Friday, April 30, 2021

Swatch & Review: Innisfree Real Color Nail Polish No.47 & 48 (Update no.14 & 46)

 



Review ini ditulis sebagai akibat keracunan iklan Lzd yang mondar-mandir di medsos gak brenti-brenti πŸ˜… Beneran kita pengguna Android smartphone ini sebetulnya nyaris gak punya privasi sama sekali. Gegara ngintipin lapak resminya Innisfree di Lzd melulu dan sempet masukin cat kuku Real Color ke keranjang belanja, tiap hari dihantui benda yang sama di iklan medsos. Belum lagi notif dari app Lzd itu sendiri yang nongol terus tiap hari, ngingetin kalau barang di keranjang belanjaan belum dibayar πŸ™„

Aslinya saya udah bikin deklarasi pensiun beli cat kuku (at least mau ngabisin yang lama dulu) dan sempat berhasil bertahan setahun lebih tanpa nambah koleksi baru. Tapi dasar saya lemah iman, akhirnya tergoda juga. Maka inilah dia, Innisfree Real Color no. 47 dan 48, dibeli murni secara impulsif tanpa ngecek review sama sekali. Entah kenapa saya punya feeling bagus dengan cat ini, mungkin karena pernah punya produk HG dari brand Innisfree. Semoga aja feelingnya bener.





No. 47 warna olive green dan no.48 warna dark rose



Kesan pertama, warna yang datang persis sesuai yang dibayangkan. Botolnya simpel, gak ada kesan chic, girly, playful, dan yang lucu-lucu lainnya. Just be real, like its name, Real Color. Oke yang terakhir ini cuma bikin-bikinan saya aja sih, biar cocok haha.. 

Pass beberapa hari setelah paket datang, ee saya dapat tamu haid. Nah inilah waktunya mewarnai kuku. Langsung aja test drive si cat baru. Tanpa menaruh ekspektasi apa-apa, suprisingly saya langsung suka: full opacity dalam satu kali polesan, mudah diratakan, gak streaky, kuas luwes dan fleksibel, hasilnya rapi dan menyenangkan hati. Konsistensi sedikit lebih creamy dari preferensi saya tapi gak mempengaruhi kemudahan dalam memoles. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini aromanya gak menyengat, bahkan sebetulnya nyaris gak ada baunya, kecuali didekatkan ke hidung. Ini saya sadari sewaktu asyik poles-poles kuku, kok gak tercium bau apa-apa ya. Padahal semua cat kuku yang pernah saya coba biasanya baru dibuka tutup botolnya aja langsung kerasa aroma khas yang menusuk hidung. 

It dries fast! Alias cepat keringnya di kuku, terutama mengingat konsistensinya yang agak creamy. Saya bisa menyelesaikan dua layer polesan hanya dalam waktu setengah jam dan jari-jari ini bisa langsung diajak beraktifitas normal sekitar 15 menit setelah kelar layer terakhir. Waktu itu saya harus segera pergi ngantar bocah sehingga mesti ganti baju, ambil tas, kunci kendaraan, dll sehingga beberapa kali kukunya tergesek-gesek. Saya udah mikir, aduh hancur deh hasil kerja keras. Ternyata enggak. Catnya benar-benar sudah fix kokoh menempel di kuku. Hasil pewarnaannya sesuai dengan klaim yakni glossy finish. Kilauannya awet tahan lama. Meski sudah dibawa tidur, tergesek-gesek sprei dan bantal, glossynya gak berkurang dan gak ada cap bekas garis-garis. Beberapa kali pengalaman dengan cat kuku lain, sepertinya sudah kering sedari tadi tapi setelah dipakai tidur ada ngecap samar garis-garis dan yang tadinya glossy berubah jadi agak dove.

Cat kuku Innisfree ini mudah dirapikan. Sebagai non profesional, tangan saya kan suka goyah kalau lagi ngecat kuku, seringkali hasil warnanya jadi suka kelewat dari batas kuku sehingga harus siap sedia cotton bud dan aceton. Tapi dengan Innisfree Real Color, tinggal nunggu kering lalu cat yang belepotan cukup dikeletek pakai kuku dengan sedikit usaha, langsung bersih. 

Sepertinya feeling saya tepat beli ini ♥️ 



Swatch No.48

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna ini dipilih karena terlihat mirip seperti perpaduan dua warna favorit saya dari kuteks Revlon Nail Enamel, yakni Teak Rose dan Granite, yang sayangnya performanya mengecewakan (review di sini). Dan ternyata beneran saya suka. Warnanya warm dark rose setelah dua kali poles. Di kondisi minim pencahayaan, warnanya terlihat agak brownish.


Swatch No.47

Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan tanpa top coat. Warna dark olive green seperti ini ternyata cocok di saya, bikin kulit terlihat cerah dan bersih. Ini berbeda dengan Revlon Colorstay Indigo Blue yang dulu saya pernah punya. Warnanya aslinya bagus, tapi pas diaplikasikan ke kuku, jadi keliatan norak. Not flattering at all. Mungkin undertone kulit saya warm olive sementara biru adalah warna yang cenderung cool.


Update!!

Jadi, gara-gara positive experience sama dua cat kuku Innisfree di atas, saya jadi beli lagi dong. Lupa sudah dengan niatan puasa beli kuteks, ngahahahahaa πŸ˜…


Swatch No.46

Warna golden olive. Sukakk banget. Ketika dipakai jatuhnya jadi seperti warna nude, sangat kalem dan ngeblend dengan tone warna kulit. Oke, fix berarti undertone kulit saya memang olive nih. Swatch di atas adalah hasil dua kali polesan ditimpuk Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai top coat for additional shine.



Swatch No.14

Ini warna kuningnya semacam kuning mustard. Dia bukan neon, juga bukan pastel. Masuk banget buat yang punya undertone olive. Gak bikin efek glow in the dark juga, di mana warna kukunya cerah bersinar tapi kulit tangan terlihat menggelapπŸ˜ƒ Khusus untuk warna ini, saya baru bisa memperoleh hasil yang full opacity setelah memoles tiga layer. Tapi konon cat kuku untuk warna-warna terang semacam kuning dan putih biasanya memang cenderung sheer dan streaky sih. Foto di atas adalah hasil tiga kali poles dengan Etude Play Nail Smoothing Base Coat sebagai base coat dan top coat. 


Final Verdict

In love!! ❤️❤️

Sepertinya saya menemukan cinta baru, setelah susah move on dari The Skinfood Nail Vita yang kualitasnya di akhir-akhir mulai mengecewakan dan sepertinya makin susah dicari.  Konsistensinya pas, kuasnya juga enak dipakai, pengaplikasian relatif mudah, dan drying speednya memuaskan. Meski saya bilang keringnya cepat, tapi gak lantas jadi gampang seret sewaktu dioles ke kuku, sehingga gak perlu buru-buru juga waktu meratakannya. Take your time. Selain itu, saya senang karena Innisfree menyediakan pilihan warna-warna yang earthy tone seperti di atas, yang meski cukup bold dan colorful tapi ketika dipakai kesannya tetep kalem. 

Cat kuku Innisfree Real Color ini saya beli di harga Rp 49.000 per botol dengan volume 6ml. Dari segi harga memang kurang bisa dibilang murah meriah. Ada banyak merk cat kuku terkenal lain yang harganya di bawah itu, tapi jarang yang menyediakan warna yang bikin saya tertarik. Rata-rata warnanya nude dan kalem-kalem. Lhaa periode saya pakai cat kuku kan cuma bisa sebulan sekali, mosok pake warna nude. Ga seru lah πŸ˜ƒ



Friday, April 23, 2021

My Skincare Routine Sharing: pH Atau Derajat Keasaman

Setelah sempat bermain-main dengan DIY serum vitamin C, saya jadi lumayan aware masalah ph. Terlebih lagi kemudian saya mulai memasukkan acid-acid an ke dalam rutinitas skincare saya. Ternyata asyik juga bisa mengetahui standar kondisi ideal sebuah komponen skincare, semisal AHA dan BHA membutuhkan jumlah persentase dan ph tertentu untuk bisa bekerja secara optimal. Berkaitan dengan ph inilah terkadang klaim sekian persen dari sebuah produk skincare tidak menjamin bahwa yang bekerja di kulit kita memang sebanyak itu. Tapi bukan berarti kalau tidak sesuai klaim trus gak efektif ya. Gak gitu juga. Karena terkadang ada tipe kulit tertentu yang tidak kuat menerima ph yang terlalu asam atau jumlah komponen aktif yang tinggi. Akhirnya kemudian kita mendapati produk-produk  dengan klaim gentle, yang memberikan hasil secara perlahan tapi terasa lebih ramah di kulit. High potent memang beresiko high irritant juga. Di sinilah teknologi mutlak ikut terlibat sehingga produk skincare yang efektivitasnya tinggi dan aman di kulit seringkali berbanding lurus dengan harganya. Let's say serum vitamin C yang dikatakan no.1 di dunia yang dikeluarkan Skinceuticals, harganya bikin jiwa misqueen macam saya ini meringis ngeri.

Ada satu lagi yang berkaitan dengan ph, yakni acid mantle a.k.a skin barrier. Pelindung kulit kita ini punya ph sekitar 5, relatif cukup asam, jadi sebaiknya produk yang rutin ditemplokkan ke wajah gak jauh-jauh dari angka itu. 

Tujuan tulisan saya kali ini adalah untuk mendokumentasikan ph produk-produk skincare yang sedang saya pakai belakangan ini. Mumpung habis beli ph strips baru yang bagusan, saya jadi seneng banget ngetes segala macam cairan hahahaha..... Produk yang dicek ph-nya di sini tidak banyak yaa karena memang hanya berdasar barang-barang di dalam beauty case saya aja. Teman-teman yang ingin mengecek pH dari produk favoritnya atau penasaran dengan produk tertentu bisa main ke beberapa tulisan berikut:

- AHA exfoliant (artikel & spreadsheet)

- AHA-BHA exfoliant  (artikel & spreadsheet)

- Beauty cleanser/facial wash  (artikel & spreadsheet)

- Artikel berbahasa Indonesia (all about ph & daftar ph produk)








 

 Dari kiri ke kanan:

pH

1.

Hadalabo Facial Wash

±6

2.

SK II Facial Treatment Clear Lotion

±5

3.

The Ordinary Glycolic Acid Toning Solution

3-4

4.

Missha Time Revolution The First Time Essence Intensive Moist

4-5

5.

N'Pure Cactus Aloe Vera 92 Soothing Gel

±7

6.

Benton Aloe Propolis Soothing Gel

±5

7.

Some By Mi Snail Truecica Serum

5-6

 

Dari hasil eksperimen ph strip di atas, saya dapat berkesimpulan bahwa produk skincare yang saya pakai cukup aman karena ph-nya menyerupai ph alami kulit. AHA exfoliant toner yang saya punya (The Ordinary) sudah sesuai dengan klaimnya 3,6 karena ph strip menunjukkan warna antara 3 dan 4. Ph paling tinggi dimiliki oleh gel aloe vera dari N’Pure yakni kisaran 7, relatif netral. Gel ini lebih banyak saya pakai untuk pelembab tangan dan sebagai pertolongan pertama pada luka bakar, melepuh, atau kulit memerah akibat terlalu lama kena sinar matahari.

Tuesday, April 13, 2021

Review: Somethinc Level 1% Retinol




Somethinc Level 1% Retinol adalah produk Retinol perdana yang coba saya masukkan ke dalam skincare routine. -Where to buy?- Jenis vitamin A yang pernah dipakai sebelum ini adalah Tretinoin dalam bentuk krim salep Mediklin TR dan Vitacid 0,05%, but not for regular use. Saya pakai Mediklin TR untuk perawatan insidental bagi jerawat bandel saja, sementara Vitacid saya pakai akibat racun dari beberapa beauty blogger yang mengklaim wajahnya jadi mulus nan glowing dari pemakaian rutin produk tersebut. Nah meski ini produk Retinol pertama, saya berani ambil langsung 1% karena adanya keterangan bahwa bahan tersebut dibuat encapsulated di mana itu menjadikannya lebih stabil terhadap udara dan cahaya serta bersifat time-released sehingga lebih gentle dan tingkat iritasinya lebih rendah (Referensi: di sini). Selain itu, pengalaman saya dulu dengan Vitacid (di mana bentuk vitamin A-nya berupa Retinoic acid murni yang lebih potent tapi juga lebih irritant) relatif biasa saja. Nothing impressive, nothing negative, cuma sempet notice idung berasa halus lembut meski blackheads masih terlihat setia nangkring di sana, but didn’t feel so bumpy. Satu alasan utama kenapa sekarang mau coba pakai Retinol adalah masalah yang berkaitan dengan milia or something looks like it. Pernah baca di suatu tulisan, salah satu cara membasmi milia adalah pemakaian Retinol secara rutin. 


Masalah utama saya sebetulnya adalah aging skin akibat terbiasa panas-panasan dan kerja lapangan sedari umur sekolah tapi baru rajin pakai sunscreen setelah usia 30, jadi ya..... πŸ™ˆ So if you guys cari review tentang produk Retinol terhadap wajah berjerawat, this post is not for you. Saya gak punya problem jerawat, pori besar, maupun kulit berminyak. Alih-alih jerawat, saya punya masalah bruntusan halus sewarna kulit yang bisa berarti milia atau syringoma. -I hope this is milia karena kalau syringoma gak bisa diatasi pakai skincare- Dulu pernah coba diterapi daily spot treatment pakai Vitacid tapi berefek jadi pedih di area tersebut tanpa ada perubahan yang terlihat siginifikan.


Problem kulit:
- Beruntusan sewarna kulit
- Pori-poli yang longgar plus garis
halus di beberapa area akibat kulit yang mengendur karena penurunan berat badan yang agak drastis (dan ga bisa chubby lagi πŸ˜…)

**Side note: Referensi memilih jenis vitamin A



Kemasan dan Penampakan

Somethinc Level 1% Retinol dikemas dalam botol kaca 20ml warna hijau mungil, bersegel dan tanpa boks. Pada label tertera keterangan fungsi produk, cara pemakaian, daftar ingredients, dan keterangan manufaktur. Tanggal kadaluarsa produk bisa ditemukan di botol bagian bawah. Aplikator produknya berupa pipet drop warna putih. Cukup simpel tapi terlihat serius bagi saya, like I can rely on this product. Untuk isinya sendiri berwarna kuning jernih. Ada sedikit tercium aroma manis, seperti apa yaa... Mirip-mirip air seduhan madu gitu lah. Konsistensinya relatif cair sehingga mudah diratakan dan cepat diserap kulit.


 

 


Klaim

Retinol 1% yang telah di-enkapsulasi sehingga lebih aman digunakan untuk kulit sensitif sekalipun. Menyamarkan tanda penuaan seperti kerutan, flek/noda hitam, hiperpigmentasi, pori-pori, dan garis halus. Membuat kulit tampak lebih cerah dan tekstur kulit tampak lebih rata.


Cara Pakai: 

Kocok sebelum digunakan. Gunakan setelah toner dan sebelum moisturiser. Dapat digunakan untuk leher. Gunakan tabir surya saat siang hari.


Ingredients

Aqua, Terephthalylidene Dicamphor Sulfonic Acid, Butylene Glycol, Glycerin, Ceramide 3, Triethanolamine, Retinol, Hydroxyethylcellulose, Phenoxyethanol, Allantoin, Hyaluronic Acid, Disodium EDTA

** Ingredients analysis:

COSDNA

Skincarissma

INCIDecoder


Sedikit referensi tentang bahan Triethanolamine:

INCIDecoder

Honestdocs

Alodokter

Inti Alam Kimia

The Derm Review



Kesan Pemakaian

Saya sudah menggunakan serum Retinol ini sekitar hampir satu bulan, dengan interval setiap dua atau tiga hari sekali. Sejauh ini gak ada keluhan apa-apa. Gak ada efek purging maupun cekit-cekit (tingling sensation). Tapi ya mungkin saya saja yang badak, wong pakai Vitacid pun kulit tetap kalem. Kabar bahwa Retinol mempunyai efek samping kulit kering juga gak terjadi pada saya. Entah mungkin saya menghidrasi kulit dengan cukup atau memang formulasi serum ini sukses mengantisipasi efek negatif tersebut. Jika dicek dari daftar ingredients di atas, ada banyak komponen yang sifatnya baik bagi hidrasi kulit seperti Ceramide 3, Hyaluronic Acid, Allantoin, dan Glycerin. Beberapa artikel kecantikan menyebutkan bahwa Retinol dan Hyaluronic Acid adalah best couple. Sebagai catatan, saya meletakkan serum Retinol ini setelah toner (tunggu kering dulu), kemudian dilanjut hydrating essence, dan diakhiri produk pelembab berbahan aloe atau snail. Idealnya, Retinol itu untuk night routine tapi ya karena saya kadang gak sempat, seringkali baru pakai sewaktu pagi setelah subuhan. Gak lupa sunscreen tentunya.


Efek

Ada efeknya gak? Saya harus menilainya dari target semula yakni menghilangkan milia. Dan setelah belakangan ini browsing sana-sini, sepertinya saya harus menerima fakta bahwa itu bukan milia, hiks. Jadi akhirnya ini efeknya gimana dong? Saya gak tahu hahaha πŸ˜† Kalau efek anti aging mestinya sih untuk jangka panjang ya, sepertinya belum bisa diketahui kalau sebotol aja belum habis. Dalam sebuah tulisan tentang mitos-mitos seputar Retinoid, blogger Lab Muffin menyarankan untuk menunggu 3-6 bulan sebelum bisa memutuskan produk Retinol sedang yang dipakai ini efektif atau gak.


Final Verdict

Somethinc Level 1% Retinol adalah produk Retinol yang affordable (Rp 155.000,00 untuk ukuran 20ml) dan mudah dibeli secara resmi. Saya menyukai konsepnya yang mencantumkan jumlah persentase bahan aktif yang jadi andalan pada label produknya. Hal tersebut menjadi satu poin pertimbangan tersendiri ketika mencari suatu produk yang sekiranya bisa dipercaya dan tidak overclaim.  Tapi spertinya brand lokal lain pun mulai melakukan hal yang sama mengingat pemakai skincare dalam negeri sekarang sudah banyak yang giat mengedukasi diri. Sementara itu di sisi lain, berdasarkan kesan selama pemakaian, saya merasa nyaman pakai serum ini meski belum melihat hasil yang signifikan. Mungkin masih perlu sedikit eksperimental seperti menaikkan frekuensi pemakaiannya menjadi setiap hari dan ditambah skincare anti aging lainnya. Review akan diupdate setelah habis botol pertama. Semoga gak lupa πŸ™


Ada sedikit catatan yakni tentang komponen Triethanolamine seperti yang sempat saya sebutkan sekilas di atas. Bagi yang kulitnya sangat sensitif atau memiliki alergi terhadap bahan ini mungkin perlu sedikit berhati-hati.


Repurchase?

Not sure yet. 




**Somethinc official stores:

Official webstore

Shopee

Tokopedia

Lazada


Monday, December 28, 2020

Review: Matrix Wonder Light Clear - Highlight Rambut Tanpa Bleaching

 Hai hai.....

Belakangan ini benar-benar fiuuhhhh. Postingan ini dibuat pada bulan Desember 2020 yang mana artinya pandemi Covid-19 sudah hampir satu tahun mewarnai peradaban manusia bumi. Banyak hal yang berubah dalam keseharian kita bukan?

Nah ceritanya saya masih menyimpan penasaran dengan highlight setelah sekitar satu setengah tahunan lalu mencoba babylight bleaching menggunakan Joico Creme Lightener. Sekedar informasi  babylight adalah istilah untuk highlight yang sangat halus. Hasilnya cukup memuaskan bagi saya karena rambut yang di-highlight jadi terlihat sangat natural. Warnanya ngeblend banget sama rambut aslinya. Cuma satu kekurangannya, warna hasil bleachingnya kurang rata karena mengaplikasikan foil sendirian itu susah setengah mati πŸ˜… sampe pengen nangis hahahaha.... Ngerjainnya lamban banget sehingga adonan bleaching di mangkok terekspos di udara kelamaan. Akibatnya, rambut yg kena bleaching belakangan kurang maksimal prosesnya dibanding yang awal-awal.

Babylight pakai bleaching Joico Creme Lightener setahunan lalu

Proses bikin babylight, harus tipis-tipisss


Belajar dari pengalaman pertama, saya nyerah aja deh, meski puas tapi rasanya gak sanggup DIY highlighting pakai bleaching lagi. Oleh karena itu di kesempatan kali ini, sebagai alternatifnya saya pilih cat permanen yang gak sensitif terhadap waktu. Berbeda dengan zat bleaching yang berproses terus-menerus, cat permanen punya batas waktu. Setelah sekian menit yang ditentukan, dia akan sampai pada kinerja yang maksimal kemudian berhenti. Lalu karena saya hanya ingin rambut jadi lebih terang tanpa diwarnai, pilihan jatuh pada cat permanen jenis highlift warna Clear. FYI, highlift adalah jenis cat rambut permanen yang punya kemampuan mengangkat warna rambut agak tinggi, bisa 2 hingga 4 level. Untuk project kali ini, demi alasan ekonomis, saya memutuskan pakai merk Matrix varian Wonder Light. Lumayan dengan harga 70an ribu bisa dapet tube gede isi 90ml. Value for money banget kan. Jadi ga usah ngecat sambil ngirit-ngirit karena kuatir kehabisan bahan hahaha...

Pewarnaan kali ini dilakukan dalam dua sesi dan gak sepenuhnya DIY karena saya minta bantuan dari teman yang berpengalaman ngecat rambut untuk pengerjaan sekepala. Sesi pertama adalah menyiapkan 'kanvas' untuk sesi ke dua nanti. Bagian-bagian rambut paling luar yang bakal keliatan dibuat highlight dulu, lebih terang sekitar 2 level saja cukup. Ini saya kerjakan sendiri dan menghabiskan sekitar 15 lembar foil, pakai Matrix WL Clear dengan campuran developer 20vol, ratio 1:2. Setelah itu, rambut didiamkan selama 45 menit agar zat highlift bekerja maksimal. Hasilnya rambut jadi naik di level merah-oranye keemasan, seperti gambar di bawah. Lumayan terang ternyata meski developernya cuma 6%. Yah memang warnanya kurang ngeblend sih, jadi agak chunky highlight πŸ˜… Saya ambil helaian rambutnya agak banyakan, soalnya kapok bikin babylight, susahhh 😬

Matrix Wonder Light + developer 30vol
(Yang developer 20vol gak kefoto)

Klaim: bisa mengangkat warna rambut hingga 4 level

Chart warna Matrix Wonder Light, nyomot dari lapak orang
Saya pakai yang Clear (lingkaran atas)

Hasil sesi 1: highlight, terangnya belum terlalu kelihatan
Aslinya sih ada emas-emasnya dikit tapi setingan kameranya otomatis bikin gambar hasil jepretan jadi lebih cool ketimbang aslinya

Setelah puas dengan hasil highlight di atas, lanjut panggil bala bantuan untuk sesi ke dua. Masih pakai WL Clear juga tapi kali ini dengan campuran developer 30vol dan full head a.k.a sekepala. Nah ada hal menarik yang saya amati di proses ini. Teman saya mengaplikasikan cat rambut secara normal untuk bagian rambut yang dimulai dari 2cm setelah akar sampai bawah. Kira-kira setelah menunggu 20-30 menitan, dia mulai mengaplikasikan di bagian yang dekat akar rambut dengan cara berbeda. Jadi gak sekedar ditemplok rata tapi juga disisir-sisir supaya warnanya ngeblend dan gak terjadi hot root (bagian pangkal lebih terang ketimbang ujung). Pengerjaan bagian pangkal ini memakan waktu sekitar 10 menit sehingga ketika selesai, rambut bagian bawah sudah melalui proses selama 40 menit. Karena saya gak mau akarnya terlalu terang, 15 menit kemudian rambut dibilas. Hasilnya bisa dilihat seperti berikut.

Hasil sesi 2: indoor lighting
Warm (ki) VS natural (ka) 


Hasil sesi 2
Kiri: outdoor lighting
Kanan: under sun light

Hair levels: tingkatan gelap-terang rambut

Saya cukup puas dengan hasilnya. Di dalam ruangan dengan pencahayaan normal/natural, warnanya coklat medium, dan di bawah sinar matahari jadi merah keemasan. Sementara yang sebelumnya sudah dihighlight terlihat brassy orange, kurleb level 5-6. Meski brassy tapi masih sesuai harapan, karena WL Clear kan memang seharusnya gak ada warnanya, kerjanya hanya lifting (mengangkat warna) tanpa proses toning (memberi warna). Kalau ada yang kepingin nerangin warna rambut tapi gak mau bleaching, ini bisa jadi salah satu alternatif pilihan. Kondisi rambut sesudahnya pun gak berasa rusak atau gimana-gimana. Buat Teman-teman yang kepingin rambut coklat dalam satu kali ngecat, bisa coba varian warna lainnya yang berfungsi toning juga, tinggal disesuaikan aja dengan hasil akhir yang dimaui. Btw ini saya ga dapet endorse lho *uhuk* Pakai highlift merk lain pun tak apa hahaha.

Setelah ini, saya kayanya bakal harus ngecat lagi dengan warna ashy untuk mengatasi brassy di atas. Meski ketika indoor cokelatnya terlihat oke, tapi  setelah keluar ruangan, warna emas-emasnya itu jadi muncul, bikin malu aja πŸ˜… Masih menimbang-nimbang sih, mau pakai cat apa. Yang jelas apapun itu yang penting semoga bisa terlaksana trus bikin reviewnya di marih πŸ˜‰





Friday, July 31, 2020

Review: The Body Shop Skin Defence Protection Face Mist SPF45 PA++ (Love or Hate, Which Team Are You?)




TBS Skin Defence Sunscreen Lotion adalah tabir surya yang ada di wishlist saya sejak lama. Reviewnya bagus di mana-mana, tapi 400ribu kurang seribu perak buat satu tube sunscreen yang bakal cepet habis karena harus dipakai secara rutin? Oh hell NO πŸ˜…

Suatu hari, kebetulan banget sunscreen Emina saya udah tinggal koretan. Tubenya sampe kempes banget karena dipaksa mengeluarkan isinya sampai tetes terakhir. Mau beli kok males secara udah stay at home sekian bulan, jadi mager buat pergi ke tempat berkumpulnya orang banyak. Berusaha pesen online, tahu-tahu kena cancel karena stok kosong. Ditolak setelah penantian penuh harap itu bikin galau tau. Jadi sewaktu iklan TBS Skin Defence face mist ini mendadak muncul di layar hp dengan diskon yang lumayan, berasa kaya dapet tempat pelarian, langsung gercep deh. Bungkuss.... Gak usah pakai cek review segala. Toh namanya sama-sama Skin Defence, cuma beda cara pakainya aja. Lagian sunscreen yang disemprot-semprot kayanya bakal praktis banget deh. *pemalas* Wkwkwkwkk pemikiran ngasal. Little did I know, I would end up being in regret.

Keterangan petunjuk dalam Bahasa Indonesia
How to use:
Kocok botol sebelum digunakan. Tutup mata dan mulut, lalu semprotkan 7-8 kali ke wajah dari jarak 20cm. Biarkan 15-20 menit hingga meresap. Gunakan Mist pada kulit wajah di pagi hari setelah menggunakan pelembap. Aplikasikan ulang setiap 2 jam pada kulit maupun di atas make-up untuk membantu melindungi kulit sepanjang hari.





Ingredients:
Alcohol Denat., Homosalate, Octocrylene, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Diisopropyl Adipate, Ethylhexyl Salicylate, Acrylates/Octylacrylamide Copolymer, Parfum/ Fragrance, Tetrahexyldecyl Ascorbate, Tocopheryl Acetate, Sclerocarya Birrea Seed Oil, Aqua/Water/ Eau,Helianthus Annuus Seed Oil/Helianthus Annuus (Sunflower) Seed Oil, Linalool, Palmaria Palmata Extract, BHT, Limonene, Citronellol, Geraniol.

Setelah barang sampai di tangan, akal waras saya baru bekerja. Errr kayanya perlu cari info lagi deh, secara seumur-umur belum pernah pakai sunscreen tipe spray begini, apalagi di label petunjuknya diharuskan untuk menutup mata dan mulut. Mendadak serem. Jangan-jangan ada hal penting lainnya yang perlu diketahui. Dan setelah baca-baca review tiba-tiba lemes, ternyata ini ratingnya rendah. Banyak yang bilang bagusan versi lotionnya banget. Rata-rata mengeluh pedes di mata dan kalau kehirup rasanya gak karuan. Ehmmm sebentar-sebentar, bukannya kalau tentang itu semua bisa dibaca di label petunjuknya. Ini tuh ngasih review jelek karena mereka gak baca atau.....

Ok, lanjutt...
Mari kita buktikan review-review di atas.
First impression, wangi bangetttt. Andai ini produk perawatan rambut atau body care, oke lah ya sewangi ini. Tapi untuk produk yang ditemplokin di muka, rasanya kok agak menguatirkan. Dan wanginya awet, literally. Setidaknya hidung saya bisa mengendus-endus aroma wangi ini sampai sekitar satu jam lebih. Bahkan residunya yang menempel di kain jilbab bisa meninggalkan jejak wangi sampai berhari-hari. Luar biasa sekali toh.

Second impression, it made my face shiny (kalau gak mau dibilang berminyak). Setelah semprot-semprot-semprot, muka ini terlihat seperti dilapisi plastik cling wrap. Mengkilap kaya habis disemprot pylox warna clear *hahahaha* Setelah lima belas menit, sesuai petunjuk, baru bisa ditimpa make up. Kalau mau mau praktis, tinggal diset aja pakai loose powder, selesai. Kalau kalian suka tipe glass skin look ala Korea, you’re going to love this. You can leave it as it is secara dia gak ada whitecast sama sekali.

Foto perbandingan before - after
pemakaian sunscreen on bare face


Don't skip reading this!!
Shake well before use.
 Pull hair back, close your eyes and tuck in lips. 
Apply liberally - spray 7-8 pumps onto your face from 20 cm (8 inches) away. 
Keep your eyes closed for about 5 seconds after application. Etc...

Petunjuk di atas wajib dibaca dan dipatuhi. Do not intentionally inhale. This is no joke, seriously. Meski udah tahan napas dan tutup lubang hidung sewaktu semprot-semprot, terkadang ada sedikit yang menyerempet masuk. Rasanya pedih menusuk-nusuk. Gak kebayang kaya apa kalau sampai terhirup.

Perkara pedas di mata... It's true, teman-teman.
Saya sudah patuh loh, menyemprotkan produk ini sambil merem. Tapi rasa pedas yang dimaksud bisa mendadak muncul sewaktu-waktu selama pemakaian, misal pas keringetan, terbawa tetesan air wudhu, atau apply ulang tanpa membasuh wajah terlebih dahulu. Yang terakhir ini asli bikin pedes bangeett. Saya waktu itu pas lagi di jalan, gak sempet kan cuci muka, trus main semprot ulang aja. Gak lama kemudian sekitar mata berasa panas dan pedas, kaya lagi ngiris bawang merah. Mata sampai harus dikerjap-kerjapkan terus supaya keluar air. Saya cepat-cepat pulang dan membersihkan muka. Langsung legaa..... Gak lagi-lagi deh 😒

Selain disemprot, bisa pakai cara lain gak sih?
Saya sempat mencoba cara lain. Jadi produknya disemprotin ke tangan trus diratain ke muka. Yaa semacam kalau pakai sunscreen pada lazimnya. Warna produknya sendiri berwarna bening dan ada sensasi dinginnya ketika menyentuh kulit telapak tangan (thanks to the alcohol ingredient). Ternyata bisa kok, meski mungkin jadi agak too much ya. Wanginya makin tajam dan tambah awet. Agak berat dan pedes juga di mata, secara saya aplikasikan juga di undereye, tempat signs of aging terparah di muka saya. Ada kantong mata, cekungan, lingkaran hitam, kerutan, dan segala macam signs of aging, you name it lah. Makanya saya selalu oleskan sunscreen di bagian itu biar gak makin parah akibat paparan sinar UV. Dengan sunscreen Emina selama ini sih gak pernah ada masalah.

"Wipe excess product from eyes and lips. Avoid eye area"
So, undereye? It's a BIG NO *sigh

Klaim vegan dan cruelty free serta slogan-slogan yang sifatnya environmentally friendly ternyata bukan jaminan produk yang ramah bagi pengguna. Coba deh cek lagi daftar ingredients di atas. Alkohol ada di urutan pertama which means merupakan komponen yang terbanyak. Selain itu, berdasar tabel analisa COSDNA, ada empat macam bahan lain yang berfungsi sebagai fragrance.

Personal opinion, saya beneran ngerasa ini ga enak banget dipakai. Yah jujur, sangat jarang bisa berjodoh dengan skincare line TBS. Cuman entah kenapa tiap lihat produknya selalu ngiler, selalu ngarep semoga kali ini cocok, kemudian kumat impulse buyingnya πŸ˜… So this is not the first time in my life meski sebelumnya gak pernah separah ini. 

Final verdict, yay or nay?
It’s a nay, obviously. Sorry, TBS.


Monday, May 25, 2020

More Review & Swatch: Miranda Permanent Hair Color MC-16 (Eksperimen Lanjutan)

Semenjak memposting tulisan ini, saya jadi tahu ternyata Miranda Ash Blonde MC-16 banyak peminatnya karena pada kepingin punya rambut warna ash blonde dan abu-abu (kaya uban hihihi). Saya akhirnya ikutan penasaran, gimana sih hasilnya kalau pakai cat ini plek ketiplek sesuai petunjuk manualnya. Beneran jadi ash blonde, atau jadi abu-abu kaya yang di gambar kotaknya, atau warna lainnya?

Untuk eksperimen kali ini, saya menggunakan sampel rambut, bukan langsung ke rambut yang nempel di kepala. Tapi masih rambut sendiri sih. Beberapa waktu yang lalu saya mulai bosan dengan warna rambut saya karena bagian pangkalnya udah mulai panjang, harus retouch. Tapi males, karena warna rambut saya didapat dari proses highlight pakai foil, retouchnya ga bisa sembarangan, butuh ada yang bantuin. Kedapetan ide mau diapain tapi harus nunggu sampai jadi virgin dulu semua. Iseng-iseng rambut saya potongin, khusus sepanjang yang warnanya udah bule. Trus pikir saya, kayanya bisa nih buat bikin eksperimen warna. Dan setelah lebih dari setengah tahun dianggurin akhirnya baru dieksekusi sekarang haha....

Sampel rambut 'before' yang digunakan pernah dibleaching satu kali. Pakai Joico Creme Lightener dan krim developer 20vol merk Alfaparf, bisa mencapai level 7-8 dari kondisi virgin. Eksperimen ini memakai dua bundel sampel rambut. Sebelum diwarnai, salah satunya akan dibleaching lagi sampai level 9-10, sementara yang satunya dibiarkan apa adanya. Tujuannya adalah mau lihat gimana hasilnya terhadap level rambut yang berbeda. Harapannya dengan ini jadi bisa menjawab satu pertanyaan umum yang sering muncul: kalau mau berhasil pakai Miranda Ash Blonde memangnya harus bleaching dulu ya?

Rambut before, level 7-8

Bahan bleaching

Sudah bleaching, siap diwarnai

Proses pewarnaan
Miranda Ash Blonde

Hasilnya:
Pewarnaan pertama
Pada rambut level 9-10, hasilnya pirang dan gak ada ashy-ashynya sama sekali. Bahkan menurut saya jadi bener-bener murni level 10, kuning pucat dan jernih. Yang jelas perlu dicatat, hasil warna ini meleset jauh dari yang ditampilin di boksnya. Ash blonde bukan, abu-abu juga bukan. Fail πŸ‘ŽTapi yang menarik, pada rambut yang level 7-8 warnanya jadi jauh lebih terang semacam level 8-9, kaya habis bleaching. Wah kadar amonia dan level krim developernya pasti cukup tinggi nih.


Miranda Ash Blonde
Foto after, di bawah pencahayaan yang berbeda-beda
Gak terlihat ashy sama sekali kan..

Pewarnaan ke dua
Jujur hasil pewarnaan pertama di atas bikin ngganjel di pikiran. Dulu saya berhasil menghasilkan warna keabu-abuan pakai Miranda Ash Blonde, yang ini kok fail. Apakah mungkin karena faktor krim developernya? Waktu itu saya memang pakai krim developer merk lain sih. Untuk menuruti rasa penasaran ini, saya mengulang langkah pewarnaan seperti di atas terhadap kedua sampel rambut yang sama. Timpa aja pokoknya. Bedanya kali ini saya mengurangi takaran krim developer menjadi setengahnya dan menambahkan conditioner bawaan Miranda dengan jumlah yang sama. Jika digabung dengan krim pewarnanya, maka komposisi total campuran antara krim pewarna dengan krim developer dan conditioner kurang lebih adalah 2:1:1. Tujuan penambahan conditioner ini adalah untuk menurunkan kekuatan developer menjadi setengahnya.


Miranda Ash Blonde
Foto after
Final result, dengan pencahayaan yang berbeda-beda

Voila, it’s ashy, gaess. Very subtle pada rambut level 9-10,  but it has obviously grey tinge. Sementara pada rambut level 7-8 yang sudah  berubah jadi seperti level 8-9 hasilnya menggelap, dari blonde jadi light brown. Jujur saya agak bingung juga dengan efek yang terjadi pada sampel rambut yang satunya ini. Kenapa malah yang muncul warna coklat yaa?

Tapi kalau melihat hasil pewarnaan ke dua ini, dugaan awal saya sepertinya tepat. Krim developer bawaan Miranda cukup kuat sementara pigmen warna di krim catnya tidak bisa mengimbangi. Mengingat saya pernah memperoleh warna abu yang lebih gelap lagi dengan krim developer 10 vol pada eksperimen terdahulu, besar kemungkinan krim developer bawaan Miranda ini lebih tinggi dari 20 vol.

Kesimpulan
Miranda MC-16 Ash Blonde sifatnya mirip highlift, bisa menaikkan warna rambut sampai beberapa level. Jika ingin mendapat hasil ash blonde, sebaiknya krim developernya diturunkan agar pigmen warnanya gak kalah. Salah satunya bisa dengan cara memasukkan conditioner dengan ratio 1:1. Krim developer campuran ini nanti total takarannya harus disesuaikan dengan kebutuhan krim pewarnanya. Cara lainnya, pakai krim developer merk lain yang ada label keterangan % atau volumenya sehingga hasilnya lebih bisa diprediksi. FYI dengan krim developer 10 vol, warna abu-abunya bisa lebih keluar. Yang perlu dicatat, Miranda Ash Blonde ini hasilnya cenderung agak kehijauan. Kalau mengharapkan warna abu-abu murni, saya lebih merekomendasikan memakai campuran antara Miranda MC-2 (biru) dan MC-13 (ungu). But beware, kedua warna tersebut sangat pigmented (seperti contoh di sini).

Satu catatan lagi, untuk mendapatkan hasil warna abu-abu, harus bleaching sampai level 9-10, warna kuning terang. Di bawah itu, warnanya sepertinya jadi kecokelatan. Saya gak tahu kenapa bisa begitu, karena ini kejadian juga di tulisan terdahulu. Tapi kalau mau diambil sisi positifnya, Miranda MC-16 Ash Blonde boleh nih dicoba sebagai alternatif pilihan buat yang mencari hasil warna rambut light brown.


Sudah siap mencoba? πŸ˜‰


Wednesday, March 11, 2020

Review: Revlon Nail Enamel Shade 128 Slate, 041 Granite, & 161 Teak Rose



Kuteks favorit saya sebetulnya adalah Nail Vita dari Skinfood. Kualitasnya oke dan harganya cukup affordable. Pengaplikasiannya yang smooth, effortless, mistake-proof dengan hasil yang langsung opaque in only one thin coat membuat seorang amatir sekalipun bisa menghasilkan karya rapi bak seorang pro. Saya masih menyimpan satu warna as my-go-to nail polish, dibeli dari Korea via Ebay sekitar 5 tahun lalu dan kondisinya masih bagus hingga tulisan ini diposting.

Tapi namanya cewek ya, suka penasaran juga sama brand lain. Suatu ketika dapet kesempatan nyobain kuteks Revlon varian Colorstay Longwear Nail Enamel shade Indigo Night, ternyata enak banget. Teksturnya mudah diblend dan sangat pigmented. Warnanya langsung jadi pada polesan pertama. Kuasnya juga nyaman sehingga hasil polesnya jadi rapi. Sayangnya line ini varian warnanya terlalu bold buat selera saya, berasa kaya tante-tante (padahal emang udah tante-tante *dilempar*), plus udah discontinued *sigh*. Tapi karena masih penasaran sama brand Revlon saya memutuskan untuk mencoba line nail enamelnya yang reguler.

Ini fotonya a bit too warm dibanding aslinya.



Ini kayanya warna sejuta umat. Nyari-nyari review di internet, umumnya swatch yang ada ya seputar shade ini aja. Untuk shade Teak Rose, warnanya pink manis tapi gak gonjreng. Muted pink mungkin cocok untuk menggambarkannya dalam kata-kata. Sementara shade Granite dan Slate basic warnanya coklat, semacam dark nude. Slate cenderung yellowish mirip warna permen karamel. Granite warnanya pinkish brown, atau brownish pink yaa? Bingung juga. Lumayan susah mengcapture warna riil dari Granite ini.  Sekilas mirip susu mocca kalau di tempat gelap. Tapi di bawah pencahayaan yang banyak, tone pinknya keluar banget. Warnanya jadi semacam dark mauve. Saya sebetulnya paling suka Teak Rose karena warnanya syantiiik. Tapi yang terlihat flattering buat kulit saya malah Slate. Warnanya cukup kalem dan natural, bisa jadi andalan kalau pas butuh tampil gak mencolok semacam undangan acara di sekolah anak.

Revlon Nail Enamel teksturnya agak creamy dan saya biasanya lemah pakai kuteks jenis ini. Meski cukup pigmented, susah diratain karena kuasnya pun kurang luwes, susah megar. Pakainya harus hati-hati sekali. Apalagi saya tipe yang tangannya gampang goyang, rawan mbleber sana sini. Awal-awal nyobain, saya gak suka karena hasilnya kurang rapi. Akibat warna yang susah rata, harus dipoles sampai tiga layer. Jadi tebal, jelek dan pinggirannya kurang rapi.

Sempat nyerah, kuteks dianggurin 1-2 minggu dan saya pun menyusun tulisan negative review tentang Revlon Nail Enamel hahaha. Tapi suatu hari entah kenapa penasaran kepingin nyoba lagi. Ehh saya malah nemu trik aplikasi yang lumayan fail proof. Jadi caranya, ambil produk agak banyak dalam satu kali celup, kumpulkan secara merata di pangkal kuku, lalu tarik pelan-pelan dalam tiga sapuan ringan (jangan ditekan) membentuk garis lurus ke arah ujung kuku dengan urutan: tepi, tepi, tengah. Agak tricky juga ngira-ngira ambilnya, kebanyakan dikit bisa jadi mbleber, sementara kalau kurang warnanya jadi gak rata. Tapi kalau berhasil, sekali poles aja langsung jadi. Dan untuk ukuran kuteks creamy, keringnya si Revlon ini di kuku relatif sangat cepat. Sekali kering, dia langsung padat dan glossy, tanpa top coat sekalipun. Dipakai buat tidur, ketindih kegores-gores sprei dan sarung bantal gak ngecap. Hasilnya, saya pun sukses bikin full swatch ketiga shade tersebut seperti di bawah ini.

Swatch Revlon Enamel Teak Rose

Swatch Revlon Nail Enamel Slate

Swatch Revlon Nail Enamel Granite

Sayangnya, ada satu hal yang kurang oke dari pengalaman pakai Revlon Nail Enamel. It has bubble issue, suka muncul gelembung kecil-kecil yang mana munculnya tak terduga. Jadi setelah selesai  poles-poles dan udah rata, nanti tiba-tiba muncul titik-titik gelembung udara. Gelembung-gelembung ini munculnya tak terduga, kadang langsung muncul, kadang muncul tapi samar sekali, kadang mulus-mulus aja. Tapi yang paling parah adalah sewaktu saya pakai shade Granite untuk keperluan swatch di blog ini, gelembungnya muncul belakangan dan banyak pula. Kebetulan saya kelupaan pakai base coat saking semangatnya, bisa jadi itulah penyebabnya karena sewaktu pakai base coat gak separah ini. Foto swatch di atas dan di bawah diambil dalam kurun waktu yang berbeda. Foto di atas adalah sesaat setelah kering, sementara yang di bawah adalah sekitar dua jam setelahnya. Foto di atas kukunya keliatan mulus ya, tapi yang di bawah jadi bruntusan kaya muka jerawatan.   


Keliatan gak 'jerawatnya'?

Saya coba googling sana sini, rupanya salah satu penyebab munculnya gelembung itu karena pengocokan botol kuteks yang berlebih sebelum pemakaian. Akibatnya udara akan terperangkap di dalam cairan kuteks, membentuk gelembung, dan perlahan-lahan naik ke permukaan, meski sudah dipoles di kuku sekalipun. Hmmm iya sih, saya memang kebiasaan ngeblend cairan kuteks dengan cara mengocok penuh semangat. Tapi tapi tapi... pakai kuteks lain kok enggak πŸ˜• Yah bisa jadi karena cuma kuteks Revlon ini yang saya polesnya tebal-tebal, sementara kuteks lain cenderung poles tipis-tipis aja. Habis gimana lagi, saya gak bisa menghasilkan warna kuku yang rapi dengan cara lain.

Final verdict
Pros:
- harga cukup affordable
- pilihan warna sangat banyak
- relatif cepat kering dan padat (gak gampang kegores)

Cons:
- pengaplikasian agak tricky
- suka muncul gelembung udara yang tak terduga

Will I repurchase?
Not quite sure. Mungkin yang berikutnya nyoba peruntungan dengan kuteks Revlon yang varian Colorstay Longwear Gel Envy aja.


[Part 2] Skin Journal, A New Journey - [Review] Laneige Clear-C Advanced Effector EX

Saya menulis part 1-nya ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Dan habis itu lama banget ninggalin janji bikin part 2 yang tak kunjung te...