Sunday, July 31, 2022

Quick Review: COSRX Propolis Synergy Toner

 

COSRX Propolis Synergy Toner trial size 50ml

Seperti yang pernah disinggung dalam tulisan saya tentang revolusi skincare beberapa tahun lalu, my HG toner adalah SK II Facial Treatment Clear Lotion. Wis gak ada lawannya. Efeknya di saya sebagus itu sampai diri ini rela merogoh kocek sedalam-dalamnya demi repurchase berkali-kali haha.... Tapi lama-lama mikir juga. Masa sih gak ada toner lain yang sama bagusnya tapi more affordable? Biar sisa duitnya bisa buat jajan seblak gitu loh. Toh kalau dilihat-lihat ingredients toner SK II ini sebetulnya pendek dan sederhana. Banyak toner merk lain yang harganya di bawahnya tapi secara di atas kertas isinya jauh lebih kaya dan sophisticated. Akhirnya sok atuh, kita cari toner baru....

COSRX Toners Trial Set 50ml
Harga resmi per botolnya 75rb di COSRX Shopee


COSRX Propolis Synergy Toner ini adalah toner ke empat yang saya cobain. Belinya di Sociolla, jadi satu paket di dalam bundling toners trial set. Jadi enak banget kan kalau mau nyoba-nyoba. Untuk volume yang full size-nya 150ml, sementara trial size ini 50ml. Lumayan banyak ya. 


❤️❤️❤️❤️❤️

Saya kasih bocoran di awal aja deh. I love it!! 

But.....


Daftar ingredients lengkap.


Konsistensinya cair seperti air

COSRX sendiri punya line produk yang fully dedicated untuk varian propolis. Tema warnanya kuning keemasan, semacam mengingatkan kita pada warna tawon haha 🐝 atau madu? Seperti yang tertera pada kemasannya, toner propolis COSRX ini diklaim mengandung 72,6% ekstrak propolis. Tinggi juga ya. This toner isn't just water, is it?

Secara konsistensi, toner propolis ini tidak jauh beda dengan toner pada umumnya, yakni cair seperti air. Warna tonernya di dalam botol terlihat kuning jernih mirip air madu. Setelah dituang di tangan kelihatan bening biasa. Ada samar-samar aroma manis yang menyerupai madu tapi langsung hilang begitu menempel di kulit. Efek yang dirasakan di kulit adalah lembab dan gak lengket, menyerap dengan cepat. Kalian bisa aplikasikan langsung pakai tangan atau diusap menggunakan kapas. Sementara karena saya berniat menjadikan ini sebagai 1st step toner setelah tahap mencuci muka, saya pilih pakai kapas.

Lalu apa yang bikin saya jatuh cinta?
It gives instant glow and bright. Yep, persis seperti efek toner SK II saya. Even the glow is better. Lebih kelihatan sehat, cerah, dan segar. Seneng banget akhirnya bisa menemukan toner pengganti yang lebih affordable dengan hasil mantul. Hidrasinya dapet, bersihnya dapet, cerahnya dapet. What's not to love?? ❤️

Tapi kebahagiaan itu hilang dengan cepat. Sekitar dua hari kemudian muncul berderet jerawat merah di pipi. Huhuu...... In my case, jerawat tipe ini adalah pertanda ada yang gak cocok. Trus mendadak inget, kulit saya kan emang kurang bersahabat sama propolis. Dulu pernah pakai Benton Aloe Propolis yang di-hype banyak orang, reaksinya juga sama.

Ah sedih lah 😟
Udah seneng-seneng padahal. Dan saya ga mau nekat nyoba lagi karena jerawat meradang di pipi adalah musuh besar. Lama sembuhnya, meninggalkan bekas item-item, dan ga bisa hilang.




Picture source: COSRX.com

Kalau kalian gak ada masalah dengan propolis, bisa coba ini. Untuk mendukung tulisan ini, saya menemukan dua jurnal di NCBI dan Sciencedirect yang membahas tentang manfaat propolis. Ternyata khasiatnya memang banyakkk dan sangat bervariasi, bergantung sumber makanan si lebahnya. Propolis itu sendiri adalah hasil perpaduan saliva (air liur) dan beeswax lebah madu yang digunakan sebagai perekat pada konstruksi sarangnya sekaligus berfungsi untuk melindungi kesehatan lebah-lebah penghuninya serta menjaga keawetan madu yang disimpan di dalamnya. Beberapa manfaat propolis terhadap kulit manusia antara lain adalah sebagai anti inflamasi, anti microbial, anti acne, anti fungal, penjaga kelembaban, UV filter, dan penyembuh luka. Wow, it's that good for the skin. Sementara di sisi lain, propolis ternyata juga bisa menimbulkan reaksi alergi. Jadi saya sarankan memang sebaiknya patch test dulu ya. Jangan main templok aja kaya saya haha....


Nah gimana? Ada yang berminat nyobain? πŸ˜‰

Thursday, July 7, 2022

Quick Review: Sensatia Botanicals Surf Naked Sunscreen Lotion

 

Sensatia Botanicals Surf Naked Sunscreen Lotion adalah sunblock atau physical sunscreen untuk badan, mind you. Di web resmi Sensatia Botanicals, letaknya ada di kategori Body. Pada kemasannya, instruksinya adalah 'apply to hands and body'. Wish I'd read this at the first place πŸ˜…




Sebetulnya ini adalah very very late post. Saya menemukan draftnya di hp, tinggal ngasih foto aja. Tapi yah biasa, penyakit malasnya kambuh, ditambah suka nunda-nunda. So yeah....

Jadi ceritanya waktu itu saya sedang dalam masa pencarian the right tabir surya setelah sunscreen Emina saya habis. Sudah habis 2-3 tube dan baru mulai menyadari kalau kulit suka terlihat menggelap kalau pakai ini. Sempat mencoba TBS Skin Defence Face Mist dan merasa kurang puas (review di sini). Lalu gak sengaja lihat daftar sunscreen local brand, salah satunya Sensatia Botanicals ini. Maka akibat terpengaruh oleh kampanye 'cintailah ploduk-ploduk endonesia' plus penasaran, saya pun memutuskan untuk mengadopsinya dari seseorang yang menjual barang prelovednya untuk amal.

Review terlucu yang sempat saya temukan tentang produk tabir surya Sensatia Botanicals ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa ini tuh baunya mirip cat minyak. Ketika barangnya dateng, penampakan tubenya memang langsung mengingatkan saya pada tube cat lukis diperbesar beberapa kali lipat. Saya kebetulan belum pernah pakai cat minyak jadi kurang tau baunya, tapi jujur ini sunblock memang aromanya aneh. It's so chemical and weird. Selain aroma, konsistensinya pun mirip cat. Jadi pas dipencet tubenya, keluar cairan gloopy putih yang meninggalkan jejak warna putih di tangan. Dan bisa ditebak, bikin whitecast dong. And it is no way going to blend into your skin. Your face will be whitish and glowing, persis cabe-cabean.

No more any further, final verdict, I quit!
I can't work it out, especially with its biggy size.
Well, guys, if you are a surfer or a regular swimmer and in need of a decent body sunscreen, you may want to try this. 


SOLD!! 😁





Sunday, June 26, 2022

Quick Review: The Body Shop Camomile Sumptuos Cleansing Butter

Let's jump to conclusion first.

Love and hate, but I've had enough. I don't want it in my life. Not gonna repurchase. Period.


Saya adalah penganut prinsip double cleansing yang taat dan setia. Oil based cleansing step is a must, dilanjut cuci muka pakai sabun. Setelah sekian tahun selalu setia pakai cleansing oil, mendadak saya tertarik nyobain cleansing balm sewaktu lihat iklan TBS cleansing butter. Tampilan packagingnya yang cantik entah kenapa menyebabkan my old lust for TBS product mendadak muncul lagi. Padahal saya udah lama lho pensiun pakai produk-produk skincare TBS. Mayoritas kurang cocok dan efeknya 'meh' aja di kulit saya. Dengan kesan semacam ini, harganya jadi berasa mahal banget untuk sekedar coba-coba. Yes, I own some pricey skincare products from other brands, tapi sangat layak dengan kinerjanya. Dan TBS ini ga ada sample maupun travel sizenya. Kalau ga cocok bakal nyesek banget karena diloakin pun susah lakunya, kecuali dikasi harga banting-bantingan. Belinya muahal, ditawarnya sadis. Kan sedih.

First impression, kemasannya bagus. Kalau dilihat dari foto aja, kebayang kemasan-kemasan model gitu biasanya repot bukanya. Ternyata enggak. Bukaannya model ulir, dipegangnya kokoh, dan tutupnya gak suka mengsle-mengsle (entah apa lah terjemahan Indonesianya). Dari segi kemasan, jempol deh. 

Kesan kedua, wangiii..... Sumpah wanginya ini enak banget *kalimat ini kenapa mendadak vibe-nya mirip seorang beauty influencer yang suka ngereview segala macem skincare baru, sampai ga bisa bedain lagi dia emang beneran cocok atau konsekuensi endorse-an* πŸ˜ Tapi memang wanginya so divine, calming, and sumptuous. Sangat enjoyable lah pokoknya.

Kesan ke tiga, tekstur. Ini unik sih emang. As a first time user of cleansing balm, saya merasa wow ini menarik yah. Jadi produk cleansing butter ini ketika masih di dalam wadahnya berbentuk semacam minyak padat, tapi setelah menyentuh kulit langsung lumer jadi minyak. Kadang saya ambilnya (pakai sendok plastik mini biar gak terkontaminasi tangan) suka kebanyakan. Pas masih padat, kayanya sedikit. Pas udah mencair, lho ternyata banyak πŸ˜… A little goes a long way beneran. Kayanya bakal ga abis-abis nih. Nah daya bersihnya gimana? Sebagai orang yang jarang banget mekap-an (apalagi pandemi gini) dan cuma pakai sunscreen at most, ini bersihnya mantap. Kalau melihat review orang-orang bule yang dandannya heboh, untuk make up waterproof juga nampol. 


Konsistensi awal padat

Lumer ketika menyentuh kulit


Voilaa, jadi minyak


Lalu kenapa saya gak suka? Karena super ribet. There it is.

Standar penggunaan oil based cleanser itu kan memang bilasnya pakai air hangat. Tapi berdasar pengalaman pakai cleansing oil, hal ini gak lantas jadi wajib. Pakai air keran biasa juga bisa, meski mungkin jadi agak lama. Berbeda dengan cleansing butter ini. Harus pakai washcloth (waslap) dan air hangat. Wajib hukumnya. Kalau gak, dijamin muka bakal licin terus, kecuali dihapus pakai sabun yang non-gentle macam Lifebuoy batang. Itupun perlu usaha 2-3 kali. Asli ngabisin waktu banget dan bikin males. Ini yang bikin gak tahan. Kebetulan di rumah gak pasang water heater jadi tiap mau bebersih muka harus masak air dulu. Ambil air panas dari dispenser galon is not an option. Eman-eman 😜 Dan yang jelas waslap yang habis dipakai untuk ngusap-usap muka tadi harus dicuci sampai bersih. Gak mungkin kan dipakai lagi besoknya dalam keadaan masih ada residu minyak dan kotoran wajah sisa pemakaian kemarin. Bukannya bersih malah jadi jorok πŸ˜… See? Ritualnya jadi panjang banget, cuma bebersih muka doang.

Alasan lainnya, saya gak suka harus ngusap-usap muka tiap hari pakai waslap. Di usia segini, saya berusaha as gentle as possible terhadap kulit. Belajar dari pengalaman ibu saya yang semasa muda kalau membersihkan wajah di malam hari selalu dengan semangat membara, di hari tua (usia 60th) kulit beliau jadi sensitif banget terhadap apapun.

Yah begitulah. Dengan ini, tampaknya saya harus hunting cleansing oil lagi *sigh*. Kalau kalian pemakai make up waterproof, butuh pembersih yang powerful, dan suka menikmati akhir hari dengan memanjakan diri merawat kulit sambil menikmati aroma yang menenangkan, bisa jadi bakal cocok dengan produk ini. Ratingnya bagus kok di FD. It's just not for me.


🌼🌼🌿





Sunday, November 7, 2021

Review: Sulwhasoo Gentle Cleansing Oil EX



Kemasan 50ml, travel size


Ini adalah cleansing oil brand Korea kedua yang pernah saya coba setelah Face Shop (review di sini). Saya suka memakai cleansing oil karena wajah terasa lembab dan terlihat cerah sesudahnya. Meski relatively ribet tapi worth it dengan hasilnya yang memuaskan. Bersihnya mantepp πŸ‘ Cleansing oil pertama saya adalah Kose dan kemudian saya menemukan my HG: Shu Uemura. Keduanya adalah brand Jepang. Sebetulnya saya gak kepingin pindah ke lain hati lagi setelah jatuh cinta sama Shu Uemura, tapi masalahnya harganya bikin nangis. Setelah beberapa kali beli preloved Shu Uemura, mulai capek juga ngubek-ngubek marketplace demi dapetin best deal. Karena udah cinta, akhirnya suatu hari jadi kepingin punya sendiri kan, yang brand new dari official store. Tapi apa daya, harga baru full sizenya gak masuk buat budget saya πŸ˜­ Pernah sih beli travel sizenya, cuman berasa kurang mantep. Udah gitu, dupenya gak ada pula. Lengkap sudah.


Pengalaman gak enak pakai cleansing oil The Face Shop bikin saya jadi agak picky. Saya skip semua review yang menyatakan, “Ini pertama kalinya pakai cleansing oil.” Pada akhirnya pilihan jatuh kepada Sulwhasoo Gentle Cleansing Oil Ex setelah baca review Fifty Shade Of Snail di sini. Sebagai beauty blogger senior, pengalamannya dengan beberapa brand cleansing oil cukup membuat informasi yang diberikan cukup reliable bagi saya. Sebagai brand high end di Korea, cleansing oil Sulwashoo relatif affordable. Untuk ukuran 50ml harganya gak sampai 100ribu.

Ingredients overview (source: INCIDECODER)


Packaging

Karena masih coba-coba, saya beli yang ukuran 50ml. Dusnya terbuat dari kertas glossy-dove berwarna pinky peach yang terlihat elegan. Kemasannya berupa botol plastik sewarna dusnya dengan bukaan model pump. Ada segel pengunci yang dipasang di leher pump-nya sehinga gak perlu kuatir kepencet dan tumpah jika dimasukkan ke dalam tas. Sedikit downside, botolnya opaque sehingga isinya gak kelihatan tinggal seberapa. Tapi kabarnya yang versi terbaru (tanpa nama 'EX') botolnya lebih transparan.


Ada aroma rempah (some bloggers said it's ginseng) yang tercium ketika cairan cleansing oil keluar ke telapak tangan, dan sewaktu diaplikasikan ke wajah ada semacam sensasi hangat. Terkadang saya merasa seperti sedang cuci muka pakai minyak pijat hihihi.... Konsistensi cleansing oil Sulwashoo ini relatif cair. Kalau pumpnya ditekan langsung keluar banyak dan buat saya pribadi satu kali pump itu kebanyakan karena sehari-hari hanya pakai sunscreen. Separuh tekan saja cukup.


Pump dengan pengunci yang travel friendly


Sewaktu tulisan ini diunggah ternyata sudah lewat exp date haha..
Tapi masih dipakai karena isi masih banyak, aman kok.


Cara Pakai

Membersihkan wajah dengan memanfaatkan minyak-minyakan sudah lama dilakukan oleh sebagian orang karena dipercaya lebih lembut bagi kulit. Cleansing oil adalah teknologi yang memudahkan proses tersebut karena bisa langsung dibersihkan dengan air. Cara pakainya adalah diaplikasikan secukupnya dan diratakan di wajah, kemudian dipijat-pijatkan dengan gerakan memutar agar semua kotoran terangkat. Setelah itu dibilas menggunakan air hangat (minyak akan diemulsikan sehingga berwarna putih susu) sampai bersih. Cleansing oil Sulwhasoo ini awalnya saya kira susah dibersihkan seperti The Face Shop. Dibilas berkali-kali masih menyisakan rasa licin. Bahkan disabunin pun gak cukup sekali. Bedanya dia gak bikin jerawatan aja. Tapi lama-lama saya paham, ternyata butuh banyak air dan juga utamanya tangan harus bersih dulu sebelum dipakai untuk membilas. Dengan cara ini, pakai air dingin pun gak masalah, tetap bisa bersih maksimal. 


Yang jelas double cleansing pakai facial wash tetap wajib ya, karena untuk membersihkan secara tuntas sisa-sisa pembersihan wajah. Saya pernah dengan pedenya menskip tahapan second cleansing ini karena merasa kulit sudah bersih gak ada rasa licin sama sekali. Eeh setelah sekitar dua-tiga mingguan, jerawat bermunculan silih berganti, gak peduli skincare apapun yang dipakai πŸ˜…  


Atas: Wardah Matte Lip Cream
Bawah: Estee Lauder Cushion Stick

Dioles cleansing oil



Voila.... bersih ❤️

Final Verdict

Saya sukaaa. Ini sepertinya akan menjadi my next go-to cleansing oil setelah Shu Uemura. Dari segi tingkat kebersihannya sama bersihnya. Sama-sama bikin cerah juga. Memang ada aroma jamu-jamuannya tapi gak terasa mengganggu. Dan yang jelas, dari segi harga ini relatif affordable ahahahaha….. Jadi gak perlu hunting preloved lagi deh πŸ˜


Repurchase?

Mungkin tidak dalam waktu dekat. Saya sudah lama penasaran dengan cleansing balm dan kebetulan ada TBS Camomile Sumptuous Cleansing Butter yang sedang mengantri untuk dicoba πŸ˜‰



Friday, April 30, 2021

Swatch & Review: Innisfree Real Color Nail Polish No.47 & 48 (Update no.14 & 46)

 



Review ini ditulis sebagai akibat keracunan iklan Lzd yang mondar-mandir di medsos gak brenti-brenti πŸ˜… Beneran kita pengguna Android smartphone ini sebetulnya nyaris gak punya privasi sama sekali. Gegara ngintipin lapak resminya Innisfree di Lzd melulu dan sempet masukin cat kuku Real Color ke keranjang belanja, tiap hari dihantui benda yang sama di iklan medsos. Belum lagi notif dari app Lzd itu sendiri yang nongol terus tiap hari, ngingetin kalau barang di keranjang belanjaan belum dibayar πŸ™„

Aslinya saya udah bikin deklarasi pensiun beli cat kuku (at least mau ngabisin yang lama dulu) dan sempat berhasil bertahan setahun lebih tanpa nambah koleksi baru. Tapi dasar saya lemah iman, akhirnya tergoda juga. Maka inilah dia, Innisfree Real Color no. 47 dan 48, dibeli murni secara impulsif tanpa ngecek review sama sekali. Entah kenapa saya punya feeling bagus dengan cat ini, mungkin karena pernah punya produk HG dari brand Innisfree. Semoga aja feelingnya bener.





No. 47 warna olive green dan no.48 warna dark rose



Kesan pertama, warna yang datang persis sesuai yang dibayangkan. Botolnya simpel, gak ada kesan chic, girly, playful, dan yang lucu-lucu lainnya. Just be real, like its name, Real Color. Oke yang terakhir ini cuma bikin-bikinan saya aja sih, biar cocok haha.. 

Pass beberapa hari setelah paket datang, ee saya dapat tamu haid. Nah inilah waktunya mewarnai kuku. Langsung aja test drive si cat baru. Tanpa menaruh ekspektasi apa-apa, suprisingly saya langsung suka: full opacity dalam satu kali polesan, mudah diratakan, gak streaky, kuas luwes dan fleksibel, hasilnya rapi dan menyenangkan hati. Konsistensi sedikit lebih creamy dari preferensi saya tapi gak mempengaruhi kemudahan dalam memoles. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini aromanya gak menyengat, bahkan sebetulnya nyaris gak ada baunya, kecuali didekatkan ke hidung. Ini saya sadari sewaktu asyik poles-poles kuku, kok gak tercium bau apa-apa ya. Padahal semua cat kuku yang pernah saya coba biasanya baru dibuka tutup botolnya aja langsung kerasa aroma khas yang menusuk hidung. 

It dries fast! Alias cepat keringnya di kuku, terutama mengingat konsistensinya yang agak creamy. Saya bisa menyelesaikan dua layer polesan hanya dalam waktu setengah jam dan jari-jari ini bisa langsung diajak beraktifitas normal sekitar 15 menit setelah kelar layer terakhir. Waktu itu saya harus segera pergi ngantar bocah sehingga mesti ganti baju, ambil tas, kunci kendaraan, dll sehingga beberapa kali kukunya tergesek-gesek. Saya udah mikir, aduh hancur deh hasil kerja keras. Ternyata enggak. Catnya benar-benar sudah fix kokoh menempel di kuku. Hasil pewarnaannya sesuai dengan klaim yakni glossy finish. Kilauannya awet tahan lama. Meski sudah dibawa tidur, tergesek-gesek sprei dan bantal, glossynya gak berkurang dan gak ada cap bekas garis-garis. Beberapa kali pengalaman dengan cat kuku lain, sepertinya sudah kering sedari tadi tapi setelah dipakai tidur ada ngecap samar garis-garis dan yang tadinya glossy berubah jadi agak dove.

Cat kuku Innisfree ini mudah dirapikan. Sebagai non profesional, tangan saya kan suka goyah kalau lagi ngecat kuku, seringkali hasil warnanya jadi suka kelewat dari batas kuku sehingga harus siap sedia cotton bud dan aceton. Tapi dengan Innisfree Real Color, tinggal nunggu kering lalu cat yang belepotan cukup dikeletek pakai kuku dengan sedikit usaha, langsung bersih. 

Sepertinya feeling saya tepat beli ini ♥️ 



Swatch No.48

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna ini dipilih karena terlihat mirip seperti perpaduan dua warna favorit saya dari kuteks Revlon Nail Enamel, yakni Teak Rose dan Granite, yang sayangnya performanya mengecewakan (review di sini). Dan ternyata beneran saya suka. Warnanya warm dark rose setelah dua kali poles. Di kondisi minim pencahayaan, warnanya terlihat agak brownish.


Swatch No.47

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna dark olive green seperti ini ternyata cocok di saya, bikin kulit terlihat cerah dan bersih. Ini berbeda dengan Revlon Colorstay Indigo Blue yang dulu saya pernah punya. Warnanya aslinya bagus, tapi pas diaplikasikan ke kuku, jadi keliatan norak. Not flattering at all. Mungkin undertone kulit saya warm olive sementara biru adalah warna yang cenderung cool.


Update!!

Jadi, gara-gara positive experience sama dua cat kuku Innisfree di atas, saya jadi beli lagi dong. Lupa sudah dengan niatan puasa beli kuteks, ngahahahahaa πŸ˜…


Swatch No.46

Warna golden olive. Sukakk banget. Ketika dipakai jatuhnya jadi seperti warna nude, sangat kalem dan ngeblend dengan tone warna kulit. Oke, fix berarti undertone kulit saya memang olive nih. Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan ditimpuk Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai top coat for additional shine.



Swatch No.14

Ini warna kuningnya semacam kuning mustard. Dia bukan neon, juga bukan pastel. Masuk banget buat yang punya undertone olive. Gak bikin efek glow in the dark juga, di mana warna kukunya cerah bersinar tapi kulit tangan terlihat menggelapπŸ˜ƒ Khusus untuk warna ini, saya baru bisa memperoleh hasil yang full opacity setelah memoles tiga layer. Tapi konon cat kuku untuk warna-warna terang semacam kuning dan putih biasanya memang cenderung sheer dan streaky sih. Foto di atas adalah hasil tiga kali poles dengan Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai base coat dan top coat. 


Final Verdict

In love!! ❤️❤️

Sepertinya saya menemukan cinta baru, setelah susah move on dari The Skinfood Nail Vita yang kualitasnya di akhir-akhir mulai mengecewakan dan sepertinya makin susah dicari.  Konsistensinya pas, kuasnya juga enak dipakai, pengaplikasian relatif mudah, dan drying speednya memuaskan. Meski saya bilang keringnya cepat, tapi gak lantas jadi gampang seret sewaktu dioles ke kuku, sehingga gak perlu buru-buru juga waktu meratakannya. Take your time. Selain itu, saya senang karena Innisfree menyediakan pilihan warna-warna yang earthy tone seperti di atas, yang meski cukup bold dan colorful tapi ketika dipakai kesannya tetep kalem. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini saya beli di harga Rp 49.000 per botol dengan volume 6ml. Dari segi harga memang kurang bisa dibilang murah meriah. Ada banyak merk cat kuku terkenal lain yang harganya di bawah itu, tapi jarang yang menyediakan warna yang bikin saya tertarik. Rata-rata warnanya nude dan kalem-kalem. Lhaa periode saya pakai cat kuku kan cuma bisa sebulan sekali, mosok pake warna nude. Ga seru lah πŸ˜ƒ



Friday, April 23, 2021

My Skincare Routine Sharing: pH Atau Derajat Keasaman

Setelah sempat bermain-main dengan DIY serum vitamin C, saya jadi lumayan aware masalah ph. Terlebih lagi kemudian saya mulai memasukkan acid-acid an ke dalam rutinitas skincare saya. Ternyata asyik juga bisa mengetahui standar kondisi ideal sebuah komponen skincare, semisal AHA dan BHA membutuhkan jumlah persentase dan ph tertentu untuk bisa bekerja secara optimal. Berkaitan dengan ph inilah terkadang klaim sekian persen dari sebuah produk skincare tidak menjamin bahwa yang bekerja di kulit kita memang sebanyak itu. Tapi bukan berarti kalau tidak sesuai klaim trus gak efektif ya. Gak gitu juga. Karena terkadang ada tipe kulit tertentu yang tidak kuat menerima ph yang terlalu asam atau jumlah komponen aktif yang tinggi. Akhirnya kemudian kita mendapati produk-produk  dengan klaim gentle, yang memberikan hasil secara perlahan tapi terasa lebih ramah di kulit. High potent memang beresiko high irritant juga. Di sinilah teknologi mutlak ikut terlibat sehingga produk skincare yang efektivitasnya tinggi dan aman di kulit seringkali berbanding lurus dengan harganya. Let's say serum vitamin C yang dikatakan no.1 di dunia yang dikeluarkan Skinceuticals, harganya bikin jiwa misqueen macam saya ini meringis ngeri.

Ada satu lagi yang berkaitan dengan ph, yakni acid mantle a.k.a skin barrier. Pelindung kulit kita ini punya ph sekitar 5, relatif cukup asam, jadi sebaiknya produk yang rutin ditemplokkan ke wajah gak jauh-jauh dari angka itu. 

Tujuan tulisan saya kali ini adalah untuk mendokumentasikan ph produk-produk skincare yang sedang saya pakai belakangan ini. Mumpung habis beli ph strips baru yang bagusan, saya jadi seneng banget ngetes segala macam cairan hahahaha..... Produk yang dicek ph-nya di sini tidak banyak yaa karena memang hanya berdasar barang-barang di dalam beauty case saya aja. Teman-teman yang ingin mengecek pH dari produk favoritnya atau penasaran dengan produk tertentu bisa main ke beberapa tulisan berikut:

- AHA exfoliant (artikel & spreadsheet)

- AHA-BHA exfoliant  (artikel & spreadsheet)

- Beauty cleanser/facial wash  (artikel & spreadsheet)

- Artikel berbahasa Indonesia (all about ph & daftar ph produk)








 

 Dari kiri ke kanan:

pH

1.

Hadalabo Facial Wash

±6

2.

SK II Facial Treatment Clear Lotion

±5

3.

The Ordinary Glycolic Acid Toning Solution

3-4

4.

Missha Time Revolution The First Time Essence Intensive Moist

4-5

5.

N'Pure Cactus Aloe Vera 92 Soothing Gel

±7

6.

Benton Aloe Propolis Soothing Gel

±5

7.

Some By Mi Snail Truecica Serum

5-6

 

Dari hasil eksperimen ph strip di atas, saya dapat berkesimpulan bahwa produk skincare yang saya pakai cukup aman karena ph-nya menyerupai ph alami kulit. AHA exfoliant toner yang saya punya (The Ordinary) sudah sesuai dengan klaimnya 3,6 karena ph strip menunjukkan warna antara 3 dan 4. Ph paling tinggi dimiliki oleh gel aloe vera dari N’Pure yakni kisaran 7, relatif netral. Gel ini lebih banyak saya pakai untuk pelembab tangan dan sebagai pertolongan pertama pada luka bakar, melepuh, atau kulit memerah akibat terlalu lama kena sinar matahari.

Tuesday, April 13, 2021

Review: Somethinc Level 1% Retinol




Somethinc Level 1% Retinol adalah produk Retinol perdana yang coba saya masukkan ke dalam skincare routine. -Where to buy?- Jenis vitamin A yang pernah dipakai sebelum ini adalah Tretinoin dalam bentuk krim salep Mediklin TR dan Vitacid 0,05%, but not for regular use. Saya pakai Mediklin TR untuk perawatan insidental bagi jerawat bandel saja, sementara Vitacid saya pakai akibat racun dari beberapa beauty blogger yang mengklaim wajahnya jadi mulus nan glowing dari pemakaian rutin produk tersebut. Nah meski ini produk Retinol pertama, saya berani ambil langsung 1% karena adanya keterangan bahwa bahan tersebut dibuat encapsulated di mana itu menjadikannya lebih stabil terhadap udara dan cahaya serta bersifat time-released sehingga lebih gentle dan tingkat iritasinya lebih rendah (Referensi: di sini). Selain itu, pengalaman saya dulu dengan Vitacid (di mana bentuk vitamin A-nya berupa Retinoic acid murni yang lebih potent tapi juga lebih irritant) relatif biasa saja. Nothing impressive, nothing negative, cuma sempet notice idung berasa halus lembut meski blackheads masih terlihat setia nangkring di sana, but didn’t feel so bumpy. Satu alasan utama kenapa sekarang mau coba pakai Retinol adalah masalah yang berkaitan dengan milia or something looks like it. Pernah baca di suatu tulisan, salah satu cara membasmi milia adalah pemakaian Retinol secara rutin. 


Masalah utama saya sebetulnya adalah aging skin akibat terbiasa panas-panasan dan kerja lapangan sedari umur sekolah tapi baru rajin pakai sunscreen setelah usia 30, jadi ya..... πŸ™ˆ So if you guys cari review tentang produk Retinol terhadap wajah berjerawat, this post is not for you. Saya gak punya problem jerawat, pori besar, maupun kulit berminyak. Alih-alih jerawat, saya punya masalah bruntusan halus sewarna kulit yang bisa berarti milia atau syringoma. -I hope this is milia karena kalau syringoma gak bisa diatasi pakai skincare- Dulu pernah coba diterapi daily spot treatment pakai Vitacid tapi berefek jadi pedih di area tersebut tanpa ada perubahan yang terlihat siginifikan.


Problem kulit:
- Beruntusan sewarna kulit
- Pori-poli yang longgar plus garis
halus di beberapa area akibat kulit yang mengendur karena penurunan berat badan yang agak drastis (dan ga bisa chubby lagi πŸ˜…)

**Side note: Referensi memilih jenis vitamin A



Kemasan dan Penampakan

Somethinc Level 1% Retinol dikemas dalam botol kaca 20ml warna hijau mungil, bersegel dan tanpa boks. Pada label tertera keterangan fungsi produk, cara pemakaian, daftar ingredients, dan keterangan manufaktur. Tanggal kadaluarsa produk bisa ditemukan di botol bagian bawah. Aplikator produknya berupa pipet drop warna putih. Cukup simpel tapi terlihat serius bagi saya, like I can rely on this product. Untuk isinya sendiri berwarna kuning jernih. Ada sedikit tercium aroma manis, seperti apa yaa... Mirip-mirip air seduhan madu gitu lah. Konsistensinya relatif cair sehingga mudah diratakan dan cepat diserap kulit.


 

 


Klaim

Retinol 1% yang telah di-enkapsulasi sehingga lebih aman digunakan untuk kulit sensitif sekalipun. Menyamarkan tanda penuaan seperti kerutan, flek/noda hitam, hiperpigmentasi, pori-pori, dan garis halus. Membuat kulit tampak lebih cerah dan tekstur kulit tampak lebih rata.


Cara Pakai: 

Kocok sebelum digunakan. Gunakan setelah toner dan sebelum moisturiser. Dapat digunakan untuk leher. Gunakan tabir surya saat siang hari.


Ingredients

Aqua, Terephthalylidene Dicamphor Sulfonic Acid, Butylene Glycol, Glycerin, Ceramide 3, Triethanolamine, Retinol, Hydroxyethylcellulose, Phenoxyethanol, Allantoin, Hyaluronic Acid, Disodium EDTA

** Ingredients analysis:

COSDNA

Skincarissma

INCIDecoder


Sedikit referensi tentang bahan Triethanolamine:

INCIDecoder

Honestdocs

Alodokter

Inti Alam Kimia

The Derm Review



Kesan Pemakaian

Saya sudah menggunakan serum Retinol ini sekitar hampir satu bulan, dengan interval setiap dua atau tiga hari sekali. Sejauh ini gak ada keluhan apa-apa. Gak ada efek purging maupun cekit-cekit (tingling sensation). Tapi ya mungkin saya saja yang badak, wong pakai Vitacid pun kulit tetap kalem. Kabar bahwa Retinol mempunyai efek samping kulit kering juga gak terjadi pada saya. Entah mungkin saya menghidrasi kulit dengan cukup atau memang formulasi serum ini sukses mengantisipasi efek negatif tersebut. Jika dicek dari daftar ingredients di atas, ada banyak komponen yang sifatnya baik bagi hidrasi kulit seperti Ceramide 3, Hyaluronic Acid, Allantoin, dan Glycerin. Beberapa artikel kecantikan menyebutkan bahwa Retinol dan Hyaluronic Acid adalah best couple. Sebagai catatan, saya meletakkan serum Retinol ini setelah toner (tunggu kering dulu), kemudian dilanjut hydrating essence, dan diakhiri produk pelembab berbahan aloe atau snail. Idealnya, Retinol itu untuk night routine tapi ya karena saya kadang gak sempat, seringkali baru pakai sewaktu pagi setelah subuhan. Gak lupa sunscreen tentunya.


Efek

Ada efeknya gak? Saya harus menilainya dari target semula yakni menghilangkan milia. Dan setelah belakangan ini browsing sana-sini, sepertinya saya harus menerima fakta bahwa itu bukan milia, hiks. Jadi akhirnya ini efeknya gimana dong? Saya gak tahu hahaha πŸ˜† Kalau efek anti aging mestinya sih untuk jangka panjang ya, sepertinya belum bisa diketahui kalau sebotol aja belum habis. Dalam sebuah tulisan tentang mitos-mitos seputar Retinoid, blogger Lab Muffin menyarankan untuk menunggu 3-6 bulan sebelum bisa memutuskan produk Retinol sedang yang dipakai ini efektif atau gak.


Final Verdict

Somethinc Level 1% Retinol adalah produk Retinol yang affordable (Rp 155.000,00 untuk ukuran 20ml) dan mudah dibeli secara resmi. Saya menyukai konsepnya yang mencantumkan jumlah persentase bahan aktif yang jadi andalan pada label produknya. Hal tersebut menjadi satu poin pertimbangan tersendiri ketika mencari suatu produk yang sekiranya bisa dipercaya dan tidak overclaim.  Tapi spertinya brand lokal lain pun mulai melakukan hal yang sama mengingat pemakai skincare dalam negeri sekarang sudah banyak yang giat mengedukasi diri. Sementara itu di sisi lain, berdasarkan kesan selama pemakaian, saya merasa nyaman pakai serum ini meski belum melihat hasil yang signifikan. Mungkin masih perlu sedikit eksperimental seperti menaikkan frekuensi pemakaiannya menjadi setiap hari dan ditambah skincare anti aging lainnya. Review akan diupdate setelah habis botol pertama. Semoga gak lupa πŸ™


Ada sedikit catatan yakni tentang komponen Triethanolamine seperti yang sempat saya sebutkan sekilas di atas. Bagi yang kulitnya sangat sensitif atau memiliki alergi terhadap bahan ini mungkin perlu sedikit berhati-hati.


Repurchase?

Not sure yet. 




**Somethinc official stores:

Official webstore

Shopee

Tokopedia

Lazada


[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...