Showing posts with label intermezzo. Show all posts
Showing posts with label intermezzo. Show all posts

Friday, April 30, 2021

Swatch & Review: Innisfree Real Color Nail Polish No.47 & 48 (Update no.14 & 46)

 



Review ini ditulis sebagai akibat keracunan iklan Lzd yang mondar-mandir di medsos gak brenti-brenti πŸ˜… Beneran kita pengguna Android smartphone ini sebetulnya nyaris gak punya privasi sama sekali. Gegara ngintipin lapak resminya Innisfree di Lzd melulu dan sempet masukin cat kuku Real Color ke keranjang belanja, tiap hari dihantui benda yang sama di iklan medsos. Belum lagi notif dari app Lzd itu sendiri yang nongol terus tiap hari, ngingetin kalau barang di keranjang belanjaan belum dibayar πŸ™„

Aslinya saya udah bikin deklarasi pensiun beli cat kuku (at least mau ngabisin yang lama dulu) dan sempat berhasil bertahan setahun lebih tanpa nambah koleksi baru. Tapi dasar saya lemah iman, akhirnya tergoda juga. Maka inilah dia, Innisfree Real Color no. 47 dan 48, dibeli murni secara impulsif tanpa ngecek review sama sekali. Entah kenapa saya punya feeling bagus dengan cat ini, mungkin karena pernah punya produk HG dari brand Innisfree. Semoga aja feelingnya bener.





No. 47 warna olive green dan no.48 warna dark rose



Kesan pertama, warna yang datang persis sesuai yang dibayangkan. Botolnya simpel, gak ada kesan chic, girly, playful, dan yang lucu-lucu lainnya. Just be real, like its name, Real Color. Oke yang terakhir ini cuma bikin-bikinan saya aja sih, biar cocok haha.. 

Pass beberapa hari setelah paket datang, ee saya dapat tamu haid. Nah inilah waktunya mewarnai kuku. Langsung aja test drive si cat baru. Tanpa menaruh ekspektasi apa-apa, suprisingly saya langsung suka: full opacity dalam satu kali polesan, mudah diratakan, gak streaky, kuas luwes dan fleksibel, hasilnya rapi dan menyenangkan hati. Konsistensi sedikit lebih creamy dari preferensi saya tapi gak mempengaruhi kemudahan dalam memoles. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini aromanya gak menyengat, bahkan sebetulnya nyaris gak ada baunya, kecuali didekatkan ke hidung. Ini saya sadari sewaktu asyik poles-poles kuku, kok gak tercium bau apa-apa ya. Padahal semua cat kuku yang pernah saya coba biasanya baru dibuka tutup botolnya aja langsung kerasa aroma khas yang menusuk hidung. 

It dries fast! Alias cepat keringnya di kuku, terutama mengingat konsistensinya yang agak creamy. Saya bisa menyelesaikan dua layer polesan hanya dalam waktu setengah jam dan jari-jari ini bisa langsung diajak beraktifitas normal sekitar 15 menit setelah kelar layer terakhir. Waktu itu saya harus segera pergi ngantar bocah sehingga mesti ganti baju, ambil tas, kunci kendaraan, dll sehingga beberapa kali kukunya tergesek-gesek. Saya udah mikir, aduh hancur deh hasil kerja keras. Ternyata enggak. Catnya benar-benar sudah fix kokoh menempel di kuku. Hasil pewarnaannya sesuai dengan klaim yakni glossy finish. Kilauannya awet tahan lama. Meski sudah dibawa tidur, tergesek-gesek sprei dan bantal, glossynya gak berkurang dan gak ada cap bekas garis-garis. Beberapa kali pengalaman dengan cat kuku lain, sepertinya sudah kering sedari tadi tapi setelah dipakai tidur ada ngecap samar garis-garis dan yang tadinya glossy berubah jadi agak dove.

Cat kuku Innisfree ini mudah dirapikan. Sebagai non profesional, tangan saya kan suka goyah kalau lagi ngecat kuku, seringkali hasil warnanya jadi suka kelewat dari batas kuku sehingga harus siap sedia cotton bud dan aceton. Tapi dengan Innisfree Real Color, tinggal nunggu kering lalu cat yang belepotan cukup dikeletek pakai kuku dengan sedikit usaha, langsung bersih. 

Sepertinya feeling saya tepat beli ini ♥️ 



Swatch No.48

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna ini dipilih karena terlihat mirip seperti perpaduan dua warna favorit saya dari kuteks Revlon Nail Enamel, yakni Teak Rose dan Granite, yang sayangnya performanya mengecewakan (review di sini). Dan ternyata beneran saya suka. Warnanya warm dark rose setelah dua kali poles. Di kondisi minim pencahayaan, warnanya terlihat agak brownish.


Swatch No.47

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna dark olive green seperti ini ternyata cocok di saya, bikin kulit terlihat cerah dan bersih. Ini berbeda dengan Revlon Colorstay Indigo Blue yang dulu saya pernah punya. Warnanya aslinya bagus, tapi pas diaplikasikan ke kuku, jadi keliatan norak. Not flattering at all. Mungkin undertone kulit saya warm olive sementara biru adalah warna yang cenderung cool.


Update!!

Jadi, gara-gara positive experience sama dua cat kuku Innisfree di atas, saya jadi beli lagi dong. Lupa sudah dengan niatan puasa beli kuteks, ngahahahahaa πŸ˜…


Swatch No.46

Warna golden olive. Sukakk banget. Ketika dipakai jatuhnya jadi seperti warna nude, sangat kalem dan ngeblend dengan tone warna kulit. Oke, fix berarti undertone kulit saya memang olive nih. Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan ditimpuk Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai top coat for additional shine.



Swatch No.14

Ini warna kuningnya semacam kuning mustard. Dia bukan neon, juga bukan pastel. Masuk banget buat yang punya undertone olive. Gak bikin efek glow in the dark juga, di mana warna kukunya cerah bersinar tapi kulit tangan terlihat menggelapπŸ˜ƒ Khusus untuk warna ini, saya baru bisa memperoleh hasil yang full opacity setelah memoles tiga layer. Tapi konon cat kuku untuk warna-warna terang semacam kuning dan putih biasanya memang cenderung sheer dan streaky sih. Foto di atas adalah hasil tiga kali poles dengan Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai base coat dan top coat. 


Final Verdict

In love!! ❤️❤️

Sepertinya saya menemukan cinta baru, setelah susah move on dari The Skinfood Nail Vita yang kualitasnya di akhir-akhir mulai mengecewakan dan sepertinya makin susah dicari.  Konsistensinya pas, kuasnya juga enak dipakai, pengaplikasian relatif mudah, dan drying speednya memuaskan. Meski saya bilang keringnya cepat, tapi gak lantas jadi gampang seret sewaktu dioles ke kuku, sehingga gak perlu buru-buru juga waktu meratakannya. Take your time. Selain itu, saya senang karena Innisfree menyediakan pilihan warna-warna yang earthy tone seperti di atas, yang meski cukup bold dan colorful tapi ketika dipakai kesannya tetep kalem. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini saya beli di harga Rp 49.000 per botol dengan volume 6ml. Dari segi harga memang kurang bisa dibilang murah meriah. Ada banyak merk cat kuku terkenal lain yang harganya di bawah itu, tapi jarang yang menyediakan warna yang bikin saya tertarik. Rata-rata warnanya nude dan kalem-kalem. Lhaa periode saya pakai cat kuku kan cuma bisa sebulan sekali, mosok pake warna nude. Ga seru lah πŸ˜ƒ



Wednesday, March 11, 2020

Review: Revlon Nail Enamel Shade 128 Slate, 041 Granite, & 161 Teak Rose



Kuteks favorit saya sebetulnya adalah Nail Vita dari Skinfood. Kualitasnya oke dan harganya cukup affordable. Pengaplikasiannya yang smooth, effortless, mistake-proof dengan hasil yang langsung opaque in only one thin coat membuat seorang amatir sekalipun bisa menghasilkan karya rapi bak seorang pro. Saya masih menyimpan satu warna as my-go-to nail polish, dibeli dari Korea via Ebay sekitar 5 tahun lalu dan kondisinya masih bagus hingga tulisan ini diposting.

Tapi namanya cewek ya, suka penasaran juga sama brand lain. Suatu ketika dapet kesempatan nyobain kuteks Revlon varian Colorstay Longwear Nail Enamel shade Indigo Night, ternyata enak banget. Teksturnya mudah diblend dan sangat pigmented. Warnanya langsung jadi pada polesan pertama. Kuasnya juga nyaman sehingga hasil polesnya jadi rapi. Sayangnya line ini varian warnanya terlalu bold buat selera saya, berasa kaya tante-tante (padahal emang udah tante-tante *dilempar*), plus udah discontinued *sigh*. Tapi karena masih penasaran sama brand Revlon saya memutuskan untuk mencoba line nail enamelnya yang reguler.

Ini fotonya a bit too warm dibanding aslinya.



Ini kayanya warna sejuta umat. Nyari-nyari review di internet, umumnya swatch yang ada ya seputar shade ini aja. Untuk shade Teak Rose, warnanya pink manis tapi gak gonjreng. Muted pink mungkin cocok untuk menggambarkannya dalam kata-kata. Sementara shade Granite dan Slate basic warnanya coklat, semacam dark nude. Slate cenderung yellowish mirip warna permen karamel. Granite warnanya pinkish brown, atau brownish pink yaa? Bingung juga. Lumayan susah mengcapture warna riil dari Granite ini.  Sekilas mirip susu mocca kalau di tempat gelap. Tapi di bawah pencahayaan yang banyak, tone pinknya keluar banget. Warnanya jadi semacam dark mauve. Saya sebetulnya paling suka Teak Rose karena warnanya syantiiik. Tapi yang terlihat flattering buat kulit saya malah Slate. Warnanya cukup kalem dan natural, bisa jadi andalan kalau pas butuh tampil gak mencolok semacam undangan acara di sekolah anak.

Revlon Nail Enamel teksturnya agak creamy dan saya biasanya lemah pakai kuteks jenis ini. Meski cukup pigmented, susah diratain karena kuasnya pun kurang luwes, susah megar. Pakainya harus hati-hati sekali. Apalagi saya tipe yang tangannya gampang goyang, rawan mbleber sana sini. Awal-awal nyobain, saya gak suka karena hasilnya kurang rapi. Akibat warna yang susah rata, harus dipoles sampai tiga layer. Jadi tebal, jelek dan pinggirannya kurang rapi.

Sempat nyerah, kuteks dianggurin 1-2 minggu dan saya pun menyusun tulisan negative review tentang Revlon Nail Enamel hahaha. Tapi suatu hari entah kenapa penasaran kepingin nyoba lagi. Ehh saya malah nemu trik aplikasi yang lumayan fail proof. Jadi caranya, ambil produk agak banyak dalam satu kali celup, kumpulkan secara merata di pangkal kuku, lalu tarik pelan-pelan dalam tiga sapuan ringan (jangan ditekan) membentuk garis lurus ke arah ujung kuku dengan urutan: tepi, tepi, tengah. Agak tricky juga ngira-ngira ambilnya, kebanyakan dikit bisa jadi mbleber, sementara kalau kurang warnanya jadi gak rata. Tapi kalau berhasil, sekali poles aja langsung jadi. Dan untuk ukuran kuteks creamy, keringnya si Revlon ini di kuku relatif sangat cepat. Sekali kering, dia langsung padat dan glossy, tanpa top coat sekalipun. Dipakai buat tidur, ketindih kegores-gores sprei dan sarung bantal gak ngecap. Hasilnya, saya pun sukses bikin full swatch ketiga shade tersebut seperti di bawah ini.

Swatch Revlon Enamel Teak Rose

Swatch Revlon Nail Enamel Slate

Swatch Revlon Nail Enamel Granite

Sayangnya, ada satu hal yang kurang oke dari pengalaman pakai Revlon Nail Enamel. It has bubble issue, suka muncul gelembung kecil-kecil yang mana munculnya tak terduga. Jadi setelah selesai  poles-poles dan udah rata, nanti tiba-tiba muncul titik-titik gelembung udara. Gelembung-gelembung ini munculnya tak terduga, kadang langsung muncul, kadang muncul tapi samar sekali, kadang mulus-mulus aja. Tapi yang paling parah adalah sewaktu saya pakai shade Granite untuk keperluan swatch di blog ini, gelembungnya muncul belakangan dan banyak pula. Kebetulan saya kelupaan pakai base coat saking semangatnya, bisa jadi itulah penyebabnya karena sewaktu pakai base coat gak separah ini. Foto swatch di atas dan di bawah diambil dalam kurun waktu yang berbeda. Foto di atas adalah sesaat setelah kering, sementara yang di bawah adalah sekitar dua jam setelahnya. Foto di atas kukunya keliatan mulus ya, tapi yang di bawah jadi bruntusan kaya muka jerawatan.   


Keliatan gak 'jerawatnya'?

Saya coba googling sana sini, rupanya salah satu penyebab munculnya gelembung itu karena pengocokan botol kuteks yang berlebih sebelum pemakaian. Akibatnya udara akan terperangkap di dalam cairan kuteks, membentuk gelembung, dan perlahan-lahan naik ke permukaan, meski sudah dipoles di kuku sekalipun. Hmmm iya sih, saya memang kebiasaan ngeblend cairan kuteks dengan cara mengocok penuh semangat. Tapi tapi tapi... pakai kuteks lain kok enggak πŸ˜• Yah bisa jadi karena cuma kuteks Revlon ini yang saya polesnya tebal-tebal, sementara kuteks lain cenderung poles tipis-tipis aja. Habis gimana lagi, saya gak bisa menghasilkan warna kuku yang rapi dengan cara lain.

Final verdict
Pros:
- harga cukup affordable
- pilihan warna sangat banyak
- relatif cepat kering dan padat (gak gampang kegores)

Cons:
- pengaplikasian agak tricky
- suka muncul gelembung udara yang tak terduga

Will I repurchase?
Not quite sure. Mungkin yang berikutnya nyoba peruntungan dengan kuteks Revlon yang varian Colorstay Longwear Gel Envy aja.


Friday, February 8, 2019

Ayo Perempuan, Berdayakan Dirimu

Something came to my mind sehingga kali ini saya mendadak ingin menulis sesuatu yang rada serius. Pagi tadi, saya membaca tulisan yang bertutur cukup lengkap tentang kasus pelecehan seksual antar mahasiswa KKN di Balairung Press. Lumayan telat sih jika mengingat kehebohan kasus ini sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Tapi membaca kronologi kasus tersebut membuat saya bertanya-tanya: sejauh mana sebetulnya seorang perempuan bisa memberdayakan dirinya untuk mendeteksi datangnya bahaya?

Saya jadi ingat, sewaktu KKN dulu sebetulnya sempat mengalami pelecehan seksual juga. Untungnya hanya berupa verbal. Tapi waktu itu saya segera merespon guyonan melecehkan yang dikeluarkan oleh rekan satu sub unit tersebut dengan cara menyampaikan secara tegas bahwa apa yang dia katakan sangat kurang ajar dan membuat saya tersinggung. Dan sejak hari itu, saya tidak pernah sedikit pun bersikap ramah dan tersenyum pada teman tersebut. I might have forgiven him (saat saya bersikap tegas, dia memang langsung meminta maaf) but I considered what he had done as unforgiven. It just gave me a hint what kind of human he was. Mengingat ini saya jadi muncul keraguan, apa iya Agni benar-benar berdamai dengan HS sang pelaku dengan hati legowo. Luka yang ditimbulkan pelecehan seksual itu bukan jenis luka yang mudah sembuh lho. Buktinya, sudah tak terhitung banyaknya pria dewasa homoseksual-pedofilia yang diawali dari trauma pelecehan seksual di masa kecil.

Setelah membaca tentang awal mula kasus KKN di atas, saya sedikit banyak menganggap ada peran keteledoran Agni dalam menjaga dirinya sendiri. Malam-malam sendirian pergi ke tempat di mana hanya ada pemuda. Apakah dia tidak pernah mendengar berita-berita tentang kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan yang marak menyerang perempuan yang sedang sendirian? Apa yang dia lakukan malam itu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan berjalan ke kandang macan tanpa persiapan.

Saya masih ingat sewaktu jaman KKN dulu, terpaksa mengerjakan tugas laporan sendirian sampai larut malam karena cuma ada satu komputer di sub unit dan saya selalu kalah cepat dengan teman lain. Setelah merasa cukup, saya berniat balik ke kamar putri karena sudah mengantuk. Dari ruang komputer menuju kamar putri, saya harus melewati ruang tengah yang saat itu diisi beberapa pemuda desa. Kebetulan sejak rumah tersebut dihuni anak-anak KKN, beberapa pemuda desa suka datang untuk main dan menginap. Waktu itu sebagian besar sudah terlelap. Ruangan gelap. Hanya tersisa satu dua orang yang asyik nonton TV. Apa coba yang ditonton? Acara bioskop tengah malam (atau bioskop layar tancep ya, lupa) yang suka memutar film-film 17+ jadul yang bintangnya semacam Eva Arnaz, Him Damsyik, dan yang sejenisnya. Saya langsung gilo. Ih nontonnya gituan, pikir saya. Langsung deh kebayang kasus-kasus pemerkosaan yang pelakunya habis nonton bokep. Ya emang sih saya kebetulan lagi pakai jilbab rumahan gede dari bahan babat yang gak menarik gitu. Tapi kalau ada setan lewat, siapa yang tahu. Jadi saya langsung jalan aja, gak pakai noleh apalagi sapa-menyapa meski sebetulnya kenal dengan si penonton. Masuk kamar, kunci pintu, ceklek.

Saya pikir, selain dibekali dengan kemampuan membela diri, para perempuan juga perlu disadarkan untuk memahami situasi yang membahayakan dirinya. Salah satunya adalah dengan menerima fakta bahwa pikiran mesum itu tidak jauh berbeda dengan otak kriminal. Pikiran tersebut berada di alam bawah sadar dan akan muncul jika ada pemicunya. Maka kemudian pelajarilah dan kenalilah apa-apa saja yang bisa memunculkan pikiran mesum. Ibarat orang mengunci stang motornya supaya gak diambil maling. Preventif dan antisipatif.

Kalau melihat keterangan Agni memakai kerudung, saya yakin agamanya pasti Islam. Sementara itu di dalam Islam, masalah pergaulan antara perempuan dan laki-laki diatur sangat ketat. Salah satunya ya untuk mencegah pelecehan seksual itu tadi. Melihat kisah kasus Agni, ada aturan-aturan syariat yang dia abaikan dengan:
1. Keluar rumah pergi sendirian malam-malam tanpa ditemani teman perempuan tetapi malah mencari teman laki-laki.
2. Tidur sekamar berdua dengan laki-laki asing padahal sudah jelas dikatakan dalam hadis bahwa keadaan semacam itu akan disusupi setan sebagai teman ke tiga.

See?
Saya bukannya hendak menghakimi Agni. Saya termasuk yang setuju jika HS si pelaku dihukum seberat-beratnya dan kecewa dengan cara penanganan oleh pihak kampus beserta hasil akhir kasus ini. Tapi dari sisi Agni sendiri, ada beberapa hikmah pelajaran yang perlu diambil. Dia gak prepare, dia gak mempersiapkan perlindungan diri, dan dia gak aware sama sekali dengan situasi yang potensial berbahaya. Responnya yang lambat menunjukkan ketidakyakinan pada dirinya sendiri bahwa dia sesungguhnya dalam bahaya dan punya hak untuk marah seketika itu juga. Bagi saya, tidur sekamar dengan laki-laki lain itu adalah opsi yang mengerikan, dalam posisi berjarak sekalipun. Jika berada dalam posisi semacam, saya bakal pilih tidur bergelung di luar kamar, pinjem selimut. Bahkan bisa jadi malah bakal terjaga semalaman. Tapi yah saya juga gak begitu tahu kondisi pemondokan mereka di sana. Di jaman saya, satu rumah umumnya diisi satu kelompok (sub unit), minimal yang bergender sama. Tapi di kasus ini kok agak janggal, pemondokannya sepertinya terpencar-pencar.

Yah dengan tulisan ini, saya sebetulnya hanya ingin mengatakan kepada para sesama perempuan supaya mengasah nalurinya untuk bisa mengendus potensi bahaya pelecehan seksual. Jangan biarkan pertahananmu terbuka. Jaga jarak aman. Stay alert. Selalu waspada. Jangan lengah. Jangan tunjukkan dirimu lemah dan mudah diperdaya. Pasanglah sikap berwibawa.

Tambahan buat yang muslim, jangan pernah lupa setan ada di mana-mana dan akan selalu siap menggoda siapa saja yang lengah. Tipu dayanya sangat halus. Kamu mungkin sangat beriman sehingga kebal, tapi teman laki-laki di dekatmu? Siapa yang tahu.

Monday, October 31, 2016

Resep: Simple Homemade Milky Puding a.k.a Puding Sedot Buatan Sendiri Nan Gampang

Postingan resep perdana!!!
Wahahaha gak pernah kebayang sebelumnya, bakalan posting resep di sini. Ini blog random bener yak isinya *ketawa gila sambil pukul-pukul meja*

Jadi awalnya, saya terkesan banget waktu dioleh-olehin milky puding Milky Way oleh adik saya dari Jakarta. Saking ketagihannya, saya sampe mikir kulakan buat dijualin di sini biar ada alasan beli terus :D. Tapi apa daya, tempat ambilnya lumayan jauh dari tempat tinggal adik saya, jadi gak mau deh kalo sampe ngrepotin. Belum lagi mikir gimana kirimnya, secara adik saya gak pernah jadwalin pulkam secara berkala. Karena ada tetek bengek ini itu, kebayang deh cost tambahan yang harus diperhitungkan. Bakalan bikin harga jualnya gak masuk akal. Akhirnya, kandas sudah cita-cita makanin puding berkedok jualan.

Pic puding Milky Way hasil comot di internet
Suatu hari, saya lihat yang mirip di Amplaz. Ada stand yang jualan puding di botol. Cuman tampilannya gak semenarik preseden puding yang sudah melekat dalam memori saya. Meski begitu, saya tetep coba beli. Siapa tau sama enaknya, lumayan gak usah jauh-jauh ke Jakarta demi makan puding, mana harganya lebih murah lagi. Ehh taunya mengecewakan. Sensasi rasanya lebih mirip puding susu biasa yang diwadahin botol. So plain. Gak nendang blas. Ah gak asik ah.

Lalu saya pun memupuk mimpi, suatu hari mau bikin sendiri aja lah. Dalam hati, saya bercita-cita untuk hunting resep via mbah Google. Tapi apa nyana. Saya terlalu sibuk cari resep variasi lauknya si kecil. Tahun berlalu, mimpi pun tinggal mimpi, terkubur di bawah realita hidup *apa sihh* Sampai suatu ketika gak sengaja liat postingan di grup NCC. Pucuk dicinta, resep datang sendiri.

Ternyata, si milky puding ini punya nama populer lain, yakni puding sedot. *aduh gak enak banget nyebutnya, jadi inget temen KKN yang anaknya rada saru, kebayang tampang dia bilang sedooott* Well oke baiklah, mari kita bersihkan pikiran dan kembali ke jalan yang benar. Nah begitu liat bahan-bahan di resepnya yang cukup umum dan mudah dicari, langsung saya save di note dan mimpi pun mulai berubah menjadi rencana belanja bahan.

Yah namanya rencana, kumat lagi deh, cuma jadi rencana doang. Tapi beruntung, kali ini gak perlu kelamaan jadi rencana. Sesuatu yang bernama kepepet memaksa saya mengeksekusi rencana tersebut secara dadakan. Konsekuensi dari eksekusi dadakan itu adalah modifikasi resep habis-habisan dengan bahan seadanya.

Jadi gini masalahnya. Susu UHT plain ukuran besar di rumah sudah dibuka sekitar dua harian. Rencana buat variasi susunya si kecil. Ternyata dia lagi gak mood. Sayanya jadi males ngasih lagi *emak pemalas, jangan ditiru* Lalu terpikir oleh saya, gimana kalau susunya dimasak aja, biar lebih awet disimpen dalam kulkas. Nah mendadak muncul ide untuk eksperimen nyoba bikin milky puding. Kalau saya amati, komposisi bahan dari resep di atas sepertinya prinsip dasarnya adalah susu dengan tekstur yang dibuat menjadi jelly. Hmm oke, kayanya bisa deh nekat eksperimen dengan modal cemplang-cemplung dan takaran ilmu kira-kira. Kalaupun gagal, toh tetep jadi susu *worst scenario*

Saya awalnya gak pede pas liat hasilnya. Jangan-jangan rasanya gak karuan. Ya sudahlah, pikir saya, yang penting berhasil dapet tekstur yang diharapkan dan bisa bikin layer dengan sukses. Eh tapi pas buka satu botol tester, serumah bilang enakk. Kebetulan semuanya penggemar cokelat. Anak saya sampai rebutan sama eyangnya. Jadi pengen mengabadikan momen indah ini deh *cieehhh*

Bagian yang paling menyenangkan buat saya
sebetulnya adalah ngatur gaya botol buat foto-foto gini hehe...
Target saya berikutnya (baca: kapan-kapan kalo sempet lagi) adalah bikin dua versi. Yang pertama versi yang balita friendly dengan mengurangi takaran gula supaya gak terlalu manis. Repot nanti kalo dia ketagihan rasa manis. Sementara versi satunya adalah versi orang dewasa. Yang ini bisa bikin rada enakan seperti menambah saus buah, selai, remukan biskuit semacam Oreo atau potongan buah untuk variasi layernya. Kayanya yummy deh....

Nah berikut adalah resep modifikasi saya. Mohon maaf jika patokan takarannya gak baku, karena memang semuanya berbekal kira-kira. Tapi sebetulnya ini tidak butuh takaran yang strict seperti kue-kue baking kok.

Sendok sayur yang saya pakai berdiameter 56mm
dengan kedalaman cekungan ±17mm
Bahan dasar puding:
Susu UHT ± 800ml
NutriJell puding susu strawberry - 2 sendok sayur
Gula pasir - 3 centong susu Morinaga
Garam - 1 sendok kecil (sesuai selera)
Tepung Maizena ± 2 sdm (dilarutkan air matang)

Untuk puding coklatnya, saya membuat campuran pasta coklat dengan bahan sebagai berikut:
Coklat bubuk
Air panas secukupnya
Susu kental manis secukupnya

Cara membuat:
Pasta cokelat
1. Larutkan cokelat bubuk dengan air panas secukupnya hingga membentuk pasta
2. Masukkan susu kental manis sambil cek rasa hingga diperoleh rasa yang dikehendaki
3. Sisihkan

Puding
1. Campurkan semua bahan dasar puding, kecuali larutan  tepung Maizena
2. Tes rasa
3. Masak bahan dasar puding dengan api sedang
4. Sering diaduk pelan-pelan biar tidak menggumpal/menempel di panci
5. Sebelum mendidih, campurkan larutan tepung Maizena
6. Setelah mendidih, angkat dari kompor
7. Adonan puding disisihkan separuh untuk dicampur dengan pasta cokelat

Teknik memasukkan ke dalam botol:
1. Sediakan corong untuk memudahkan penuangan adonan puding
2. Tuangkan layer pertama yang dikehendaki
3. Tunggu sampai layer pertama mengeras, baru dituang layer berikutnya
4. Masukkan ke dalam kulkas

Tips & catatan tambahan:
1. Sebelum dituang, tunggu sampai uap air habis dari adonannya. Jangan kaya saya, buru-buru tuang (karena sambil nyuapin dan ada yang merengek-rengek ngajakin tidur).
2. Supaya layer pertama cepat mengeras, bisa dibantu dengan merendam botol di air dingin
3. Resep di atas menghasilkan 6 botol saji (sisa sedikit). Botol yang saya gunakan adalah jenis botol kaca untuk ASI perah, sama seperti botolnya Milky Way.

Selamat bereksperimen ^^

Tuesday, October 18, 2016

Krim Dokter Kecantikan Bikin Ketergantungan?

Begitulah pemahaman yang diyakini oleh banyak orang. Yang sudah membuktikan juga banyak. Begitu lepas dari krim dokter terus jadi kusam, jerawatan, dan berbagai kondisi memburuk lainnya. Bahkan sebuah forum online yang sangat populer di kalangan wanita pun punya thread yang khusus membahas tentang upaya melepaskan diri dari krim dokter. Kalau baca-baca di situ, dijamin bakal ngerasa horor deh untuk nyoba-nyoba ke klinik kecantikan. Ditambah horor juga kalo mau ikut nimbrung, secara rulesnya di sana ketat banget dan moderatornya galak, suka nyunat postingan sambil negur pake bahasa Inggris. Berasa gimana gitu di hati, meski cuman dunia maya. Kadang membernya pun gak kalah jutek. Mending jadi silent reader aja deh. Lhoo kok jadi malah curcol :p


Ada satu pernyataan yang sejak awal saya dengar, saya merasa agak aneh. Jadi ada beberapa opini yang meyakini bahwa krim dokter itu menahan jerawat supaya muka bisa mulus terus kaya jalan aspal hot mix. Nah jadi, setelah gak pake krim tersebut, jerawat dan racun pada keluar semua bak kuda lepas dari kandangnya. *tolong abaikan pemakaian peribahasa yang kurang pada tempatnya ini* Pertanyaan saya, lalu jerawat itu pada ngumpet di mana selama pakai krim dokter? Kalau memang jerawat ditahan-tahan di dalam, apa mukanya gak seharusnya jadi tebel banget karena nyimpen gundukan-gundukan yang gak boleh keluar? Nyatanya malah pada mulus kinclong. Atau mungkin racunnya malah pindah ke bagian tubuh lainnya?


Jadi, benarkah krim dokter menyebabkan ketergantungan?
Arti Kata Ketergantungan menurut KBBI:
Ketergantungan: ke.ter.gan.tung.an
Nomina (kata benda)
(1) hal (perbuatan) tergantung;
(2) Istilah psikologi perihal hubungan sosial seseorang yang tergantung kepada orang lain atau masyarakat;
(3) [Dik]keadaan seseorang yang belum dapat memikul tanggung jawabnya sendiri

Mari kita analogikan dengan pasta gigi. Kita setiap hari menggunakan pasta gigi untuk membersihkan gigi secara maksimal. Setelah menyikat gigi dengan pasta gigi, gigi kita terasa bersih, kesat, dan aroma mulut terasa segar. Bandingkan jika suatu ketika kita berhenti menggunakan pasta gigi, jadi menyikat gigi hanya dengan sikat gigi dan air. Kira-kira apa yang terjadi? Akankah kondisi kebersihan mulut dan gigi kita masih tetap sama segar dan harumnya seperti waktu masih memakai pasta gigi? Apakah artinya pasta gigi menyebabkan ketergantungan? Jawabannya bisa iya dan tidak. Selama kita merasa dunia tak lagi sama tanpa pasta gigi, bisa jadi kita sudah mengalami ketergantungan pada pasta gigi.

Balik lagi ke masalah krim dokter.
Orang-orang yang cocok memakai krim dokter biasanya wajahnya cerah mulus cling banget, sampai-sampai lalat aja bisa kepleset kalau mendarat di situ *haha lebay*. Alami gak sih ada kulit kok bisa seperti itu? Padahal sesehat-sehatnya kulit bayi dan balita sekalipun gak semua semulus itu. Memang lembab, halus, dan kencang. Tapi selain itu, terkadang ada very little imperfections. Coba deh sesekali amati muka bayi dari dekat. Yang mahmud, bisa mengamati bayinya sendiri. Yang belum punya bayi sendiri, mungkin bisa coba pinjem bayinya tetangga.

Saya sejak beberapa tahun yang lalu berjuang berusaha menyingkirkan dark circle plus wrinkles di bawah mata. Saya pikir itu akibat kebiasaan begadang selama jaman kuliah. Maka mulai dari menyaur utang tidur, banyak-banyak minum air putih, sampai dengan pakai krim mata ini itu, semua dicoba dan gak ada yang ngefek. Malahan setelah beberapa hari nyoba rajin pakai collagen mask yang ditempel di bawah mata itu, sebagian kecil area kulit yang ditempeli jadi muncul tonjolan aneh plus sebercak noda gelap. Sampai suatu ketika, setelah mengamati tumbuh kembang dua balita saya, baru saya sadar bahwa wrinkles bawah mata yang saya miliki ini bisa jadi merupakan genetis. Kok berkesimpulan begitu? Masalahnya si balita berdua ini sejak masih bayi usia bulanan udah punya wrinkles samar. Kalau sudah genetis begini, satu-satunya cara adalah dengan tindakan estetis medis, dan jujur saya ogah. Makasih. Mending kuterima saja takdir hidupku inihh..... *nyanyi*


Apa sebetulnya yang dilakukan krim dokter?
Memenuhi kebutuhan pasien akan kondisi kulit ideal yang diinginkan. Pasien mau wajahnya bebas jerawat, oke. Pasien mau wajahnya putih, oke. Pasien mau pori-porinya kencang dan rapat, oke. Kita beruntung hidup di jaman di mana puluhan ribu riset ilmiah telah dilakukan terhadap berbagai jenis zat kimia dan kegunaannya dalam kehidupan. You just name it.

Dari pengamatan sederhana yang saya lakukan dari hasil menyimak forum-forum kecantikan dan blogwalking, saya menarik kesimpulan bahwa umumnya orang Indonesia itu maunya wajah bersih, glowing, bebas jerawat, kencang, awet muda, cerah, dan putih *siapa yang gak mau seperti itu, saya juga mau hehe*. Padahal, sesuai dengan sifat alami tubuh kita, kulit juga menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Gak mungkin berada dalam kondisi ideal terus-menerus. Bayi juga lama-lama tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa. Kulitnya juga mengikuti, gak mungkin muda terus kaya waktu masih bayi. Nah di sinilah krim dokter mengambil perannya, yakni melakukan intervensi terhadap cara kerja kulit.


Jadi, apa saja isi krim racikan dokter?
Obat. Ya, obat. Secara teknis, isi krim racikan adalah sejumlah zat kimia aktif yang melawan sifat alamiah tubuh, dalam hal ini kulit, demi mencapai target tertentu. Jika zat-zat tersebut digunakan dengan cara yang tidak sesuai prosedur, bisa membahayakan. Bahkan sesuai prosedur sekalipun masih memiliki potensi menimbulkan efek samping. Mirip banget dengan karakter obat kan? Untuk memenuhi kebutuhan yang saya sebutkan di atas, krim dokter mengandung setidaknya beberapa zat aktif yang sifatnya antara lain sebagai berikut:
1. Keratolitik
Zat jenis ini berfungsi mengikis sel-sel kulit paling luar dalam rangka memperpendek siklus pergantian sel sehingga kulit yang tampil ke permukaan selalu baru. Lapisan kulit baru ini memang terlihat lebih cerah dan lebih licin. Gampangnya, kita bayangkan saja kulit baru yang terlihat jika kulit kita luka sampai terkelupas. Efek sampingnya, kulit yang muda cenderung lebih tipis, sensitif dan photosensitive atau rentan terhadap sinar matahari yang mana mengandung UV. Efek samping lainnya, pergantian sel kulit yang sangat cepat kadang pada awalnya belum sanggup diantisipasi oleh sel kulit di atasnya sehingga menimbulkan peradangan dan penyumbatan pori-pori. Inilah yang biasa dikenal dengan proses purging.
Kalau ada yang ngebet banget sama hasil yang luar biasa, dokternya sanggup aja kok nurutin. Saya pernah baca curhatan dokter spkk dari sebuah institusi klinik kecantikan besar di Indonesia. Dalam sebuah sesi konsultasi, pasiennya diwanti-wanti untuk melindungi wajahnya secara serius nanti kalau sudah mendapat treatment. Saking seriusnya, sampai diminta berkomitmen untuk gak masak-masak dulu di dapur dalam kurun waktu tertentu. Tapi pasiennya gak mau hehe.... Harga sebuah kecantikan bisa lebih mahal dari nominal uang ya. Apa gunanya kulit cantik tapi gak bisa ngapa-ngapain? Beauty doesn't worth the pain for some extent.
**Lebih jauh tentang keratolitik:
Di sini
Di sini
Di sini

2. Antibiotik
Pernah gak, kebayang bahwa sebetulnya ada makhluk yang numpang hidup di kulit wajah kita ini? Adalah bakteri bernama Propionibacterium acnes (P. acnes) yang keluyuran nginjek-injek muka kita seenaknya tanpa permisi. Yaa mungkin mereka sudah kulo nuwun, tapi kitanya gak paham *abaikan* *dibuang*
Normalnya, si bakteri ini gak merugikan apa-apa sih. Masalah baru akan muncul kalau pori-pori tersumbat. Si P. Acnes akan berkumpul, berpesta pora, berkembang biak, mengeluarkan enzim, dan menyebabkan inflamasi. Kondisi tersebut menyebabkan hal yang umum kita kenal sebagai jerawat. Di sinilah antibiotik mengambil peran. Zat antibioik ini akan membasmi makhluk-makhluk mikroskopis yang berpotensi memunculkan gangguan jerawat tadi. Kasian gak sih, makhluk-makhluk mungil tadi dimusnahkan demi keegoisan kita pingin punya wajah cantik? *enggak*
**Lebih jauh tentang antibiotik dan bakteri penyebab jerawat:
Di sini
Di sini
Di sini

3. Penghambat pembentukan pigmen
Kepingin putih padahal secara genetis gak putih? Kalau lihat emak bapaknya pada cokelat kekuningan, harusnya keinginan di atas adalah hal yang mustahil, kecuali ternyata dia anak tetangga. Tapi berkat riset para ilmuwan *thanks to science*, untuk menjadi putih tidak lagi diperlukan mukjizat sihir ibu peri baik hati.
Aktor utama yang muncul sebagai gelap-terangnya kulit kita adalah pigmen. Bekas jerawat yang menghitam maupun dark spots tanda-tanda penuaan juga merupakan pigmen, sehingga dikenal dengan istilah hiperpigmentasi. Nah kalau sudah ketemu biangnya gini jadi gampang kan. Hambat aja si penghasil pigmen supaya gak bisa bekerja. Dicegat kek, disekap kek, diborgol kek *abaikan*.
Zat-zat aktif yang dapat menghambat pembentukan pigmen ada bermacam-macam. Beberapa di antaranya sering kita dengar seperti kojic acid, arbutin, azelaic acid, ekstrak mullberry, vitamin C, dan hydroquinone. Yang saya sebut terakhir ini dikenal sangat ampuh dalam mengatasi pigmentasi. Cara kerjanya adalah menghambat kerja hormon, tokoh di belakang layar yang bertanggung jawab pada pembentukan pigmen.


Bukankah hydroquinone berbahaya? Iya, jika digunakan melebihi ambang batas keamanan yang ditentukan. Jika masih dalam kisaran 2-5%, dikategorikan cukup aman untuk pemakaian harian. Lebih dari itu, harus di bawah pengawasan super ketat dari ahlinya. Namun meski ada ambang batas aman sekalipun seperti yang disebutkan di atas, pemakaian hydroquinone harian sebaiknya dibatasi sampai tiga atau empat bulan. Kemudian libur dulu selama dua minggu, baru kemudian bisa diteruskan lagi.
Zat anti pigmentasi ini akan bekerja secara maksimal apabila dibarengi dengan pemakaian tabir surya yang memadai. Karena salah satu bentuk proteksi alami kulit kita terhadap bahaya sinar matahari adalah dengan terbentuknya pigmen. Jika kulit tidak merasa terlindungi dari sinar matahari, dia akan berusaha keras menghasilkan pigmen. Makanya, orang Indonesia umumnya menggelap kalau kebanyakan beraktivitas panas-panasan. Kita jarang mengalami sunburn karena kulit kita memang diciptakan sakti ngadepin sinar matahari. Cukup adil kan, kita adalah ras yang ditakdirkan menghuni daerah beriklim tropis yang banyak mataharinya. Jadi sebetulnya jangan parno amat sama kulit gelap. Justru bersyukur punya kulit bisa jadi gelap. Sesungguhnya masalah baru akan muncul kalau wajah mulus putih berseri sementara tangan dan kakinya gelap tapi pede narsis di medsos. Ati-ati fotonya dijadiin meme dan disebar di Whatsapp dari grup ke grup.
**Lebih jauh tentang hydroquinone:
Di sini
Di sini
Di sini

4. Anti inflamasi dan anti iritasi
Zat-zat di dalam krim racikan cenderung keras dan sangat target oriented. Dalam melakukan fungsinya, terkadang zat-zat tersebut menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan. Beberapa di antaranya adalah berupa iritasi dan peradangan pada kulit. Nah demi tidak mengurangi rasa nyaman, disertakan pula anti iritasi maupun anti inflamasi. Salah satu zat anti iritasi yang paling populer digunakan adalah steroid.
Jadi, apakah steroid itulah yang bikin jerawat pada gak muncul selama memakai krim-krim racikan? Jawabannya adalah belum tentu. Jika krim sudah berisi antibiotik, maka jerawat hampir bisa dipastikan gak akan muncul. Jadi anti iritasi ini lebih dibutuhkan untuk meminimalkan efek kerasnya zat-zat aktif lainnya pada kulit.
Steroid berbahaya gak? Kalau digunakan melebihi batas jelas berbahaya. Pemakaian steroid jangka panjang bisa menyebabkan penipisan kulit secara abnormal. Kulit memang menjadi cerah tapi itu karena efek penipisan oleh steroid. Akibat lainnya dapat menyebabkan kulit menjadi lebih sensitif. Bahkan bisa menyebabkan penyakit kulit macam dermatitis seperti testimoni seseorang yang diceritakan di sini.
Selain itu, rumornya, bisa menumbuhkan rambut-rambut halus di wajah. Secara pribadi, efek yang disebutkan terakhir ini yang bikin saya super duper ogah menyentuh steroid-steroidan. Sudah cukup saya menjadi wanita yang genetically punya rambut halus di sudut-sudut bibir yang mengganggu. Meski gak sampe levelnya Iis Dahlia, tetep aja berpotensi bikin sebel selama sekian detik tiap ngaca.
**Lebih jauh tentang corticosteroid:
Di sini
Di sini
Di sini
Di sini


Kesimpulannya?
Krim dokter diracik khusus untuk kebutuhan klien, salah satunya adalah untuk melakukan intervensi cara kerja kulit supaya memperoleh hasil yang diinginkan. Nah kalau berhenti pakai krim racikan tadi, kulit bakalan berusaha balik ke kondisi alaminya dong. Sebagaimana proses purging diterima banyak orang sebagai proses adaptasi terhadap skincare baru, kulit pun harus beradaptasi secara berangsur-angsur supaya bisa jadi dirinya sendiri lagi. Proses adaptasi itu tergantung pada sejauh mana intervensi yang telah dilakukan terhadap sang kulit. Bahkan jika krim racikan dokter yang diresepkan itu super duper sakti dan dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama, bisa muncul potensi terjadinya perubahan kondisi kulit secara permanen. Salah satu contohnya, ada kenalannya teman yang dulunya setia patuh banget sama klinik kecantikan langganannya. Dampaknya sungguh tak terduga. Kulitnya sekarang jadi sangat sensitif terhadap produk perawatan otc apapun. Perawatan wahid sekelas SK II sekalipun gak bisa diterima kulitnya, padahal budgetnya ada. Ngeri ya. Bener-bener terbukti money can't buy everything...

Jadi, pengen konsultasi ke klinik kecantikan tapi masih galau: "Apa betul krim racikan dokter X di klinik Z ini bikin ketergantungan?" Sekarang sudah ada bayangan jawabannya kan. Logika sudut pandang ketergantungan ini sebetulnya berlaku juga untuk produk skincare yang dijual bebas. Semua tergantung pada jenis dan kebutuhan kulit kita masing-masing :)

Beberapa website yang cukup informatif untuk berguru:
WebMD
Paula Begoun
NCBI >> scientific vs myth
NCBI >> skincare aman untuk bumil dan busui
Health/howstuffworks
Drugs.com

Web lokal yang cukup oke untuk cari review produk yang mudah ditemukan di pasaran sambil menimba ilmu:
Tidak Ganteng >> ini lucu nih, karena yang review cowok jadinya jujur, apa adanya, dan rada gila


*NOTES:
Saya bukan pakar atau ahli kecantikan. Yang saya sampaikan di atas saya adalah hasil racikan dari berbagai sumber informasi. Saya hanya berbagi hasil pencarian saya dalam rangka menemukan jodoh yang pas untuk kulit saya. Siapa tahu bisa menyumbangkan sedikit manfaat bagi yang memerlukan. Saya akan dengan senang hati menerima koreksi, masukan dan perbaikan.
Saya sarankan, kalau ada masalah kulit, mending ke dokter spesialis kulit, jangan yang kecantikan. Bersikaplah kritis ketika berkonsultasi dengan dokter, dengan cara yang santun tentu. Banyak tanya mengenai isi kandungan, target, kemungkinan efek samping, dan yang semacamnya. Minimal, browsing dikit-dikit lah sebelum datang ke klinik.
Adik saya pernah ke klinik kecantikan X, yang kalau disebut namanya hampir semua orang pasti kenal. Waktu itu dia masih desperate banget akibat mukanya jerawatan parah. Oleh dokter di sana direkomendasiin seperangkat skincare plus obat oral. Dasar cowok, main ambil aja semua, gak pakai mikir. Ternyata obatnya ngaruh ke lambung, perutnya gak enak, mual terus. Cuma semingguan dipake, trus dia stop.

Saturday, October 15, 2016

Wanita Penulis



Menulis adalah sebuah proses yang melibatkan pasukan beranggotakan inspirasi, tendangan mood, serta pemikiran dan perenungan yang mendalam. Menulis terkadang harus dibarengi dengan proses riset kecil-kecilan demi mendukung objektivitas sehingga hasil tulisannya memiliki bobot minimal setingkat di atas gosip, curhat, atau omelan emak-emak di tukang sayur.

Sayangnya, pasukan di atas datangnya seringkali tidak bisa diatur semau kita semacam "Saya mau nulis jam 10 pagi. Ohh inspirasi dan mood, datanglah..." *kedip-kedip sambil pake nada ala iklan obat datang bulan* Oleh karena itu, sekali muncul, mereka harus cepat-cepat ditangkap dan segera dituangkan sebelum lewat begitu saja. Dan inilah penyebab salah satu kelangkaan penulis wanita yang produktif, terutama wanita yang sudah terjun payung ke dalam kehidupan rumah tangga.

Bayangkan, seorang ibu terbangun di pagi hari dengan kepala penuh inspirasi tulisan, tapi kebutuhan hidup beberapa manusia di rumahnya seharian itu juga bergantung di tangannya. Mana yang harus dipilih? Jawabannya sudah pasti, family first.

Atau di lain kesempatan, seorang ibu mendapat mood yang luar biasa kuat setelah seluruh peghuni rumah terlelap sehingga suasana menjadi begitu hening nan syahdu *lebay*. Looks like it's the perfect time to start the engine and just write. Tapi eits tunggu dulu. Tiba-tiba sang suami datang mendekat melempar senyuman penuh arti diiringi tangan yang sibuk menjelajah ke mana-mana. Well, familiar with this situation? Yang udah punya buku nikah pasti udah paham yee.....

Damn, it's so hard to write. Apalagi kalau anak-anak sudah mulai main ping pong pake virus. Kepala pening, pikiran cemas, dan kurang tidur adalah cemilan hari-hari. Dalam keadaan seperti itu, inspirasi dan mood pun bakalan ogah datang.

Jika ada wanita yang aktif berumah tangga bisa memproduksi tulisan, bisa jadi ada sejarah perjuangan panjang di balik penulisannya. Boro-boro pakai pamer cemilan teh atau kopi seduhan pasangan (seperti yang biasa diposting bapak-bapak), bisa berhasil menyelesaikan aja sudah prestasi luar biasa. Saya ada teman  yang berhasil menghasilkan satu buku cerita bergambar untuk anak-anak. Waktu dipuji betapa hebatnya bisa produktif begitu, dia langsung ketawa ha-ha-ha sambil jawab, "Ini aja setengah mati ngerjainnya, mbaak." Lalu diikuti cerita tentang serentetan aktifitas hariannya yang gak jauh dari urusan rumah tangga. Yahh ujung-ujungnya tetep deh jadi curcol emak-emak yang kangen berproduksi selain dengan alat reproduksinya.

Jadi, kalau ada seorang penulis wanita yang cukup produktif, setidaknya ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia mungkin memiliki suami yang supportive dan penuh pengertian. Yang ke dua, mungkin malah tidak ada suami yang perlu diurus.

Kok suami dijadiin kambing hitam sih?
Karena anak, sesibuk apapun seorang ibu dibuatnya, sedikit-sedikit masih bisa diberi pengertian dari hati ke hati. Kalau suami? Kadangkala ada jenis yang rewelnya melebihi balita hahahaha.....



Oke, ini hanyalah sebuah igauan pribadi belaka. Don't take this seriously :)

Tuesday, November 25, 2014

Cerita Sedih & Horor

Semar, Gareng lan Bagong dolan neng Suroboyo tilik Petruk.
Wong 3 kuwi nginep neng Hotel JW Marriott, kamar neng ting kat 45.
Awan nganti bengi wong 3 dolan neng Mall, pas balik hotel, tekan Lobby listrike mati dadi kudu lewat tangga.

Ben ora kroso leh munggah wong 3 bagi tugas. Seko tingkat 1- 15, Semar kudu crito sing lucu2, njur seko tingkat 16-30, Gareng kudu crito sing medeni, njur seko tingkat 31- 45, Bagong kudu crito sing sedih-sedih.

Wong 3 mulai munggah, Semar mulai crito lucu2, wong 3 ngguyu2 ora kroso wis tekan tingkat 15. Banjur Gareng crito sing medeni marai tegang, ngerti2 wong 3 wis tekan tingkat 30.

Giliran Bagong kudu crito.
Bagong (ekspresi rupo sedih): "Iki ceritone sedih buanget... Aku sakjane seko mau aku arep crito, tapi wedi nek marai jengkel."
Semar : "Crito o wae cepet, rapopo wis meh tekan tingkat 40!"
Bagong : "Ngene... Lho... Kunci kamar e ketinggalan neng mobil.."
Gareng : "Bagooooooooong... Ngopo ra crito ket mau?"
Bagong : "Lha aq durung entuk giliran crito!!!"

Njut Bagong & Gareng mudhun maneh meh njipuk kunci kamar.
Semar gandheng wis tuwo ora melu.

Tekan ngisor parkiran Gareng ngomong,"Gong, aku ana crita horor kie..."
Bagong,"Horor piye Reng?"
Gareng,"Kunci mobile digowo Semar..."

Saturday, May 10, 2014

Jika Istrimu Seorang Ibu Rumah Tangga

Bukankah setiap istri adalah seorang ibu rumah tangga?

Ibu rumah tangga, ialah ia yang membersihkan tangga yang akan kamu lalui setiap harinya, menuntun kamu dan anak-anakmu untuk melewati setiap anak tangga, ialah ia yang hanya  tersenyum paling bahagia saat kamu dan anak-anakmu mencapai tangga paling puncak, ialah ia yang akan selalu siap menyambutmu ketika kamu jatuh terguling ke anak tangga paling bawah, ialah ia, Ibu Rumah Tangga.

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, kamu harus tahu bahwa bukan hal yang mudah baginya untuk melepas segala pencapaian yang telah dimilikinya.  Akan ada saat dimana orang-orang di sekitarnya menyayangkan keputusannya, Kedua orang tua yang merasa sia-sia telah memberikannya pendidikan yang tinggi, Orang-orang terdekat yang terlanjur memiliki ekspektasi tinggi untuknya.

Hai lelaki,
yang telah membuat seorang wanita ber ”masa depan” cerah melepas karir dunianya hanya untuk merawat dan melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu.
Maukah kamu menutup telinga dari segala perkataan tak menyenangkan orang-orang. Maukah kamu melapangkan dadamu untuk ia bersandar. Maukah kamu merendahkan bahumu untuk ia meletakkan kepala. Maukah kamu merentangkan kedua tangan untuk memeluk ia, yang lusuh dan lelah mengurus segala keperluanmu yang terlihat sepele??

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, menunggumu di rumah dengan rasa bosan yang sesekali muncul, rasa rindu pada dunia karir yang cemerlang, merasa terpanggil menyajikan bahan presentasi dan dikagumi orang-orang, maukah kamu menemaninya dengan perhatian yang cukup membuat ia tersenyum simpul setiap pagi. Menghargai setiap tindakannya dengan ucapan terima kasih yang tulus. Memberikan senyum termanis dan tawa yang membuatnya lupa bahwa ia selalu terkurung di rumah. Menemaninya melihat dunia yang tidak pernah sempat ia lakukan?

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, mungkin ia tak kan punya cukup waktu untuk melihat perkembangan dunia luar, tidak akan punya cukup waktu untuk menjadi modis seperti teman-temanmu diluar sana, tapi pernahkah kamu tahu?

Ibu rumah tangga, ialah ia yang menjatuhkan dirinya agar kamu terlihat lebih tinggi.

Ialah ia yang menekan egonya demi menghargai kamu sebagai kepalanya.

Ialah ia yang berpura-pura bodoh agar kamu tampak hebat.

Ialah ia yang mencemaskan kamu selagi kamu pulang telat karna bersenang-senang bersama kawan-kawan kerjamu.

Ialah ia yang akan selalu mendengarkan setiap keluh kesahmu.

Ialah ia yang rela menjadi pelampiasan emosimu agar emosimu tetap terkontrol pada orang lain.

Ialah ia yang rela membiarkan dirinya dipandang sebelah mata namun meradang saat kamu disepelekan.

Dear lelaki,
menjadi ibu rumah tangga tidak pernah mudah. Bukankah lebih mudah membayar gaji seorang baby sister dan seorang asisten rumah tangga untuk mengurusi segalanya?? Tapi bukankah lebih membahagiakan jika kita bisa berkasih sayang dengan cara yang menurut banyak orang tidak mudah? Cukup temani saja ia, ajarkan saja ia untuk menjadi tempatmu kembali, beri tahu ia bagaimana caranya membuatmu nyaman, bimbing ia untuk melengkapimu.

————————————————————————————————————————
*Just spreading and sharing.
Artikel aslinya ada DI SINI

Sunday, April 15, 2012

Senyum Sejenak: Motivasi Dari Dunia Lain

1. belajarlah dari kuntilanak, sesulit apapun hidup tapi selalu tertawa.
2. belajarlah dari tuyul, masih kecil tapi dah bisa cari duit sendiri.
3. belajarlah dari pocong, dari dulu pakaiannya itu-itu aja, hidup sederhana.
4. belajarlah dari babi ngepet, kalo malem cuma pake lilin, hemat listrik

Nyomot dari sini

[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...