Esters, Lanolin, Pentapeptide-29 Cysteinamide, Pentapeptide-30 Cysteinamide, Tetrapeptide-28 Argininamide, Tetrapeptide-29 Argininamide, Hydrolyzed Keratin, Cocodimonium Hydroxypropyl Hydrolyzed Keratin, Hydrolyzed Keratin PG-Propyl Methylsilanediol, Hydrogenated Olive Oil, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Olea Europaea (Olive) Oil Unsaponifiables, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Aleurites Moluccana Seed Oil, Hydrolyzed Wheat Protein, Psidium Guajava Fruit Extract, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Oenothera Biennis (Evening Primrose) Oil, Tocopheryl Acetate, Hyaluronic Acid, Glycolipids, Amodimethicone, Isopropyl Alcohol, Panthenyl Hydroxypropyl Steardimonium Chloride, Ceteareth-20, Citric Acid, Tetrasodium EDTA, Trideceth-12, Cetrimonium Chloride, Benzophenone-4, Hydrolyzed Wheat Starch, Thioctic Acid, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Allantoin, Sodium Ascorbyl Phosphate, Sodium Hydroxide, DMDM Hydantoin, Methylparaben, Hexyl Cinnamal, Limonene, Benzyl Salicylate, Fragrance/Parfum.


Ini buat apa?
Ini digunakan pada rambut lembab (towel dried, bukan basah kotos-kotos) sehabis keramas seperti menggunakan conditioner atau masker rambut biasa. Aplikasikan secukupnya pada batang rambut, bukan kulit kepala, ratakan dengan cara disisir pakai jari. Ambil produknya gak perlu banyak-banyak karena memang sedikit aja sudah cukup. Tunggu sekitar 3-5 menit lalu bilas. Saya biasanya gak sesabar itu jadi baru satu menit sudah dibilas hehe... Tapi hasilnya tetap nendang kok.

Selain menjadi conditioner biasa, Intense Hydrator ini ternyata juga bisa jadi leave-in conditioner. Jadi kalau saya lagi buru-buru, saya aplikasikan ke rambut tanpa dibilas. Rambut jadi berasa halus banget, mudah diatur, dan ajaibnya gak lepek, balik ke tekstur normalnya. Tapi jangan terlalu sering menggunakan cara ini. Mungkin yah cukup satu kali dalam seminggu. Pengalaman saya, jarak pemakaian sebagai leave-in yang terlalu dekat membuat rambut jadi agak frizzy.

Final verdict?
Juara lah. Saya gak ada rencana ganti produk lain, di samping karena tubenya yang gede bener, setahun juga mungkin gak abis.

Sunday, September 30, 2018

DIY Bleaching Rambut Sampai Putih [Part 1] - Ingin Ash Blonde Mengapa Perlu Bleaching?

Pic source

Apa sih permasalahan yang sering ditemui ketika kita mewarnai rambut sendiri?
- warna yang gak sesuai harapan,  
- beda dari swatch di kotak kemasan, 
- dan yang terutama adalah rambut rusak. 

Lalu kemudian jadi muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar bisa memperoleh warna rambut seperti gambar pada kotak atau di internet? Dapatkah mewarnai rambut tanpa merusaknya? Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut?

Mengecat Rambut = Menyemir Rambut?

Pic source
Hal awal yang perlu dipahami mengenai mengecat rambut adalah bahwa istilah mengecat ini bukan berarti benar-benar mengecat semacam menemplokkan cat pada rambut lalu voila warnanya berubah persis seperti gambar. Prinsip cat semacam itu hanya berlaku pada semir rambut uban di mana warna putih ditutup pakai warna hitam atau coklat tua. Tapi buat para generasi muda yang rambutnya masih hitam, sehat, dan asli, dijamin gak akan bisa. Ibarat mewarnai kertas hitam pakai spidol kuning, hasilnya apa? Ya hitam.

Mari kita gunakan lagi logika spidol kuning dan kertas hitam di atas. Agar supaya warna spidol kuning bisa terlihat jelas, kita membutuhkan kertas yang lebih cerah dari warna hitam. Semakin terang kertasnya, semakin jelas warna kuningnya, apalagi kalau kertasnya berwarna putih. Analogi ini akan memudahkan kita memahami kenapa rambut hitam perlu dibleaching agar bisa diubah menjadi berwarna-warni.

Bleaching a.k.a Memutihkan Rambut
Secara teknis, mengganti warna rambut sebetulnya adalah proses kimia yang mengutak-atik pigmen di dalam rambut. Tujuan utama bleaching adalah menghilangkan pigmen rambut yang tidak diperlukan ketika kita menginginkan agar muncul warna tertentu. Supaya mudah dibayangkan, helaian rambut kita ini bisa diumpamakan selang lentur transparan yang berisi pigmen berbagai macam warna. Dalam hal ini, yang kita lihat sebagai selang adalah lapisan yang disebut kutikula. Zat kimia pada adonan bleaching akan berusaha membuka kutikula agar dapat masuk lalu menghilangkan warna demi warna yang dikandung pigmen di dalamnya. Proses bleaching ini hanya bersifat satu arah a.k.a irreversible, tidak bisa dibalik. Kutikula yang sudah dibuka tidak akan menutup lagi dan pigmen yang sudah dihilangkan tidak akan bisa kembali lagi. Saya kira sampai pada titik ini kita sudah bisa menjawab satu pertanyaan besar yang sering ditanyakan banyak orang:

Mungkin gak sih bisa bleaching tanpa merusak rambut? 
MUSTAHIL
setidaknya untuk teknologi saat ini. 
Maka dari itu dibutuhkan bantuan berbagai macam perawatan yang antara lain tujuannya adalah menutup kembali kutikula dan mengisi gap protein yang hilang sehingga rambut dapat terlihat sehat. 

Mau Rambut Abu-Abu Tanpa Bleaching?
Bisa banget. Syaratnya, tunggu sampai usia kita mencapai umur 60 tahun ke atas qiqiqiqi.... Tapi kalau masih di bawah 30 tahun dan tidak ada genetik ubanan di usia muda, jangan harap bisa melawan alam tanpa rekayasa. Yes, mengubah warna rambut adalah bagian dari rekayasa alam. Setuju? Dan alam ini diciptakan sangat resisten untuk mengantisipasi campur tangan manusia, demikian pula halnya dengan rambut. Jangan harap bisa gonta-ganti warna rambut dari biru pastel menjadi  abu-abu muda lalu diubah lagi ke rose gold dll tanpa kerja keras mengubah struktur kimiawi rambut. 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, mengganti warna rambut berarti melakukan modifikasi pigmen rambut. Pigmen di dalam rambut terdiri atas dua macam yakni eumelanin yang membuat rambut terlihat gelap, cokelat atau hitam, dan pheomelanin yang membuat rambut terlihat oranye, kemerahan, dan pirang keemasan. Dalam proses bleaching, eumelanin mudah teroksidasi menjadi tak berwarna, sementara pheomelanin relatif cukup bandel. Itulah sebabnya banyak rambut hasil bleaching jadi berwarna kemerahan, keoranyean, atau kekuningan.

Pigmen rambut mempengaruhi hasil bleaching
Pic source

Jika semua warna pigmen di atas sudah berhasil dihilangkan, berarti kita sudah sampai pada tahapan akhir bleaching. Rambut akan berwarna kuning pucat (pale yellow) karena tinggal struktur protein yang tersisa di dalamnya. Pada tahap ini, jangan coba-coba bleaching lagi kecuali kepingin banget botak.

Warna hasil akhir = warna pigmen rambut + pigmen bawaan artifisial

Rumus di atas adalah konsep dasar pewarnaan rambut. Jika berpegang pada prinsip tersebut, selanjutnya mestinya udah gak perlu bingung lagi.

Contoh:
Jika menginginkan rambut berwarna abu-abu seperti gambar di samping, maka seluruh pigmen yang sifatnya kemerahan harus dihilangkan. Untuk ini, gak ada pilihan selain bleaching sampai semua pigmen habis dan hanya tertinggal warna kuning pucat agar pewarna abu-abu dapat dengan mudah mendominasi warna rambut. Tanpa bantuan bleaching pada rambut hitam, pewarna rambut hanya bisa membantu menghilangkan warna pigmen yang mudah hilang saja yakni eumelanin, sementara pheomelanin akan masih bertahan. Hasilnya, rambut justru jadi coklat kemerahan karena pigmen abu-abu pada krim pewarna kalah kuat. Begitu logika sederhananya.


Masih mau bleaching meski tahu rambut sudah pasti akan rusak? 
Iya dong, masih kepingin rambut yang warna-warni nih, mumpung masih muda. Masa iya gak ada cara supaya rambut tetap sehat meski diwarnain? 
Ada sih, agak tricky karena perlu menyelam lebih dalam ke dunia perambutan hehe. Untuk itu, saya akan coba tuliskan lebih lanjut mengenai bleaching sehat di Part II
Sampai jumpa πŸ˜‰




Disclaimer:
Saya bukan penata rambut profesional, just a DIY hair enthusiast dadakan yang jadi rajin learning by stalking akibat 3x ngecat rambut di salon dan mendapati ternyata gak semua kapster yang bisa ngecat rambut itu paham sama produk pewarna rambut *ugh*

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...